kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.973.000   129.000   4,54%
  • USD/IDR 16.807   4,00   0,02%
  • IDX 8.147   24,12   0,30%
  • KOMPAS100 1.146   9,03   0,79%
  • LQ45 833   9,07   1,10%
  • ISSI 287   -1,72   -0,60%
  • IDX30 433   3,38   0,79%
  • IDXHIDIV20 520   5,37   1,04%
  • IDX80 128   1,27   1,00%
  • IDXV30 142   0,85   0,61%
  • IDXQ30 140   0,75   0,54%

Ketidakpastian Global, Investor Disarankan Investasi Ini


Rabu, 04 Februari 2026 / 21:45 WIB
Ketidakpastian Global, Investor Disarankan Investasi Ini
ILUSTRASI. DBS menyarankan investor moderat alokasikan hingga 60% portofolio ke emas. Cari tahu alasan dan strateginya agar investasi Anda tetap cuan. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Investor diminta menyusun portofolio investasi sesuai profil risiko dan tujuan investasinya di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi berbagai faktor makro, geopolitik, dan arah kebijakan moneter dunia.

Indonesia’s Head of Research DBS Group, William Simadiputra, menekankan bahwa pendekatan investasi harus disesuaikan dengan karakter risiko masing-masing investor.

Untuk investor konservatif, fokus utama tetap pada obligasi berkualitas tinggi karena sesuai dengan profil risiko yang rendah. Sementara itu, investor moderat dapat mengombinasikan instrumen ekuitas dan obligasi dengan pendekatan strategi barbel.

“Namun dengan kondisi saat ini yang bisa dibilang di kondisi uncertain atau ketidakpastian global kita juga menaruh komponen diversifikasi ke emas yang cukup besar di atas 50% atau 60% untuk investor moderat,” ucap William dalam media briefing, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga: IHSG Berpeluang Bergerak Mixed Cenderung Menguat Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis

Bagi investor agresif, DBS menilai saham-saham Asia menarik untuk dicermati. Di Indonesia, William menyarankan alokasi saham minimal 30%, dengan sisa portofolio ditempatkan pada instrumen fixed income dan emas sebagai penyeimbang risiko.

Saham Konsumer Belum Pulih, Tapi Menarik untuk Positioning

William menyoroti bahwa saham sektor konsumer belum menunjukkan momentum pemulihan yang kuat, meskipun mendekati periode Ramadan dan Idulfitri yang biasanya menjadi pendorong konsumsi. Hal ini mencerminkan belum terjadinya pemulihan konsumsi yang signifikan.

“Jadi mungkin kali ini mereka pada tunggu dulu. Jadi instead mereka front load. Mereka akan melihat hasil atau angka di first quarter 2026,” kata William.

Meski demikian, ia melihat peluang positioning yang menarik pada saham sektor konsumer di awal tahun, mengingat valuasi yang relatif murah saat ini menawarkan keseimbangan risiko dan potensi imbal hasil yang baik.

“Kalau saya di equity strategi kita, kita masukin untuk consumer. Walaupun saat ini mungkin bisa dibilang relatively market belum banyak ya yang membeli sektor konsumer. Soalnya kebanyakan larinya ke commodity. Salah satunya karena harga emas dan ekspektasi kenaikan harga nikel, maupun mungkin harga oil yang relatively stable,” jelas William.

LQ45 dan Buy on Weakness

Senada dengan itu, Head of Research OCBC Sekuritas, Budi Rustanto, menilai volatilitas pasar saat ini justru membuka peluang akumulasi pada saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi rendah.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Uji Level 8.200 pada Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis

“Kami percaya bahwa saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya yang termasuk dalam indeks LQ45, akan memiliki momentum yang lebih kuat,” ucap Budi.

OCBC Sekuritas menyarankan strategi Buy on Weakness dibandingkan akumulasi agresif, khususnya pada saham perbankan dan komoditas logam seperti NCKL, MBMA, dan TINS yang dinilai memiliki dukungan valuasi.

Waspada Potensi ‘Gelembung AI’

DBS juga melihat bahwa di tengah ketidakpastian fiskal dan volatilitas pasar, sektor teknologi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan global, terutama di Amerika Serikat. Investasi besar-besaran di pusat data dan perangkat keras untuk mendukung model bahasa besar (LLM) mencatat lonjakan historis.

Namun, lonjakan ini juga memunculkan risiko pembentukan ‘gelembung AI’ apabila ekspektasi pertumbuhan melampaui fundamental bisnis.

Investor disarankan lebih selektif dengan berfokus pada perusahaan yang mampu mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional, bukan sekadar pemain AI murni (pure-play).

Asia, Komoditas, dan Peran Strategis Logam Industri

Peluang pertumbuhan juga dinilai muncul secara selektif di kawasan Asia, seiring meredanya ketidakpastian perdagangan dan kuatnya perdagangan intra-regional.

Pasar komoditas pun diperkirakan memasuki fase yang lebih konstruktif menuju 2026, didorong ekspektasi penurunan suku bunga dan meredanya ketegangan dagang.

Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat 0,3% ke 8.146 Hari Ini (4/2), Top Gainers LQ45: BBTN, AMMN, BRPT

Meski tarif masih bertahan, logam industri seperti tembaga dan rare earth elements berada di posisi strategis karena perannya yang krusial dalam ekonomi global.

Di sisi lain, tren kenaikan jangka panjang emas tetap solid sebagai aset lindung nilai, didukung oleh tekanan monetasi, ketidakpastian global, serta diversifikasi cadangan devisa bank sentral.

Fundamental Indonesia Tetap Kuat

Di tengah dinamika global, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap solid. Permintaan domestik masih menjadi pendorong utama pertumbuhan, inflasi yang terkendali memberi ruang bagi Bank Indonesia menjaga stabilitas moneter, serta konsolidasi fiskal memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Bagi investor, kondisi ini membuka peluang pada sektor-sektor yang ditopang oleh konsumsi domestik, termasuk ritel dan e-commerce, seiring dengan meningkatnya adopsi digital masyarakat. Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya di sektor energi terbarukan, juga menghadirkan peluang investasi jangka panjang yang sejalan dengan agenda transisi energi nasional,” ujar William.

Selanjutnya: Kakao RI Berpeluang Bangkit, Industri Dalam Negeri Jadi Penopang

Menarik Dibaca: Hindari Boros! Money Parenting Lindungi Anak dari Jebakan Utang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×