Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) meluncurkan Indonesia ESG Bond Index untuk memberikan acuan bagi investor dalam memantau kinerja obligasi dan sukuk berwawasan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di pasar modal domestik.
Tujuan dari kehadiran indeks tersebut ialah mempertemukan kebutuhan ekspansi bisnis korporasi dengan tuntutan pelestarian lingkungan melalui instrumen efek bersifat utang.
Direktur Utama PHEI, Kadhafi Mukrom, bilang kehadiran indeks surat utang berkelanjutan ini didorong untuk mengakselerasi permodalan bagi proyek-proyek ramah lingkungan tanpa mengesampingkan profitabilitas usah.
Baca Juga: BEI Catat Penerbitan Obligasi dan Sukuk ESG Capai Rp 89,46 Triliun
Khadafi menjabarkan, Indonesia ESG Bond Index ini terdiri dari dua indeks, yaitu ID ESG Bond Total Return Index dan ID ESG Bond Clean Price Index.
Keduanya dirancang untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif bagi pergerakan pasar obligasi dan sukuk berwawasan keberlanjutan di Indonesia, sekaligus melengkapi ketersediaan benchmark bagi investor dalam memantau kinerja portofolio dan menyusun strategi investasi.
“Lebih jauh, kami mengamati bahwa pemanfaatan indeks tidak terbatas pada pengukuran kinerja portofolio saja, tapi juga bisa memberikan acuan dalam menyusun strategi investasi, dan membuka peluang bagi penerbitan produk-produk investasi berbasis indeks di masa mendatang,” ungkap Khadafi dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di main hall BEI, Jumat (5/11/2026).
Khadafi menjelaskan, konstituen Indonesia ESG Bond Index berasal dari penerbit yang memenuhi kriteria ESG. Ia menyebut terdapat 37 seri obligasi yang masuk dalam indeks biasa, sementara indeks premium mencakup 32 seri obligasi.
Baca Juga: BEI Delisting 18 Saham pada 10 November 2026, SRIL TOYS SUGI MABA TELE ENVY TRIL PLAS
Obligasi yang menjadi konstituen indeks tersebut juga mempertimbangkan peringkat kredit, mulai dari AAA hingga BBB-.
Khadafi mencermati pertumbuhan instrumen surat utang berbasis lingkungan di tanah air sendiri mencatatkan akselerasi positif sejak penerbitan perdana Sovereign Green Sukuk pada 2018 lalu.
Dinamika pasar ini kian terakselerasi berkat dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui penerbitan POJK Nomor 60 Tahun 2017 yang kemudian diperluas hingga mencakup aspek sosial dan keberlanjutan.
Lebih lanjut, Direktur PHEI Djoko Saptono memperkirakan, penerbitan obligasi korporasi masih berpeluang tumbuh hingga tahun ini, meski pasar surat utang sedang mengalami tekanan di tengah sentimen negatif yang datang dari dalam maupun luar negeri.
Kondisi imbal hasil atau yield surat berharga negara (SBN) yang tinggi saat ini turut mengerek meningkatnya yield pada obligasi korporasi. Tentunya, hal tersebut meningkatkan biaya dana atau cost of fund korporasi dalam menerbitkan surat utang.
Baca Juga: Tak Hanya Perusahaan Besar, BEI Kini Bidik UMKM untuk Melantai di Bursa
Tapi Djoko masih melihat ada indikator yang mendorong pertumbuhan penerbitan surat utang. Salah satu faktornya karena perusahaan pun masih membutuhkan pendanaan untuk refinancing.
“Tetapi kalau kita lihat dari sisi indikator pertumbuhan penerbitan, kita masih melihat ada peluang bertambah. Artinya setidaknya (target penerbitan) sama dengan tahun kemarin gitu kalau kita melihatnya begitu,” pungkas Djoko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
