Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aluminium global melonjak setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan logam industri.
Melansir Reuters, harga aluminium mencapai US$ 3.296 per metrik ton pada Kamis (5/3/2026), naik 5% sejak eskalasi konflik AS–Iran pada 28 Februari 2026 dan membawa penguatan seccara tahun berjalan menjadi 10%.
Mengutip data Trading Economics, harga aluminium pada Jumat (6/3/2026) pukul 19.00 WIB naik lagi 1,72% ke level US$ 3.337 per metrik ton.
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan secara teknikal aluminium sedang berada dalam fase uptrend yang kuat.
Baca Juga: Cermati Proyeksi Rupiah untuk Pekan Depan Usai Ambles 0,82% di Pekan Ini
"Kenaikannya terlihat lebih curam dibandingkan logam lainnya, kemungkinan dipicu oleh sensitivitas tinggi terhadap biaya energi global," kata Wahyu kepada Kontan pada Jumat (06/03/2026).
Wahyu memprediksi harga aluminium di semester I 2026 akan berada di rentang resistance sebesar US$ 3.420 per metrik ton.
Menurut Wahyu, apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas level ini, momentum bullish akan semakin kuat.
Sedangkan, proyeksi Wahyu level support US$ 3.150 per metrik ton. Level ini merupakan titik terendah terdekat yang berfungsi sebagai penahan jika terjadi koreksi jangka pendek. Selama harga berada di atas level ini, tren masih dianggap sangat kuat.
Jika level itu dapat ditembus, maka support dan resisten berikutnya adalah US$ 2.950 dan US$ 3.600 per metrik ton
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai pergerakan harga aluminium pada semester I tahun 2026 cenderung lebih agresif dibandingkan tembaga yang bergerak stabil atau nikel yang relatif tertekan oleh melimpahnya pasokan domestik Indonesia.
Baca Juga: Ketidakpastian Geopolitik Bikin Investor Alihkan Dana THR ke Instrumen Aman
Sutopo memproyeksi harga aluminium tetap bertengger di level tinggi, yakni kisaran US$ 3.200 hingga US $ 3.400 per metrik ton selama risiko geopolitik di Selat Hormuz belum mereda dan krisis energi di Eropa tetap membayangi biaya produksi.
Meskipun potensi koreksi teknis tetap ada di pengujung kuartal kedua seiring dengan adaptasi pasar terhadap rantai pasok baru, fundamental aluminium tetap kuat karena posisinya sebagai material kunci dalam transisi energi yang suplainya saat ini berada pada titik nadir historis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













