kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.024.000   -25.000   -0,82%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

Harga Aluminium Melonjak, Industri Otomotif hingga FMCG Berpotensi Tertekan


Jumat, 06 Maret 2026 / 16:14 WIB
Harga Aluminium Melonjak, Industri Otomotif hingga FMCG Berpotensi Tertekan


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar komoditas global, termasuk aluminium.​

Melansir Reuters, harga aluminium mencapai US$3.296 per metrik ton pada Kamis (5/3/2026), naik 5% sejak eskalasi konflik AS, Israel–Iran pada 28 Februari 2026 dan membawa penguatan sepanjang 2026 menjadi 10%. 

Mengutip data Trading Economics, harga aluminium pada Jumat (6/3/2026) pukul 15.55 WIB naik lagi 1,8% ke level US$ 3.339 per metrik ton.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan kenaikan harga logan sebaguna itu akan berdampak pada industri otomotif, dirgantara, barang konsumsi Fast Moving Consumer Goods (FMCG).

Baca Juga: IHSG Anjlok 1,62% ke 7.585, Top Losers LQ45: INKP, BRPT dan EMTK, Jumat (6/3)

"Dalam manufaktur kendaraan listrik (EV), aluminium adalah komponen krusial untuk struktur ringan demi efisiensi baterai sehingga kenaikan harga bahan baku ini secara langsung mengancam margin keuntungan produsen yang sudah kompetitif," kata Sutopo kepada Kontan, Jumat (06/03/2026)

Menurut Sutopo, industri penerbangan memiliki ketergantungan absolut pada aluminium berkekuatan tinggi yang sulit tergantikan karena adanya standar keamanan. 

Pada industri barang konsumsi (FMCG), kenaikan harga aluminium akan menghadapi tekanan pada biaya produksi kaleng minuman dan kemasan foil yang volumenya sangat besar, tetapi memiliki margin rendah.

Senada dengan Sutopo, Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menambahkan industri konstruksi yang menjadikan aluminium sebagai bahan kusen jendela, pintu, dan struktur fasad bangunan akan terdampak jika harga aluminium naik. 

Namun, kata Wahyu, industri konstruksi merupakan proyek jangka panjang yang biasanya memiliki kontrak harga tetap. 

Wahyu menjelaskan harga aluminium yang naik kemungkinan besar akan memicu inflasi di tingkat konsumen yang membeli produk akhir dari industri tersebut.

Namun, terdapat jeda waktu (time lag) karena perusahaan manufaktur biasanya menggunakan kontrak hedging (lindung nilai) untuk mengunci harga selama 3 bulan–6 bulan ke depan. 

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 16.925 Tertekan Sentimen Global, Cek Proyeksi Pekan Depan

Jika harga aluminium tetap tinggi di atas US$ 3.200 per meter ton dalam waktu lama, produsen akan mulai melakukan price adjustment ke konsumen untuk menjaga margin keuntungan mereka.

"Contoh sederhananya: Harga minuman kaleng atau suku cadang kendaraan kemungkinan akan mengalami penyesuaian harga di kuartal berikutnya," tutup Wahyu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×