Reporter: Herlina KD | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Asia melemah pada perdagangan Jumat (4/4) pagi. Mengutip Bloomberg, pukul 08.17 WIB, indeks Nikkei 225 turun 700,95 poin atau 2,03% ke 34.032,58, Kospi turun 3,40 poin atau 0,13% ke 2.482,26, ASX 200 turun 106,63 poin atau 1,37%7.752,30, Straits Times turun 38,84 poin atau 0,93% ke 3.906,73 dan FTSE Malaysia turun 10,74 poin atau 0,67% ke 1.503,76.
Bursa Asia turun, mengekor pelemahan Wall Street lantaran investor khawatir pemberlakuan tarif timbal balik Trump akan mendorong ekonomi global ke dalam resesi.
Mengutip Reuters, bursa Asia berjuang memulihkan kerugian pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Trump Rilis Tarif Impor, Bursa Saham Asia Kendor
Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,26% dalam perdagangan yang sepi, dengan pasar di China, Hong Kong, dan Taiwan tutup untuk liburan.
Perusahaan S&P 500 semalam kehilangan nilai pasar saham gabungan sebesar US$ 2,4 triliun, kerugian satu hari terbesar mereka sejak pandemi virus corona melanda pasar global pada 16 Maret 2020, sementara indeks Wall Street lainnya juga mencatat penurunan tajam.
Aksi jual yang menyakitkan di seluruh pasar terjadi setelah Trump pada hari Rabu mengumumkan hambatan perdagangan tercuram Washington dalam lebih dari 100 tahun, membuat investor berebut aset aman.
"Jika tarif saat ini berlaku, resesi pada kuartal III atau kuartal III sangat mungkin terjadi, seperti halnya pasar yang melemah," kata David Bahnsen, kepala investasi di The Bahnsen Group.
"Pertanyaannya adalah, apakah Presiden Trump mencari semacam jalan keluar untuk kebijakan ini jika dan ketika kita melihat pasar saham sedang lesu. Kami yakin Trump kemudian akan beralih fokus pada sejumlah perusahaan yang melakukan investasi signifikan di AS, tetapi tidak jelas apakah itu akan membalikkan sentimen pasar."
Baca Juga: Simak Proyeksi Bursa Asia Jumat (4/4) Usai Tertekan Kebijakan Tarif Trump
Kontrak berjangka saham AS stabil di awal sesi Asia, dengan kontrak berjangka Nasdaq naik 0,05%, sementara kontrak berjangka S&P 500 turun 0,06%.
Mencerminkan meningkatnya kekhawatiran akan resesi global, khususnya di Amerika Serikat, para pedagang sejak itu meningkatkan taruhan akan lebih banyak pemotongan suku bunga Federal Reserve tahun ini, dengan pandangan bahwa para pembuat kebijakan harus melonggarkan lebih agresif untuk menopang pertumbuhan di ekonomi terbesar di dunia.
Kontrak berjangka dana Fed sekarang menunjukkan pemotongan sekitar 96 basis poin pada bulan Desember, dari mendekati 70 bps sesaat sebelum tarif Trump diumumkan pada hari Rabu.
"Bank sentral tidak diperlengkapi dengan baik untuk menghadapi stagflasi karena dampak pertumbuhan yang lebih lambat dan inflasi yang lebih tinggi menarik kebijakan ke arah yang berlawanan," kata David Doyle, kepala ekonomi di Macquarie Group.
"Ini berarti bahwa inflasi inti yang lebih kuat kemungkinan akan membatasi sejauh mana respons kebijakan dari Fed karena hambatan yang diciptakan untuk pertumbuhan."
Gubernur Fed Jerome Powell akan berpidato pada hari Jumat dan investor akan mencari penilaian terbarunya tentang ekonomi AS dan petunjuk apa pun tentang prospek kebijakan setelah serangan tarif baru Trump.
Selanjutnya: Kinerja PGAS Tahun Ini Masih Dibayangi Kebijakan Harga Gas
Menarik Dibaca: Cara Reset Explore Instagram dalam 5 Menit, Ini Trik yang Perlu Diketahui
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News