Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebutuhan infrastruktur cloud, kecerdasan buatan (AI), dan digitalisasi enterprise yang terus meningkat menjadi bahan bakar utama bagi pertumbuhan emiten data center di Indonesia. Tren ini menciptakan peluang ekspansi kapasitas secara masif sekaligus mendorong revaluasi harga saham para pemainnya hingga akhir tahun 2026.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta mencatat, total kapasitas terpasang IT data center di Indonesia mencapai sekitar 580 megawatt (MW) pada semester I-2026. Angka tersebut diproyeksikan melonjak hingga 3,5 gigawatt (GW) pada tahun 2030, atau mencerminkan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 56,7%.
Pendorong utamanya adalah tingginya kebutuhan infrastruktur AI yang padat GPU serta pemrosesan cloud. Selain itu, keterbatasan kapasitas di Singapura akibat rezim DC-CFA serta pembatasan daya di Johor, Malaysia, menjadikan Indonesia sebagai pusat limpahan permintaan regional.
Baca Juga: Prospek Pyridam Farma (PYFA) di Semester II-2026, Simak Rekomendasi Analis
Dalam peta persaingan domestik, Jakarta masih mendominasi dengan kapasitas terpasang 322 MW dan pipeline mencapai 1,7 GW. Sementara itu, Batam berkembang pesat sebagai pusat limpahan regional berbasis hyperscale dengan basis operasional 126 MW dan pipeline 1,4 GW.
Di antara emiten yang melantai di bursa, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memiliki lini bisnis data center melalui NeutraDC. Saat ini NeutraDC mengoperasikan kapasitas live IT sebesar 90,4 MW dan menargetkan ekspansi hingga 300 MW pada 2030.
Fasilitas utamanya tersebar di Cikarang, Batam, hingga Singapura. Kampus Cikarang 1 dirancang memiliki kapasitas 21,5 MW, sedangkan Kampus 2 disiapkan untuk menambah kapasitas hingga 120 MW. Kampus Batam berkapasitas 18 MW ditargetkan siap beroperasi tahun ini dengan penyewa utama Gorilla Technology.
Saat ini, TLKM sedang dalam proses divestasi 70% saham NeutraDC dengan kisaran nilai transaksi US$ 1,0–1,5 miliar. Langkah ini bertujuan untuk menggaet operator global demi memperkuat kapabilitas operasional dalam melayani penyewa skala besar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa potensi monetisasi NeutraDC menjadi katalis yang sangat dinantikan pasar.
"Dampak utama divestasi NeutraDC kemungkinan lebih besar terhadap rerating valuasi dan persepsi pasar dibandingkan terhadap lonjakan pendapatan langsung pada 2026," kata Nafan kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga: 3 Saham Data Center Pilihan Analis: Ada TLKM, ISAT dan DSSA
Ia menambahkan bahwa perbaikan bisnis inti, transformasi struktur perusahaan, serta potensi dividen turut menjadi pendorong kinerja TLKM. Menurutnya, apabila valuasi transaksi sesuai atau melampaui ekspektasi, TLKM berpotensi memperoleh katalis positif yang cukup material hingga akhir tahun. Nafan pun menempatkan TLKM sebagai pilihan paling menarik dari perspektif risk-adjusted return.
Sementara itu, eksposisi PT Indosat Tbk (ISAT) pada bisnis data center berjalan melalui dua entitas.
Entitas pertama adalah BDx Indonesia, tempat ISAT memegang 25% saham. BDx mengoperasikan kapasitas 30 MW yang tersebar di tiga kampus pusat data tepi (edge) serta 72 MW pusat data skala besar (hyperscale) di CGK4 Jatiluhur, dengan komitmen daya dari PLN mencapai 1,2 GW.
Entitas kedua adalah Zankore, joint venture Neocloud AI bersama Ooredoo, di mana ISAT berpotensi menguasai 30% saham. Proyek AI Factory Zankore tahap pertama berkapasitas 200 MW di Batang direncanakan mulai beroperasi pada semester I-2027 dan ditargetkan berkembang hingga 1 GW.
Kafi memproyeksikan bahwa kontribusi Zankore berpotensi memberikan kenaikan hingga 35% pada nilai ekuitas ISAT.
Nafan berpendapat bahwa strategi ekosistem AI dapat mengubah persepsi pasar terhadap ISAT secara fundamental. Strategi ini menggeser profil ISAT dari sekadar operator telekomunikasi menjadi penyedia GPU infrastructure, cloud, edge computing, dan layanan AI.
Meskipun kontribusi pendapatan Zankore pada 2026 diperkirakan belum signifikan, perkembangan kerja sama dan kontrak hyperscaler bisa menjadi katalis rerating. Oleh karena itu, ISAT dinilai memiliki potensi upside yang besar, namun cenderung sensitif terhadap eksekusi proyek.
Adapun PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengoperasikan 24 edge data center berkapasitas 10 MW melalui merek SM+. DSSA juga menggarap fasilitas hyperscale SMX01 di Jakarta melalui joint venture bersama LG senilai US$ 300 juta.
Fasilitas berstandar Tier IV tersebut dirancang untuk kebutuhan AI dengan teknologi pendingin cair (liquid-cooling). SMX01 ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV-2026 dengan kapasitas awal 18 MW yang dapat dikembangkan hingga 60 MW.
Analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo mengungkapkan bahwa transformasi DSSA menuju ekosistem teknologi dan telekomunikasi memperluas total pasar yang dapat disasar (TAM) grup menjadi sekitar US$ 76 miliar.
Integrasi ini dinilai dapat meningkatkan kualitas laba serta menghasilkan arus kas bebas yang lebih stabil.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menambahkan bahwa diferensiasi emiten data center terletak pada strategi fokusnya.
"TLKM lebih defensif dengan potensi re-rating dari monetisasi NeutraDC; ISAT berpotensi mendapat re-rating dari tema AI, meski kontribusi Zankore terhadap laba 2026 masih terbatas; DSSA menarik dari transformasi menuju digital infrastructure; sedangkan DCII memiliki pertumbuhan paling agresif, tetapi valuasinya juga sudah relatif premium," ujar Sukarno.
Sebagai pemain murni (pure-play) terbesar, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mengoperasikan kapasitas terpasang 132 MW di lima lokasi. Fasilitasnya mencakup H1 Cibitung berkapasitas 73 MW, H2 Karawang 27 MW, E1 Jakarta 19 MW, dan E2 Surabaya 9 MW.
Baca Juga: Pergerakan IHSG di September 2026 Berpotensi Loyo, Cek Rekomendasi Saham Pilihannya
Analis KB Valbury Sekuritas Atikah Tri Adriyanti memaparkan bahwa DCII memegang estimasi pangsa pasar 25,6% di Indonesia. Portofolio DCII juga diperkuat sertifikasi Tier IV Gold serta koneksi on-ramp langsung ke enam platform cloud global.
Untuk jangka panjang, DCII menyiapkan megaproyek Bintan Data Center Park berkapasitas hingga 1.000 MW di atas lahan 700 hektare. Dari sisi pendanaan, DCII baru saja mengamankan fasilitas pinjaman senilai Rp 17 triliun dari BCA.
Namun, Atikah mengingatkan bahwa saham DCII diperdagangkan pada valuasi premium dengan P/E 493,7x serta likuiditas transaksi yang relatif tipis.
Di jajaran emiten berkembang, PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) berencana mengubah bisnis inti menjadi penyedia data center. MGLV bersiap mengakuisisi dua aset Nextier berkapasitas total 96 MW, yakni MettaDC di Cikarang dan NGC di Batang. Rencana akuisisi dan belanja modal tersebut didukung oleh target rights issue hingga 285,7 juta saham baru.
Sementara itu, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) melalui anak usahanya mengoperasikan fasilitas JKT01 di Gedung Cyber 1 Jakarta. INET juga merencanakan pembangunan kawasan green data center seluas 180 hektare–200 hektare di Jatiluhur, Purwakarta.
Baca Juga: Cari Modal hingga Restrukturisasi, Emiten Ramai-Ramai Gelar Private Placement
Adapun PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melalui PT Multi Kontrol Nusantara telah mengakuisisi lahan seluas 1,67 hektare di Kalideres, Jakarta Barat, senilai Rp 500 miliar untuk pengembangan pusat data di dalam kota.
Untuk rekomendasi saham dan target harga, Nafan merekomendasikan TLKM add dengan target harga Rp 3.030 per saham. Sementara itu, Kafi menyarankan buy untuk saham ISAT dengan target harga Rp 3.430 per saham.
Adapun Sukarno menetapkan rekomendasi buy bagi saham DSSA dengan target harga Rp 1.500 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














