Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Di tengah gejolak pasar saham, indeks LQ45 mulai bangkit. Analis mengungkap prospek, target indeks 2026, serta rekomendasi saham LQ45 yang layak dikoleksi.
Saham-saham yang selama ini dikenal sebagai blue chip tersebut mulai dilirik investor seiring membaiknya sentimen dan peluang pemulihan kinerja emiten.
Indeks LQ45 merupakan salah satu indeks utama di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berisi 45 saham paling likuid dengan kapitalisasi pasar terbesar.
Berdasarkan data BEI per Rabu (4/2/2026), indeks LQ45 berada di level 832,795 atau naik 1,1% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Secara year to date (YtD), indeks ini masih melemah 1,63%, namun membaik dari posisi terendah yang sempat terkoreksi hingga 2,7%.
Baca Juga: BEI Catat 267 Emiten Belum Penuhi Free Float 15%, 49 Big Cap Jadi Fokus Utama
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelaku pasar mulai kembali berburu saham dengan fundamental kuat. Dalam skenario optimistis, ia memproyeksikan indeks LQ45 berpotensi menguat menuju level 936 sepanjang 2026.
Menurut Nafan, emiten-emiten LQ45 memiliki peluang meningkatkan kinerja keuangan, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. Dukungan juga datang dari faktor makroekonomi, salah satunya tren suku bunga acuan yang cenderung menurun sehingga menekan biaya pendanaan perusahaan.
“Kondisi ini positif karena dapat meningkatkan likuiditas di pasar,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).
Selain itu, kebijakan free float minimum 15% dan peningkatan transparansi kepemilikan saham turut memperbaiki kualitas pasar. Aturan ini mendorong emiten lebih terbuka serta memperkuat praktik tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), sehingga meningkatkan kepercayaan investor institusi, baik domestik maupun global.
Nafan juga menilai fundamental makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Stabilitas ekonomi serta momentum musim pembagian dividen dari emiten LQ45 menjadi katalis tambahan yang menopang daya tarik saham-saham unggulan tersebut.
Pandangan serupa disampaikan Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee. Ia melihat investor kini mulai mengalihkan portofolio ke saham-saham dengan fundamental kuat, seiring meningkatnya risiko pada saham-saham spekulatif.
“Ada risiko saham gorengan diusut atau diperiksa OJK, sehingga investor lebih memilih saham berfundamental bagus,” kata Hans kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).
Hans menilai valuasi saham-saham berkapitalisasi besar di Indonesia masih relatif murah. Ia menyoroti saham BBCA, TLKM, ASII, BMRI, BBRI, dan BBNI sebagai emiten yang layak dicermati, selain saham sektor emas dan pertambangan.
Tonton: Penerimaan Pajak Januari 2026 Tembus Rp116 Triliun! Menkeu Purbaya: Tanda Ekonomi Berbalik Arah
Pilihan Saham LQ45 yang Layak Dicermati
Nafan merekomendasikan sejumlah saham LQ45 dengan prospek jangka panjang menarik. Salah satunya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang dikenal memiliki kinerja paling stabil di sektor perbankan nasional.
“Bagi investor jangka panjang yang mengincar stabilitas dan dividen, BBCA masih sangat menarik,” ujarnya.
Selain BBCA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga direkomendasikan. BBNI dinilai terus menjaga kualitas aset, memperluas pembiayaan, serta memperkuat layanan digital yang berpotensi meningkatkan pendapatan berbasis komisi.
Saham PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) turut masuk radar. Dengan kebijakan cukai rokok yang diperkirakan stabil pada 2026, HMSP diproyeksikan mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga 41% atau sekitar Rp 8 triliun berdasarkan konsensus analis. Emiten ini juga dikenal dengan payout ratio tinggi yang kerap mendekati 100%.
“Seiring pemulihan laba, imbal hasil dividen berpotensi mencapai sekitar 8,94%,” jelas Nafan.
Selanjutnya, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga dinilai menarik. Sebagai bagian dari ekosistem MIND ID, INCO berpeluang memperkuat peran dalam rantai pasok baterai nasional. Kolaborasi strategis dengan Huayou dan Ford menempatkan INCO sebagai produsen nikel kelas satu dengan standar ESG yang baik.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dipandang memiliki prospek jangka panjang seiring integrasi layanan fixed mobile convergence (FMC) dan penguatan bisnis digital, termasuk jaringan 5G dan pusat data.
Tonton: PLTU Cirebon-1 Gagal Pensiun, Kementerian ESDM Identifikasi 15 PLTU Beremisi Tinggi
Rekomendasi & Target Harga Saham LQ45
Nafan merekomendasikan strategi accumulative buy untuk saham BBCA, BBNI, HMSP, dan TLKM dengan target harga jangka panjang masing-masing Rp 9.750, Rp 5.600, Rp 975, dan Rp 4.290 per saham.
Sementara itu, saham INCO direkomendasikan add dengan target harga jangka panjang di level Rp 7.625 per saham.
Selanjutnya: Trump Sebut Pembicaraan dengan Xi Positif, Taiwan dan Kedelai Jadi Topik Bahasan
Menarik Dibaca: Promo Grand Opening Bakmi GM TMII hingga 14 Maret, Makan Enak Dapat Tas Gratis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













