Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Gizi Nasional belum lama ini menyampaikan bahwa anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tahun 2026 berkurang dari pagu awal senilai Rp 268 triliun menjadi Rp 228,3 triliun.
Ini dilakukan pemerintah dalam rangka penajaman anggaran atau upaya refocusing.
Dalam proses refocusing program, BGN mempertimbangkan sejumlah indikator utama, antara lain ketahanan gizi, kondisi sosial ekonomi, serta akses masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan gizi.
Sejumlah indikator tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas penerima manfaat agar intervensi pemerintah lebih tepat sasaran.
Lantas, seberapa besar efek dari refocusing anggaran ini terhadap kinerja emiten khususnya di sektor peternakan hingga konsumer?
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham CTRA, ASII, BBRI untuk Selasa (23/6)
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan refocusing anggaran MBG berpotensi menurunkan ekspektasi tambahan permintaan ke sektor consumer dan poultry, tetapi dampaknya lebih ke sisi sentimen dan proyeksi pertumbuhan, bukan langsung menekan fundamental seluruh emiten.
"Artinya, pasar kemungkinan akan menyesuaikan ulang asumsi atas potensi kontribusi MBG terhadap penjualan emiten yang sebelumnya dianggap sebagai beneficiary utama program ini," kata Elandry kepada Kontan, Senin (22/6/2026).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang juga menerangkan dampak refocusing cenderung lebih bersifat moderat dibanding material.
Meskipun terjadi penyesuaian anggaran dari Rp 268 triliun menjadi Rp 228,38 triliun, nominal tersebut masih tergolong sangat besar dan tetap menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjalankan Program MBG.
Namun, faktor yang perlu diperhatikan ialah pasar selama ini lebih banyak memperdagangkan ekspektasi terhadap potensi manfaat MBG dibanding kontribusi riil yang sudah tercermin dalam laba emiten.
Baca Juga: Harga Livebird Bisa Jadi Katalis, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham CPIN
"Oleh karena itu, penyesuaian anggaran berpotensi menurunkan ekspektasi pertumbuhan yang terlalu agresif, tetapi belum tentu mengubah prospek fundamental secara signifikan," ujar Alrich.
Bagi sektor poultry, program MBG tetap berpotensi menjadi sumber permintaan baru untuk protein hewani seperti ayam dan telur.
Hanya saja, dengan anggaran yang lebih selektif, potensi peningkatan volume mungkin tidak sebesar yang sebelumnya diperkirakan pasar.
Sementara pada sektor konsumer, dampaknya relatif lebih terbatas karena kinerja emiten masih lebih banyak ditentukan oleh daya beli masyarakat, inflasi pangan, dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara umum dibanding hanya bergantung pada MBG.
Adapun Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan anggaran MBG berpotensi mengurangi ekspektasi tambahan permintaan pangan, khususnya ayam dan telur.
"Namun, dampaknya terhadap kinerja emiten diperkirakan masih terbatas karena kontribusi program MBG terhadap pendapatan emiten saat ini belum material," tambahnya.
Baca Juga: GOTO dan NCKL Keluar dari Indeks FTSE, Saham Berpotensi Tertekan, Ini Kata Analis
Fundamental sektor poultry tetap lebih dipengaruhi oleh harga ayam, keseimbangan supply-demand, dan biaya pakan.
Investor tidak perlu bereaksi berlebihan karena sentimen ini lebih mengurangi potensi pertumbuhan tambahan dibandingkan memengaruhi fundamental saat ini.
Emiten Terdampak
Elandry menerangkan emiten yang paling sensitif adalah perusahaan yang punya keterkaitan langsung dengan pasokan protein hewani dan makanan olahan, seperti CPIN, JPFA, CMRY, hingga ICBP.
Sebab, saham-saham ini sebelumnya cukup lekat dengan narasi MBG sebagai sumber incremental demand, sehingga ketika anggaran dipangkas, ekspektasi pasar terhadap potensi volume juga ikut lebih moderat.
Bagi investor, Elandry bilang sentimen ini sebaiknya disikapi secara selektif dan tidak perlu diartikan negatif untuk seluruh sektor.
Fokusnya tetap pada emiten dengan fundamental kuat, market share besar, dan bisnis inti yang tetap solid meski kontribusi MBG nantinya tidak sebesar perkiraan awal.
Baca Juga: Gelar RUPSLB, Puri Sentul Permai (KDTN) Rombak Jajaran Pengurus
Alrich turut menuturkan emiten yang paling sensitif terhadap perkembangan MBG adalah perusahaan yang memiliki keterkaitan langsung dengan pasokan bahan pangan dan protein.
Dari sektor poultry, beberapa yang dapat dicermati antara lain CPIN, JPFA, MAIN.
Pasalnya, ketiganya memiliki eksposur besar pada produksi ayam dan produk turunannya yang berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok program MBG.
Selain itu terdapat ULTJ dan CMRY yang memiliki eksposur pada produk susu dan nutrisi apabila pemerintah memperluas variasi menu program.
Sementara dari sektor konsumer secara umum, dampaknya cenderung tidak langsung sehingga pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan kemungkinan lebih kecil dibanding emiten poultry.
Investor tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap penyesuaian anggaran ini. Pasar perlu membedakan antara pengurangan ekspektasi pertumbuhan dan penurunan fundamental bisnis.
Saat ini yang terjadi lebih mendekati penyesuaian ekspektasi dibanding perubahan fundamental.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham MIDI, MAPA, MAPI dan ACES untuk Perdagangan Senin (22/6)
Dus, investor sebaiknya tetap fokus pada pertumbuhan volume penjualan, margin keuntungan, harga bahan baku, dan efisiensi operasional perusahaan.
Karena faktor-faktor tersebut masih akan menjadi penentu utama kinerja emiten dibanding perubahan anggaran MBG semata.
Dalam jangka pendek sentimen ini berpotensi memicu profit taking pada saham-saham yang sebelumnya naik karena tema MBG. Namun dalam jangka menengah, pasar akan kembali fokus pada realisasi kinerja keuangan masing-masing emiten.
Rekomendasi Saham Pilihan
Untuk saham pilihan, Elandry cenderung tetap memilih emiten yang tidak hanya bergantung pada MBG, tetapi punya fondasi bisnis yang kuat walaupun program ini direvisi.
Di sektor poultry, Elandry masih relatif positif pada JPFA dan CPIN karena secara operasional keduanya tetap menjadi proxy utama sektor protein hewani, meski sentimen jangka pendek bisa fluktuatif.
Sementara untuk konsumen, Elandry lebih memilih pada ICBP dan INDF karena basis memiliki basis permintaan luas, defensif, dan tidak bergantung pada satu program pemerintah.
Baca Juga: Potensi Kenaikan Harga Pakan, Simak Rekomendasi Saham Charoen Pokphand (CPIN)
Lalu, apabila investor ingin exposure ke sektor dairy atau protein dengan risiko lebih tinggi namun growth story masih menarik, CMRY juga masih layak dicermati, hanya saja volatilitas sentimennya biasanya lebih besar.
Secara indikatif untuk 12 bulan ke depan, Elandry melihat target harga JPFA di kisaran Rp 2.200–Rp 2.500, CPIN Rp 4.000–Rp 4.250, ICBP Rp 7.200–Rp 8.000, INDF Rp 7.200–Rp 7.500, dan CMRY Rp 5.000–Rp 5.200, dengan catatan realisasi MBG, konsumsi domestik, serta margin bahan baku tetap terjaga.
"Untuk investor, pendekatannya lebih cocok accumulate on pullback ketimbang mengejar momentum, karena sentimen refocusing ini masih bisa menjaga volatilitas sektor dalam jangka pendek," jelas Elandry.
Adapun Alrich merekomendasikan buy on support JPFA di level entry sekitar Rp 1.800, target harga Rp 2.100 dan stoplos di bawah Rp 1.750 per saham. CPIN juga disarankan buy on support pada level entry berkisar Rp 3.100, target harga Rp 3.600 dan stoploss di bawah Rp 3.000 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














