Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi korporasi berupa penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement masih jadi andalan bagi emiten dalam menggalang dana untuk berbagai keperluan. Terbukti setidaknya dalam sebulan terakhir beberapa emiten aktif merancang aksi korporasi tersebut.
Terbaru, ada PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) yang berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 307,5 juta saham atau maksimal 10% dari jumlah seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam perusahaan.
Saham baru yang akan diterbitkan berupa saham atas nama dengan nilai nominal yang sama dengan saham VISI yang telah dikeluarkan, yakni Rp25 per saham.
Dana yang diperoleh dari private placement tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan serta mendukung pengembangan usaha VISI dan/atau entitas anak, salah satunya melalui penyertaan saham pada perusahaan di sektor kesehatan.
Selain itu, ada PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) yang akan menggelar private placement dan konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) dengan nilai total sekitar Rp4,17 triliun sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur permodalan dan menyelesaikan kewajiban utang perusahaan.
Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Masih Tertekan di Era Suku Bunga Tinggi
Berikutnya, ada PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT) yang menyiapkan private placement senilai Rp1,02 triliun yang bakal mengubah struktur kepemilikan emiten tersebut seiring masuknya PT Headwell Bintang Energi Hijau (HBEH) sebagai pengendali baru, sekaligus perubahan nama dan ekspansi ke bisnis yang baru.
PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) turut berencana melakukan private placement untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan sebanyak 640 juta saham atau 7,37% dari jumlah seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perusahaan. Harga pelaksanaan private placement ini yakni Rp500 per saham.
Aksi private placement juga akan dilakukan oleh PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) melalui penerbitan sebanyak 502,87 juta saham baru atau setara 10% dari saham ditempatkan dan disetor penuh dalam perusahaan. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan usaha dan modal kerja.
Ada pula PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang akhir Juli lalu berencana menggelar private placement dengan menerbitkan 271,51 juta saham baru. Seluruh dana yang diperoleh dari aksi private placement akan digunakan untuk mendukung kebutuhan perusahaan dan grup usaha.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, maraknya pelaksanaan private placement belakangan ini cukup mencerminkan adanya kebutuhan emiten untuk memperoleh dana secara cepat di tengah kebutuhan modal yang tinggi, baik untuk ekspansi, memperkuat neraca maupun restrukturisasi utang.
Bagi emiten dengan kondisi keuangan terbatas, private placement juga menjadi alternatif pendanaan ketika akses ke pinjaman atau penerbitan obligasi relatif mahal.
"Namun, maraknya aksi ini belum tentu menunjukkan animo pasar yang besar, karena private placement umumnya menyasar investor strategis atau pihak tertentu dan keberhasilannya sangat bergantung pada prospek serta kredibilitas emiten," ungkap dia, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga: Dolar Australia Diproyeksi Jadi Mata Uang Komoditas Terkuat hingga Akhir Tahun
Dampak private placement terhadap kondisi keuangan emiten di atas kertas cukup signifikan, mengingat tambahan modal dapat menurunkan leverage, memperbaiki ekuitas, dan memberi ruang bagi emiten untuk menjalankan ekspansi atau menyelesaikan kewajiban.
Walau begitu, dari sisi saham, investor perlu mewaspadai dilusi kepemilikan dan laba per saham (EPS) akibat bertambahnya jumlah saham beredar. "Risiko lainnya adalah harga pelaksanaan yang terlalu rendah, penggunaan dana yang tidak menghasilkan perbaikan kinerja, serta potensi tekanan harga apabila investor baru melakukan aksi jual setelah saham diterima," imbuh dia.
Senior Market Analyst Mirae Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, pada dasarnya investor perlu melihat siapa investor yang masuk, harga pelaksanaan, serta tujuan penggunaan dana private placement yang dilakukan sejumlah emiten akhir-akhir ini.
Jika private placement menghadirkan investor strategis yang mampu memperkuat permodalan, jaringan bisnis, dan prospek pertumbuhan emiten, respons pasar berpotensi positif. Sebaliknya, apabila aksi tersebut lebih mencerminkan tekanan likuiditas atau kebutuhan mendesak untuk menutup kewajiban, pasar justru dapat memberikan respons negatif.
"Oleh karena itu, keberhasilan private placement sangat bergantung pada transparansi, kualitas investor yang masuk, serta kemampuan manajemen mengalokasikan dana baru secara produktif," ungkap dia, Kamis (27/8/2026).
Nafan melanjutkan, aksi private placement masih berpotensi tetap ramai hingga akhir tahun, khususnya di kalangan emiten yang berada dalam fase ekspansi agresif, membutuhkan belanja modal besar, ingin memperkuat struktur permodalan, serta sedang menjalankan restrukturisasi dan deleveraging.
Baca Juga: Naik 45,8%, Bakrie & Brothers (BNBR) Raih Pendapatan Rp 2,59 Triliun di Semester I
Emiten yang memiliki proyek baru dengan kebutuhan investasi besar juga berpeluang memanfaatkan private placement, terutama jika sudah memiliki calon investor strategis.
Terlepas dari itu, Nafan menyarankan agar investor tidak serta-merta menganggap private placement sebagai katalis positif. Sebab, investor perlu mencermati tujuan penggunaan dana, rekam jejak investor yang masuk, hingga potensi perubahan pengendalian seiring pelaksanaan private placement.
Nafan pun menyarankan investor untuk wait and see saham VISI, WSBP, MKNT, HATM, BIPP, hingga RATU.
Sedangkan menurut Arinda, hal terpenting dilakukan investor ketika mengincar saham pelaksana private placement adalah melihat harga pelaksanaan, jumlah saham baru, identitas investor, tujuan penggunaan dana, potensi dilusi, serta dampak aksi korporasi ini terhadap peningkatan laba dan arus kas emiten pada masa depan.
Dari sekian emiten yang merancang private placement, Arinda menyarankan investor untuk mencermati saham RATU dengan target harga di level Rp4.910 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














