kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.451   73,00   0,45%
  • IDX 7.875   -77,39   -0,97%
  • KOMPAS100 1.097   -9,61   -0,87%
  • LQ45 804   -7,12   -0,88%
  • ISSI 266   -2,05   -0,77%
  • IDX30 417   -4,16   -0,99%
  • IDXHIDIV20 484   -3,88   -0,79%
  • IDX80 121   -1,29   -1,05%
  • IDXV30 130   -1,92   -1,45%
  • IDXQ30 135   -1,11   -0,82%

Cek Rekomendasi Saham Vale Indonesia (INCO) Usai Danantara Masuk Proyek Smelter HPAL


Jumat, 29 Agustus 2025 / 08:11 WIB
Cek Rekomendasi Saham Vale Indonesia (INCO) Usai Danantara Masuk Proyek Smelter HPAL
ILUSTRASI. Analis memberikan rekomendasi saham untuk Vale Indonesia (INCO) setelah Danantara mengatakan masuk ke proyek smelter HPAL


Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masuknya Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai salah satu investor di proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dapat menjadi berkah bagi emiten produsen nikel tersebut.

Dalam berita sebelumnya, Danantara melalui divisi investasinya, Danantara Investment Management, turut menggandeng GEM Co Ltd asal China untuk melakukan investasi pada smelter HPAL INCO yang memiliki nilai investasi sekitar US$ 1,42 miliar atau setara Rp 23,2 triliun.

Kerja sama ini ditandai dengan adanya penandatanganan Pokok Perjanjian (HoA) antara Danantara dan GEM Co Ltd pada Rabu (27/8) lalu.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyampaikan, dengan menggandeng korporasi global yang bergerak di sektor metalurgi hijau, Danantara berupaya memajukan agenda hilirisasi sekaligus keberlanjutan dan inovasi.

"Integrasi penelitian dan pengembangan, energi hijau, dan daur ulang siklus tertutup mencerminkan jenis proyek berdampak tinggi yang akan menciptakan nilai jangka panjang bagi Indonesia dan mitra investasi kami," ujar dia dalam keterangan tertulis, Rabu (27/8/2025).

Baca Juga: Pembiayaan Danantara Berpotensi Datangkan Investasi, Tapi Tergantung Faktor Penentu

Dalam catatan Kontan, INCO dan GEM Ltd berkongsi untuk membangun smelter HPAL Bahodopi. Sebelumnya, INCO menggandeng Zhejiang Huaoyou Cobalt Co dan Ford Motor Company untuk menggarap proyek Smelter HPAL Pomalaa. Zhejiang Huaoyou Cobalt Co juga menjadi mitra INCO dalam proyek smelter HPAL Sorowako.

Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan, keterlibatan Danantara sebagai investor proyek smelter HPAL menjadi sentimen positif bagi kelangsungan usaha INCO.

Sebab, INCO berpeluang mendapat jaminan dukungan politik dan regulasi dari Danantara sebagai perpanjangan tangan pemerintah agar proyek smelter tersebut tuntas. 

"Ini termasuk potensi percepatan perizinan, insentif fiskal, dan sinergi dengan proyek strategis nasional (PSN)," ujar dia, Kamis (28/8/2025).

Secara umum, langkah INCO yang berkomitmen mengembangkan smelter HPAL akan mendatangkan dampak positif secara jangka menengah dan panjang, mengingat perusahaan ini kelak dapat menghasilkan produk turunan nikel yang punya nilai tambah lebih.

Namun, untuk jangka pendek, kinerja INCO masih akan bergantung pada pergerakan harga nikel global yang cenderung melandai pada tahun ini. "Kenaikan biaya konstruksi dan masalah perizinan juga bisa jadi tantangan bagi kelangsungan proyek smelter INCO," tambah Wafi.

Wafi pun merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga di level Rp 4.200 per saham.

 

Sementara itu, dalam riset 20 Agustus 2025, Analis BRI Danareksa Sekuritas Erinda Krisnawan dan Naura Reyhan Muchlis mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga Rp 4.700 per saham. 

Katalis positif bagi INCO muncul seiring persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) berupa tambahan produksi bijih nikel saprolit sebesar 2,2 juta wet metrik ton (wmt). Hal ini membuat volume produksi bijih nikel saprolit INCO dari Blok Bahodopi akan terbagi rata pada kuartal III dan IV-2025 dengan perkiraan masing-masing 1--1,2 juta wmt per kuartal.

"Manajemen INCO mengindikasikan bahwa mereka telah mengunci harga premium untuk bijih tersebut di level US$ 25 per ton hingga Desember 2025, sehingga menghasilkan potensi peningkatan pendapatan sebesar US$ 56 juta pada semester II-25," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.

Selanjutnya: BEI Cabut Suspensi Tiga Saham Ini, Investor Perlu Jual atau Beli?

Menarik Dibaca: Rekomendasi 7 Film Trilogi Paling Populer Wajib Tonton

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×