kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Tren Suku Bunga Tinggi, Simak Rekomendasi Saham Ciputra Development (CTRA)


Selasa, 23 Juni 2026 / 19:49 WIB
Tren Suku Bunga Tinggi, Simak Rekomendasi Saham Ciputra Development (CTRA)
ILUSTRASI. Suku bunga tinggi membayangi kinerja CTRA dan industri properti. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatat penurunan kinerja pada kuartal pertama 2026. Di tengah kondisi suku bunga yang masih tinggi, sejumlah analis menilai sektor properti, termasuk CTRA, menghadapi tantangan yang berpotensi menekan pertumbuhan penjualan dan laba sepanjang tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan, CTRA membukukan pendapatan sebesar Rp 2,55 triliun pada kuartal I 2026 atau turun 6,37% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, laba bersih perseroan turun lebih dalam, yakni 21,51% yoy menjadi Rp 518,3 miliar.

Analis KB Valbury Sekuritas Steven Gunawan menilai hasil kinerja kuartal pertama 2026 relatif lebih lemah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun demikian, penurunan tersebut masih sesuai dengan ekspektasi pasar dan lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan dibandingkan pelemahan fundamental bisnis.

“Meskipun perusahaan terus mendapat manfaat dari basis pendapatan berulang yang meningkat, lingkungan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama tetap menjadi risiko utama, mengingat sensitivitas sektor yang tinggi terhadap biaya pinjaman, yang dapat memperpanjang penurunan permintaan,” ujar Steven dalam risetnya pada 6 Mei 2026.

CTRA Diproyeksi Memasuki Fase Normalisasi

Analis Maybank Sekuritas Kevin Halim memperkirakan CTRA akan memasuki fase normalisasi kinerja pada tahun ini setelah mencatatkan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah pada 2025.

Pada tahun lalu, laba bersih CTRA tumbuh 25% yoy menjadi Rp 2,66 triliun. Namun untuk tahun 2026, Kevin memperkirakan laba bersih akan terkoreksi sekitar 8% yoy seiring normalisasi bisnis properti.

Meski demikian, ia menilai model bisnis perseroan yang mengombinasikan pengembangan properti dan strategi pengembangan ringan aset (asset-light) mampu menjaga ketahanan kinerja di tengah siklus industri yang kembali normal.

Baca Juga: Saat Big Caps Tertekan, Saham Lapis Kedua Jadi Motor Penggerak IHSG

“Fundamental tetap kuat, didukung oleh generasi FCFF yang kuat yang seharusnya semakin memperkuat posisi kas bersihnya, rasio utang bersih kuartal I – 2026 turun 1%,” kata Kevin dalam risetnya pada 5 Mei 2026.

Pra-Penjualan Masih Tertekan, Jakarta Jadi Penopang Utama

Dari sisi operasional, Kevin menyoroti lemahnya capaian pra-penjualan (marketing sales) pada kuartal pertama 2026 yang turun 23% yoy akibat melemahnya permintaan properti residensial.

Wilayah Jakarta menjadi satu-satunya kawasan yang masih menunjukkan pertumbuhan positif dengan kenaikan 2% yoy. Sebaliknya, sejumlah wilayah lain mengalami penurunan penjualan antara 35% hingga 56% yoy. Sulawesi menjadi pengecualian dengan pertumbuhan 25% yoy yang ditopang oleh penjualan lahan.

“Kami memperkirakan tren ini akan berlanjut, dengan peluncuran mendatang terkonsentrasi di Jakarta Raya (CitraGarden City, Citra Homes Halim, Citra Bukit Golf), yang kami anggap sebagai strategi yang tepat mengingat permintaan pengguna akhir yang lebih kuat dan daya beli yang lebih tinggi di wilayah tersebut,” ucap Kevin.

Menurutnya, komposisi penjualan CTRA juga semakin bergeser ke segmen premium. Unit properti dengan harga di atas Rp 2 miliar kini berkontribusi sekitar 65% terhadap total pra-penjualan, mencerminkan fokus perusahaan pada pasar menengah atas yang dinilai lebih tahan terhadap tekanan ekonomi.

Selain itu, kondisi neraca keuangan yang kuat serta kemampuan perusahaan memanfaatkan kekuatan merek untuk memperoleh land bank melalui strategi pengembangan bersama dinilai menjadi faktor pendukung bagi pertumbuhan jangka panjang.

“Karena portofolio CTRA yang beragam secara geografis, perusahaan ini seharusnya mendapatkan keuntungan dari meningkatnya permintaan di daerah-daerah yang bergantung pada komoditas untuk penciptaan kekayaan,” ujar Kevin.

Baca Juga: IHSG Tertekan Menjelang MSCI Review, Saham Bank Ini Masih Jadi Pilihan Menarik

Diversifikasi Wilayah Jadi Kekuatan

Steven menilai kehadiran proyek-proyek CTRA yang tersebar di 34 kota menjadi salah satu keunggulan utama perusahaan dalam menghadapi perlambatan sektor properti.

Diversifikasi geografis tersebut mampu mengurangi risiko konsentrasi pasar sekaligus memberikan peluang pertumbuhan dari berbagai daerah yang memiliki karakteristik ekonomi berbeda.

Selain itu, kontribusi pendapatan berulang (recurring income) yang terus meningkat dinilai dapat menopang stabilitas pendapatan dan membuka ruang pertumbuhan jangka menengah.

Suku Bunga Tinggi Masih Menjadi Risiko Utama

Di sisi lain, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie mengingatkan bahwa tren suku bunga tinggi masih menjadi ancaman utama bagi industri properti nasional.

Menurut Adrian, tingginya BI Rate, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, serta pelemahan nilai tukar rupiah membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi semakin terbatas.

“Mengingat struktur pendapatan CTRA mayoritas masih ditopang oleh development income dibandingkan recurring income, kondisi suku bunga yang tinggi ini menjadi risiko utama yang dapat membayangi performa perusahaan di masa mendatang,” ujar Adrian kepada Kontan, Selasa (23/6/2026).

Ia menambahkan bahwa pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen penting ke depan, mulai dari perkembangan ekonomi global, arah kebijakan moneter, hingga pergerakan nilai tukar.

Baca Juga: Fenomena Inverted Yield Curve Muncul, Arus Dana Lebih Banyak Mengalir ke SRBI

Kevin juga menyoroti sejumlah risiko lain yang berpotensi menekan kinerja perusahaan. Di antaranya adalah kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), meningkatnya ketidakpastian ekonomi, serta dinamika politik menjelang Pemilu 2029 yang dapat membuat konsumen menunda keputusan pembelian properti.

Selain itu, perlambatan permintaan dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah juga menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai.

Proyeksi dan Rekomendasi Saham CTRA

Untuk tahun buku 2026, Kevin memperkirakan pendapatan CTRA mencapai Rp 12,23 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 2,44 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencatat pendapatan Rp 12,62 triliun dan laba bersih Rp 2,66 triliun.

Meski prospek jangka pendek masih dibayangi tantangan suku bunga tinggi, mayoritas analis tetap mempertahankan rekomendasi positif terhadap saham CTRA.

Kevin Halim dari Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.150 per saham. Steven Gunawan dari KB Valbury Sekuritas juga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 1.000 per saham.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dalam risetnya pada 8 Juni 2026 memberikan rekomendasi buy dengan target harga lebih tinggi, yakni Rp 1.600 per saham.

Berbeda dengan mayoritas analis, Adrian Djie memilih bersikap lebih konservatif dan merekomendasikan investor untuk mengambil posisi wait and see hingga terdapat sinyal perbaikan yang lebih jelas dari sektor properti maupun kebijakan suku bunga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×