Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dinilai masih cerah hingga akhir 2026. Kontribusi bisnis terintegrasi di Singapura serta peningkatan kapasitas kilang, diyakini dapat menopang pertumbuhan kinerja konglomerasi ini.
Emiten milik Prajogo Pangestu ini mencatatkan lonjakan kinerja pada kuartal I-2026. Manajemen BRPT menyebut, lonjakan kinerja terjadi seiring dengan kontribusi kuat dari operasi kilang minyak di Singapura. Saat ini, BRPT juga melakukan integrasi bisnis hilir melalui akuisisi aset ritel bahan bakar milik ExxonMobil.
Seperti diketahui, anak usaha BRPT, yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengoperasikan Kilang Minyak Aster (sebelumnya Shell Energy & Chemicals Park) yang diakuisisi pada April 2025.
Baca Juga: Inaco (JELI) Bakal IPO Rp 392 Miliar di Awal Juli 2026, Begini Prospek Sahamnya
Perusahaan ini juga memiliki jaringan bahan bakar ritel merek Esso di Singapura yang diakuisisi dari ExxonMobil pada Januari 2026.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menyebut prospek BRPT hingga akhir 2026 masih positif. Ini seiring kontribusi penuh aset energi dan kilang di Singapura melalui Aster Chemicals & Energy.
"Akuisisi Kilang Bukom dan jaringan SPBU Esso memperkuat diversifikasi pendapatan di luar bisnis petrokimia, sementara peningkatan kapasitas kilang pada semester II-2026 berpotensi mendukung pertumbuhan volume dan margin," ujar Sukarno kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Analis UBS Sekuritas Indonesia, Timothy Handerson, menilai Aster berada dalam posisi yang sangat baik untuk memanfaatkan tingginya margin pengilangan. Hal ini didukung kapasitas kilang sebesar 237 ribu barel per hari (kb/d) serta porsi produksi yang besar pada produk diesel dan bahan bakar jet.
Selain itu, kapasitas kilang diperkirakan meningkat menjadi 300 ribu barel per hari pada paruh kedua 2026 seiring mulai beroperasinya unit condensate splitter, yang memberikan potensi tambahan pertumbuhan.
"Kami menaikkan asumsi margin pengilangan minyak tahun 2026 menjadi US$ 17 per barel dari sebelumnya US$ 15 per barel untuk mencerminkan kondisi pasar terkini," ujar Timothy dalam riset 9 Juni 2026.
Berdasarkan analisis tersebut, diperkirakan setiap kenaikan US$ 1 per barel pada margin pengilangan berpotensi meningkatkan EBITDA BRPT sebesar US$ 87 juta hingga US$ 110 juta, dengan asumsi faktor lainnya tetap.
Baca Juga: Begini Proyeksi Rupiah pada Perdagangan Rabu (17/6), Isu AS-Iran Jadi Fokus Utama
Ada pun Analis Sucor Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan, dalam riset 1 Mei 2026 mencatat kapasitas terpasang pembangkit milik BREN diperkirakan meningkat dari 970 megawatt (MW) pada 2025 menjadi 2,8 gigawatt (GW) pada 2032. Peningkatan ini berpotensi menjadikan perusahaan sebagai salah satu pusat energi hijau utama di kawasan regional.
Pertumbuhan kapasitas tersebut akan ditopang oleh proyek panas bumi Suoh Sekincau dan Hamiding, serta tambahan pengembangan pembangkit listrik tenaga angin. Proyek panas bumi Suoh Sekincau merupakan proyek berskala besar dengan potensi kapasitas mencapai 495 MW hinaga 875 MW.
Meski demikian, Sukarno mencermati sejumlah risiko. Di antaranya tekanan margin petrokimia akibat kondisi kelebihan pasokan (oversupply) global, volatilitas harga minyak yang dapat memengaruhi margin pengilangan, serta potensi gangguan rantai pasok akibat ketegangan geopolitik.
Selain itu, tingginya biaya pendanaan di tengah lingkungan suku bunga global yang masih relatif tinggi juga berpotensi menjadi tantangan bagi kinerja perusahaan.
Mengacu laporan keuangan perusahaan, pendapatan BRPT melonjak tajam 232,18% year on year (yoy) menjadi US$ 2,57 miliar pada akhir kuartal I-2026. Sedangkan pada kuartal I-2025, emiten ini meraup pendapatan US$ 773,75 juta.
BRPT turut mencetak laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak US$ 90,48 juta pada kuartal I-2026 atau meningkat 459,90% yoy dibandingkan laba bersih perusahaan periode sebelumnya yakni US$ 16,16 juta.
Pada 2026, Andreas memproyeksi BRPT akan membukukan pendapatan sebesar US$ 11,12 miliar atau tumbuh 45,7% dibandingkan realisasi 2025 sebesar US$ 7,63 miliar. Namun, laba bersih perusahaan ini diperkirakan turun 38,2% menjadi US$ 303 juta dari US$ 490 juta pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis, Investor Arah Bunga Bank Sentral Global & Damai AS-Iran
Dari sisi pergerakan saham, Sukarno menilai prospek BRPT mulai menunjukkan perbaikan setelah sebelumnya sempat tertekan cukup dalam. "Kami menilai prospek saham BRPT mulai membaik seiring bergesernya fokus pasar dari isu leverage menuju potensi pertumbuhan laba pasca akuisisi aset energi di Singapura," ujar Sukarno.
Oleh karena itu, Sukarno merekomendasikan Buy atau Accumulate on Weakness untuk saham BRPT dengan target harga 12 bulan ke depan berada di kisaran Rp 2.200 hingga Rp 2.400 per saham.
Kemudian Andreas dan Timothy sama-sama memberikan rekomendasi untuk buy saham BRPT dengan target harga masing-masing Rp 4.200 dan Rp 2.700 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Barito Pacific
- Prajogo Pangestu
- petrokimia
- BRPT
- investasi saham
- TPIA
- pembangkit listrik tenaga angin
- saham BRPT
- energi hijau
- Chandra Asri Pacific
- Kinerja Keuangan BRPT
- SPBU Esso
- Aster Chemicals
- Kilang Bukom
- Margin Pengilangan
- EBITDA BRPT
- Proyek Panas Bumi Suoh Sekincau
- Proyek Panas Bumi Hamiding
- Rekomendasi Saham BRPT
- Target Harga BRPT













