Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa Wall Street menutup pekan yang penuh gejolak dengan pergerakan terbatas pada Jumat (18/9/2026), saat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) acuan melampaui 5%. Sementara harga minyak mentah berbalik turun setelah sempat menguat namun tetap bertahan di atas US$ 100 per barel, sehingga kekhawatiran akan inflasi tetap menjadi sorotan utama.
Jumat (18/9/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average turun 95,40 poin atau 0,18% menjadi 51.682,64; S&P 500 naik 12,74 poin atau 0,17% menjadi 7.650,50; dan Nasdaq Composite naik 104,25 poin atau 0,40% menjadi 26.522,55.
Di antara 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, saham teknologi mencatat kenaikan terbesar, sementara sektor utilitas berakhir dengan penurunan persentase terdalam.
Sesi perdagangan ini mengakhiri pekan yang pada dasarnya terbagi menjadi dua fase. Pertama, antisipasi yang penuh ketegangan menjelang kenaikan suku bunga Federal Reserve AS yang sudah diperkirakan secara luas. Kedua, respons pasar setelah keputusan tersebut diambil.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 1,84 Triliun Sepekan Terakhir, Intip Saham yang Banyak dikoleksi
Lonjakan saham semikonduktor mendorong kenaikan Nasdaq dan S&P 500, namun pelemahan pasar secara lebih luas menyeret Dow ke zona negatif saat penutupan.
S&P 500 mengakhiri sesi dengan penurunan mingguan tipis, sementara Nasdaq yang didominasi saham teknologi ditutup lebih tinggi dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya. Indeks Dow yang berisi saham-saham unggulan mencatat penurunan persentase mingguan terbesar sejak bulan Maret.
"Rasanya seolah-olah semua orang merasa kelelahan setelah berbagai aktivitas sepanjang pekan ini dan memutuskan untuk bersikap lebih berhati-hati menjelang akhir pekan," ujar Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana,seperti dikutip Reuters.
"Banyak investor berusaha memahami tidak hanya dampak jangka pendek, tetapi juga implikasi jangka panjang dari langkah yang mungkin diambil The Fed serta bagaimana hal itu akan memengaruhi investasi ekuitas dan pendapatan tetap (fixed-income)," imbuhnya.
Kata Carlson, ada juga keengganan untuk mengambil posisi arah pasar tertentu menjelang akhir pekan di tengah situasi di mana peristiwa eksternal berpotensi memicu pola perdagangan yang tidak menentu pada Senin.
Kekhawatiran akan inflasi tetap tinggi seiring harga minyak mentah yang bertahan di atas US$ 100 per barel, namun tekanan tersebut sedikit mereda dari level tertinggi sesi perdagangan setelah Tiongkok—atas permintaan Arab Saudi—meminta Iran untuk membatasi serangan pemberontak Houthi terhadap infrastruktur minyak Saudi.
Lonjakan harga minyak telah mendorong harga solar ke rekor tertinggi, yang kemungkinan akan berdampak pada tekanan inflasi yang lebih luas, memengaruhi biaya pertanian dan pengiriman.
"Pasar tampaknya sangat bergantung pada pergerakan harga minyak," ujar Carlson. "Jadi, ketika harga cenderung naik dalam jangka waktu singkat, menurut saya pasar mendapatkan sedikit jeda atau kelegaan."
Bank sentral di seluruh dunia telah memulai siklus pengetatan kebijakan untuk meredam inflasi yang dipicu oleh perang Iran.
Baca Juga: UPDATE: Wall Street Tergelincir Jumat (18/9), Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 4,99%
Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun, mengikuti langkah Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa, dalam upaya mengendalikan inflasi global. Bank of England mengambil langkah berbeda dengan mempertahankan suku bunga tetap, namun memperingatkan adanya kenaikan di masa mendatang.
Pasar keuangan saat ini memperhitungkan probabilitas sebesar 55,4% untuk kenaikan suku bunga The Fed berikutnya pada pertemuan bulan Oktober, naik dari 42,5% pada hari Jumat lalu dan 7,2% sebulan yang lalu, menurut perangkat FedWatch dari CME.
Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang turun melampaui jumlah saham yang naik dengan rasio 1,78 banding 1. Tercatat ada 92 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 346 saham yang mencapai level terendah baru di NYSE.
Di bursa Nasdaq, sebanyak 1.973 saham mengalami kenaikan dan 2.810 saham mengalami penurunan, dengan rasio saham yang turun terhadap saham yang naik sebesar 1,42 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat lima level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 30 level terendah baru, sementara indeks Nasdaq Composite mencatat 45 level tertinggi baru dan 162 level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 25,29 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata volume sesi penuh sebesar 16,19 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














