kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.734   15,00   0,08%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

Inaco (JELI) Bakal IPO Rp 392 Miliar di Awal Juli 2026, Begini Prospek Sahamnya


Selasa, 16 Juni 2026 / 17:45 WIB
Inaco (JELI) Bakal IPO Rp 392 Miliar di Awal Juli 2026, Begini Prospek Sahamnya
ILUSTRASI. Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Calon emiten di sektor produsen makanan dan minuman, PT Niramas Utama berencana untuk melakukan penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO). 

Jika tak ada aral melintang, perusahaan yang memiliki merek dagang Inaco ini akan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026 mendatang.

Melansir prospektusnya, pada masa penawaran awal alias bookbuilding, calon emiten dengan kode JELI ini menetapkan harga di kisaran Rp 900 hingga Rp 1.120 per saham. Dus, JELI berpotensi meraup dana segar paling banyak Rp 392 miliar. 

Baca Juga: Begini Proyeksi Rupiah pada Perdagangan Rabu (17/6), Isu AS-Iran Jadi Fokus Utama

Niramas Utama akan menawarkan maksimal 350 juta saham biasa. Ini setara 25,93% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. 

Berdasarkan kinerja keuangannya per tahun 2025, JELI membukukan penjualan sebesar Rp 753,05 miliar, menurun 4,5% year on year (yoy) dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp 788,43 miliar. 

Kendati begitu, perusahaan berhasil meningkatkan profitabilitas berkat efisiensi biaya produksi dan penurunan beban keuangan. Posisi laba bruto naik menjadi Rp 290,78 miliar dari Rp 259,61 miliar pada tahun sebelumnya. 

Lalu, laba bersih melonjak 219,7% yoy menjadi Rp 39,36 miliar, dibandingkan Rp 12,31 miliar pada tahun 2024. Dari sisi neraca, total aset meningkat menjadi Rp 552,11 miliar dari sebelumnya Rp 522,60 miliar pada tahun 2024. 

Posisi ekuitas naik 22,8% menjadi Rp 145,52 miliar, didorong oleh peningkatan saldo laba yang mencapai Rp 52,62 miliar.

Praktisi pasar modal sekaligus Pendiri WH-Project, William Hartanto, mengatakan secara prospek, pertumbuhan laba yang tercantum dalam prospektus cukup menarik. Selain itu, penggunaan dana hasil penawaran umum yang lebih banyak dialokasikan untuk belanja modal (capital expenditure) juga menjadi poin positif.

Namun, porsi saham yang dilepas ke publik tergolong cukup besar, yakni sekitar 25,93%. William bilang, tingkat free float yang tinggi umumnya kurang diminati sebagian investor karena dapat mengurangi efek kelangkaan saham dan membuat likuiditasnya terlalu besar. 

"Jadi menurut saya saham JELI memiliki peluang menguat saat listing nanti. Namun, risiko profit takingnya juga tinggi karena jumlah saham yang dimiliki publik besar," kata William kepada Kontan, Selasa (16/6/2026).

Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis, Investor Arah Bunga Bank Sentral Global & Damai AS-Iran

Selain itu, William menyarankan investor untuk memperhatikan beberapa aspek penting sebelum membeli saham IPO. Salah satunya adalah reputasi dan rekam jejak broker penjamin emisi (underwriter), khususnya kinerja saham-saham yang sebelumnya telah melantai di bursa melalui broker tersebut. 

Pelaku pasar sering menjadikan histori tersebut sebagai memori kolektif yang dapat memengaruhi persepsi dan perlakuan terhadap saham IPO berikutnya.

Faktor lain yang perlu dicermati adalah porsi saham yang dilepas ke publik. Jumlah saham yang terlalu besar di publik akan meningkatkan likuiditas, tetapi di sisi lain dapat mengurangi volatilitas pergerakan harga. Kondisi ini umumnya kurang menarik bagi sebagian pelaku pasar, terutama trader harian, yang cenderung mencari saham dengan pergerakan harga yang lebih dinamis.

Meski begitu, saham yang baru melantai di bursa umumnya masih memiliki peluang untuk mencatatkan kenaikan harga pada masa awal perdagangan. Ini didorong oleh tingginya minat dan spekulasi pelaku pasar terhadap potensi pergerakan harga saham tersebut setelah listing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×