kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

Wall Street Jatuh Lebih dari 1% Rabu (10//6), Tertekan Saham Teknologi & Konflik Iran


Kamis, 11 Juni 2026 / 05:19 WIB
Wall Street Jatuh Lebih dari 1% Rabu (10//6), Tertekan Saham Teknologi & Konflik Iran
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Andrew Kelly)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada perdagangan Rabu (10/6/2026), tertekan aksi jual saham teknologi serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik antara AS dan Iran.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 953,33 poin atau 1,87% ke level 49.918,78. Indeks S&P 500 merosot 119,66 poin atau 1,62% ke 7.266,99, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 509,32 poin atau 1,98% menjadi 25.169,50.

Baca Juga: Harga Saham Anjlok 25%, Saham BUMN Tambang (ANTM) Beri Dividen Jumbo Rp 5 Triliun

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi dan semikonduktor. Indeks saham semikonduktor turun 3,6%, dengan saham Nvidia dan Broadcom menjadi salah satu pemberat utama bagi S&P 500.

Penurunan tersebut memperpanjang koreksi sektor teknologi. S&P 500 sektor teknologi kini telah turun sekitar 11% dari rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada 2 Juni lalu, sehingga secara teknikal masuk ke wilayah koreksi.

Selain aksi ambil untung pada saham teknologi yang sebelumnya melonjak tinggi, sentimen pasar juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya akan kembali menyerang Iran apabila kesepakatan damai tidak tercapai.

Baca Juga: Empat Saham Ini Banyak Diborong Asing Saat IHSG Menguat 2,71% ke 5.902, Rabu (10/6)

Pernyataan tersebut muncul setelah salah satu eskalasi terbesar dalam dua bulan terakhir terjadi dalam konflik yang melibatkan AS dan Iran.

“Investor masih melakukan aksi ambil untung di sektor teknologi. Selain itu, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi setelah data ekonomi terbaru, ditambah kekhawatiran terkait perang yang berpotensi berlanjut hingga musim panas,” ujar Investment Strategist U.S. Bank Wealth Management, Tom Hainlin.

Indeks Volatilitas CBOE (VIX) atau yang dikenal sebagai indikator ketakutan Wall Street juga melanjutkan kenaikannya seiring meningkatnya ketidakpastian pasar.

Sektor industri menjadi sektor dengan kinerja terburuk setelah turun 3,4%. Pelemahan dipicu penurunan saham perusahaan logistik seperti XPO, J.B. Hunt, dan Old Dominion setelah Amazon mengumumkan ekspansi layanan angkutan barang less-than-truckload (LTL) di Amerika Serikat.

Dari sisi makroekonomi, investor juga mencermati data inflasi AS. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Mei 2026 tercatat naik 4,2% secara tahunan, menjadi kenaikan terbesar sejak April 2023. Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor pendorong inflasi.

Baca Juga: Perluas Basis Konsumen, Indodax Jalin Kerjasama dengan Anak Usaha InJourney

Meski angka tersebut sesuai ekspektasi pasar, pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.

Namun, The Fed masih diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan bulan Juni.

Di sisi korporasi, saham Super Micro Computer anjlok 28% setelah perusahaan mengumumkan rencana penghimpunan dana senilai US$ 7 miliar melalui penerbitan saham dan instrumen terkait saham untuk mendukung kebutuhan komponen server kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, saham Oracle turun sekitar 1% pada perdagangan setelah penutupan pasar menyusul publikasi laporan keuangan terbarunya.

Analis menilai rotasi dana keluar dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar mulai mengalir ke sektor yang sebelumnya tertinggal, seperti kesehatan, properti, dan barang konsumsi primer.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×