kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.324.000 1,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bakal jadi jawara 2020, begini tips memilih reksadana pendapatan tetap


Selasa, 04 Agustus 2020 / 21:20 WIB
Bakal jadi jawara 2020, begini tips memilih reksadana pendapatan tetap
ILUSTRASI. Reksadana pendapatan tetap diperkirakan mencapai return tertinggi dibandingkan reksadana jenis lain.


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun 2020, diyakini bakal jadi tahunnya reksadana pendapatan tetap menjadi jawara di antara reksadana lainnya. Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana optimistis secara full year reksadana pendapatan tetap tumbuh 7%-8% sekaligus jadi jawaran reksadana tahun ini. 

Mengutip data Infovesta Utama, Infovesta 90 Fixed Income Fund Index catatkan kinerja terbaik kedua setelah reksadana saham sepanjang Juli 2020. Infovesta 90 Fixed Income Fund Index mencatat kenaikan 1,97% secara month on month (mom). Secara year to date (ytd), reksadana pendapatan tetap tersebut berada di posisi teratas sebagai reksadana dengan kinerja terbaik dengan tumbuh 4,43%. 

"Penurunan suku bunga bikin yield obligasi turun, alhasil Surat Utang Negara (SUN) naik signifikan, rata-rata 1%-2% di Juli 2020. Secara tren otomatis reksadana pendapatan tetap bakal jadi juara tahun ini, didukung suku bunga rendah dan tambahan kupon," ungkap Wawan kepada Kontan.co.id, Selasa (4/8). 

Baca Juga: Mandiri Investasi memproyeksikan return 15% untuk Reksadana Minion

Wawan memperkirakan reksadana pendapatan tetap bisa mencapai pertumbuhan yield full year 7%-8%. Sentimen utama datang dari tren suku bunga yang masih memungkinkan untuk turun dengan potensi Bank Indonesia 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) di level 3,75%. Sedangkan tahun depan, kinerja reksadana pendapatan tetap diprediksi turun ke kisaran 6%-6,5% seiring dengan tren penurunan suku bunga yang mulai berkurang. 

Wawan juga menjelaskan Infovesta 90 Fixed Income Fund Index kebanyak diisi oleh Surat Berharga Negara (SBN), sehingga permintaannya pun ikut meningkat di tengah meningkatnya risiko pandemi Covid-19. Meskipun begitu, dia mengakui risiko gagal bayar atau default untuk surat utang korporasi juga meningkat dan mempengaruhi kinerja reksadana. 

"Kami melihat, driver saat ini kebanyakan dari SUN dibandingkan korporasi, ini tercermin dari pergerakan reksadana pendapatan tetap dan SUN yang cukup mirip dan berkorelasi," ungkap Wawan. 

Baca Juga: Tren suku bunga turun, prospek reksadana pendapatan tetap makin cerah

Untuk itu, Wawan menekankan tidak ada kata terlambat bagi investor untuk masuk ke reksadana pendapatan tetap. Dibandingkan deposito, bisa dipastikan potensi reksadana pendapatan tetap lebih tinggi berkaca dari rata-rata yield SUN 5%-6^%, sedangkan deposito hanya sekitar 3%. Jika masuk dari sekarang, investor diyakini masih memiliki peluang untuk mendapatkan return 3% hingga 4% di akhir 2020. 

Rekomendasinya, investor bisa masuk ke reksadana pendapatan tetap dengan penempatan dana terbanyak di SBN dengan horizon atau waktu penempatan antara 2 tahun hingga 3 tahun ke depan. Wawan menilai penempatan dana SBN lebih aman ketimbang obligasi korporasi, meskipun diakui untuk obligasi korporasi cenderung menawarkan return yang lebih tinggi. 

Baca Juga: CDS menurun, kepemilikan asing di SBN naik

Adapun tips untuk memilih reksadana pendapatan tetap dengan penempatan obligasi korporasi yakni dengan memastikan ratingnya. Untuk rating triple A diprediksi mampu memberikan return di atas 7%, sedangkan triple B bisa mencapai double digit.

"Lihat ratingnya, minimal BBB tapi kalau bisa di atas single A. Kalau rating bagus, lihat juga bidang usahanya, akankah terpengaruh oleh pandemi Covid-19?" ungkap dia. 

Beberapa hal tersebut dianggap penting oleh Wawan untuk memastikan apakah obligasi korporasi tersebut aman dari risiko default. Adapun bidang usaha yang menurutnya cukup aman saat ini adalah di sektor telekomunikasi, sedangkan untuk jasa dan konstruksi cukup berisiko. 

"Kalau ratingnya BBB tapi bidang usahanya menarik dan minim dari risiko pandemi juga bisa. Tapi yang jelas, untuk level risiko obligasi korporasi tahun ini cenderung meningkat," tandasnya.

Baca Juga: Anjlok 20,5% sejak awal tahun, IHSG jadi indeks terburuk ketiga di Asia Pasifik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×