Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong pembiayaan berkelanjutan melalui penerbitan surat utang atau obligasi dan sukuk berbasis environmental, social, and governance (ESG).
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mencatat sejak 2018 hingga 2026, akumulasi penerbitan instrumen obligasi dan sukuk ESG telah mencapai Rp 89,46 triliun, dengan melibatkan 16 penerbit.
Akumulasi tersebut termasuk Sukuk Social Musyawarah, Sukuk Social Mudharabah, Social Bond, Suistanable Sukuk, Suistainable Linked Bond (SLB), Suistainable Bond, serta Green Bond.
Menurut Iding, capaian tersebut menunjukkan peran pasar modal dalam mendukung pendanaan kegiatan yang beroperasi pada keberlanjutan.
Baca Juga: Sukuk Tabungan ST017 Mulai Ditawarkan Hari Ini (6/11), Apakah Kuponnya Menarik?
Meski demikian, BEI mencatat penerbitan obligasi dan sukuk ESG mengalami penurunan pada tahun 2026, menjadi hanya sebesar Rp 16,9 triliun. Padahal sepanjang 2025, penerbitan instrumen ini telah mencapai Rp 35,6 triliun.
“Berbagai isiatif ini membantu investor mengenali pilihan investasi yang sesuai dengan tujuan yang pertimbangan ESG atau pertimbangan keberlanjutan. Pasar modal Indonesia juga telah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan dalam skala yang berarti,” ujar Iding dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di main hall BEI, Jumat (5/11/2026).
Iding Pardi mengatakan, pengembangan ekosistem keuangan berkelanjutan juga tercermin dari meningkatnya komitmen perusahaan tercatat terhadap penerapan prinsip ESG.
Menurut dia, sekitar 85% perusahaan tercatat telah menyampaikan fakta keberlanjutan pada 2025. Selain itu, lebih dari 61 perusahaan yang tergabung dalam indeks IDX80 juga telah memiliki komitmen ESG.
Di sisi lain, pilihan investasi berbasis ESG di pasar modal Indonesia juga semakin beragam. BEI telah menyediakan sejumlah indeks saham berbasis ESG sebagai acuan bagi pengembangan produk investasi.
Baca Juga: Bitcoin Kembali Tembus US$ 80.000, Investor Diminta Waspadai FOMO
Iding juga menjabarkan, hingga September 2026, dana kelolaan produk investasi berbasis ESG atau ESG fund yang mencakup indeks non-pasisive, indeks fund, dan exchange traded fund (ETF) tercatat sekitar Rp 5,85 triliun.
“Namun, ruang pengembangannya masih luas masih luas.Kita perlu mengajak lagi banyak penerbit, memperluas partisipasi investor dan mendorong aktivitas perdagangan di pasar sekunder,” pungkas Iding.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
