Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Premi risiko investasi Indonesia menurun. Berdasarkan data World Government Bonds, credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun di level 84,22. Level ini menurun dibanding posisinya pada 30 Juli 2026 yang di level 95,45.
Menurunnya CDS tersebut dibarengi dengan menguatnya nilai tukar rupiah di level Rp 17.693 per dolar AS per Jumat (28/8/2026) dan menurunnya yield SBN tenor 5 tahun ke kisaran 6,82%. Sehubungan dengan hal tersebut, investor diminta tetap melakukan diversifikasi aset di tengah risiko ketidakpastian global.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, sentimen investor membaik beberapa waktu terakhir ini karena pengumuman target defisit APBN yang menurun pada 2027.
Selain itu, dolar Amerika Serikat (AS) juga melemah akhir-akhir ini pasca pengumuman pemerintah AS yang melakukan buyback US Treasury yang meningkatkan kekhawatiran intervensi. Meski begitu, David bilang, masih belum ada garansi bahwa capital inflow ke SBN akan berlanjut hingga akhir tahun.
Baca Juga: Genjot Basis Investor, YB Sekuritas Siapkan Ekspansi Cabang
“Penguatan dolar melalui peningkatan Fed rate dan/atau kenaikan harga minyak berpotensi menekan rupiah dan memicu outflow asing. Bank Indonesia (BI) juga telat menurunkan yield SRBI untuk meningkatkan prospek pertumbuhan, tetapi berisiko menurunkan minat investasi asing,” jelas David kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).
Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet menambahkan, penurunan CDS lima tahun menunjukkan premi risiko gagal bayar Indonesia mulai menurun.
Ini sejalan dengan yield SBN yang turun dari puncak di atas 7,3% pada Juli ke sekitar 7%, bahkan sempat menyentuh 6,93%, serta menguatnya arus dana asing ke SBN pada pertengahan Agustus.
Namun, Yusuf bilang, perbaikan risiko investasi yang sudah bersifat struktural. Rupiah masih berada di kisaran Rp 17.700 per dolar AS dan secara historis masih cukup lemah, sementara IHSG juga masih sangat fluktuatif.
“Penurunan CDS lebih mencerminkan perbaikan persepsi risiko dalam jangka pendek, belum menunjukkan bahwa tekanan eksternal dan kebutuhan pembiayaan domestik sudah sepenuhnya mereda,” ujar Yusuf.
Yusuf mengatakan, sampai akhir tahun, arus modal asing ke SBN masih berpeluang berlanjut, terutama jika yield tetap menarik, BI mempertahankan suku bunga di 5,75 persen, dan tekanan dolar tidak terlalu kuat.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat Terbatas Pada Senin (31/8), Ini Penopangnya
Kepemilikan asing di SBN yang sudah mencapai sekitar Rp 909 triliun menunjukkan minat investor masih cukup baik. Namun, inflow ini tidak akan meningkat secara linear.
Yusuf menyebutkan, arus dana tetap sangat bergantung pada selisih imbal hasil dengan aset AS, kondisi lelang SBN, dan persepsi terhadap kebijakan fiskal. Jika The Fed lebih hawkish, dolar AS kembali menguat, atau harga minyak naik akibat ketegangan geopolitik, arus dana bisa dengan cepat berbalik.
Selanjutnya, Yusuf menjelaskan bahwa premi risiko Indonesia akan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, pasar akan mencermati arah kebijakan The Fed, pergerakan yield US Treasury, kekuatan dolar, dan harga energi.
Dari domestik, perhatian utama ada pada stabilitas rupiah, kredibilitas fiskal, kebutuhan pembiayaan APBN, inflasi yang terakhir berada di 2,88%, serta konsistensi BI dalam menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dengan kebutuhan mendorong pertumbuhan.
“Faktor politik dan sosial juga tidak bisa diabaikan karena bisa memengaruhi sentimen pasar dalam waktu sangat singkat. Ketika sentimen memburuk, CDS, yield SBN, dan rupiah biasanya ikut bergerak searah,” sebut Yusuf.
David menyebut, kelanjutan perang AS-Iran, laju Fed Rate ke depan, dampak dari 'Godzilla' El Nino dapat menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan untuk mencermati premi risiko investasi ke depannya.
“Mengingat masih berlangsungnya ketidakpastian global & domestik, investor dapat diversifikasi aset untuk mengurangi dampak ketidakpastian terhadap return portofolio,” ucap David.
Baca Juga: Sentimen Global dan Domestik Postif, Rupiah Siap Menguat pada Senin (31/8)
Sementara Yusuf melihat sikap yang bisa dilakukan investor adalah menambah eksposur secara bertahap, bukan masuk secara agresif. SBN tenor menengah masih menarik selama yield berada di atas 7%, tetapi durasi sebaiknya tetap dijaga agar risiko kenaikan yield tidak terlalu besar.
Di pasar saham, investor sebaiknya lebih selektif pada emiten dengan fundamental dan neraca yang kuat.
“Risiko rupiah juga masih perlu dilindungi karena volatilitasnya cukup tinggi,” ucapYusuf.
Yusuf menambahkan bahwa indikator yang penting untuk melihat apakah perbaikan ini mulai lebih solid adalah kemampuan nilai tukar rupiah bertahan di bawah Rp 17.700 per dolar AS secara konsisten, CDS tetap di bawah 90, dan arus asing ke SBN terus berlanjut secara stabil.
“Jika ketiganya mulai konsisten, kita bisa melihat perbaikan risiko investasi yang lebih fundamental, bukan sekadar perbaikan sentimen pasar,” pungkas Yusuf.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














