kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.612.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.196   -118,88   -1,88%
  • KOMPAS100 811   -18,90   -2,28%
  • LQ45 615   -12,33   -1,97%
  • ISSI 214   -4,08   -1,87%
  • IDX30 346   -6,54   -1,86%
  • IDXHIDIV20 428   -6,37   -1,47%
  • IDX80 93   -2,15   -2,27%
  • IDXV30 117   -1,73   -1,46%
  • IDXQ30 111   -1,86   -1,65%

Aset Recurring Income Jadi Penopang Emiten Properti, Ini Rekomendasi Sahamnya


Minggu, 26 Juli 2026 / 18:22 WIB
Aset Recurring Income Jadi Penopang Emiten Properti, Ini Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Analis memberikan rekomendasi saham emiten properti yang terbantu dari aset pendapatan berulang alias recurring income di era suku bunga tinggi (SURYA/HABIBUR ROHMAN)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten properti diproyeksi bakal terbantu dari aset pendapatan berulang alias recurring income di era suku bunga tinggi.

Asal tahu saja, Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di level 5,75%.

PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) mengaku akan terus mencermati perkembangan suku bunga Bank Indonesia (BI). Namun, hingga saat ini, MTLA belum merevisi target tahun 2026 karena permintaan dari segmen end-user masih ada.

“Ini didukung insentif PPN DTP serta program pembiayaan dari perbankan,” katanya kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: Indeks Kompas100 Ungguli IHSG Sebulan Terakhir, Cek Rekomendasi Sahamnya

Sepanjang semester I-2026, MTLA membukukan marketing sales sebesar Rp 997 miliar. Angka ini telah mencapai hampir 50% dari target tahunan yang dibidik sebesar Rp 2 triliun.

Segmen pengembangan properti dan recurring income juga diakui sama-sama menjadi penopang kinerja MTLA.

“Untuk tahun 2026, kontribusi pendapatan ditargetkan sekitar 70% berasal dari segmen pengembangan properti dan 30% dari recurring income,” paparnya.

Sementara itu, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mengakui bahwa memperkuat aset recurring menjadi salah satu strategi di era suku bunga tinggi ini. 

Terbaru, CTRA baru saja meresmikan Ciputra Cancer Center melalui kemitraan strategis bersama Singapore Medical Group (SMG) dan Curie Oncology. Layanan onkologi itu berlokasi di Ciputra Hospital CitraGarden City, Jakarta Barat. Ini adalah Ciputra Cancer Center kedua setelah Ciputra Cancer Center pertama yang berlokasi di Ciputra Hospital Surabaya beroperasi sejak pertengahan tahun 2025.

Namun memang, aset recurring, termasuk dari segmen kesehatan, porsi kontribusinya hanya sekitar 10%-15% ke pendapatan CTRA secara keseluruhan.

“Peluncuran ini lebih sebagai bagian dari pengembangan kawasan untuk calon pembeli. Kebutuhan healthcare sangat penting untuk menjadi keputusan apakah suatu kawasan layak huni,” kata Direktur Ciputra, Nararya Ciputra Sastrawinata saat ditemui KONTAN, beberapa waktu lalu. 

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie memandang, segmen recurring income akan berperan penting dalam menopang stabilitas pendapatan emiten properti. 

“Selain itu, mengingat pengakuan pendapatan dari marketing sales baru dibukukan pada saat serah terima unit, terdapat potensi pertumbuhan pendapatan dari emiten yang mencetak rekam jejak marketing sales yang kuat di tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: DSI dan DMO Membayangi Kinerja Emiten Batubara, Cek Rekomendasi Sahamnya

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim mengatakan, segmen recurring akan menjadi segmen bisnis yang masih memiliki pertumbuhan yang resilien di tengah kenaikan suku bunga yang dapat berdampak negatif terhadap penjualan properti. 

Emiten yang diuntungkan dari segmen ini adalah PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dengan pendapatan yang berasal dari segmen recurring memiliki kontribusi yang tinggi sebesar 80% terhadap total pendapatan. 

Sementara, revenue emiten seperti CTRA dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) masih terkonsentrasi oleh segmen penjualan properti. 

“Sedangkan, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) memiliki porsi recurring di 40%,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (26/7/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia Abida Massi Armand menjelaskan, prospek emiten properti beraset recurring cenderung positif di sisa tahun 2026.

Segmen recurring income tumbuh konsisten sebagai buffer perlambatan penjualan hunian dan rebound IHSG memperbaiki sentimen sektor. 

Apalagi, suku bunga BI saat ini masih membebani bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan daya beli kelas menengah belum sepenuhnya pulih. 

Baca Juga: Remala Abadi (DATA) Mulai Tarik Pinjaman Rp 200 Miliar untuk Capex

“PWON menjadi jawara dengan mal premium occupancy di atas 90% yang tidak terpengaruh suku bunga dan segmen hunian Surabaya yang lebih resilient,” tuturnya.

Adrian bilang, terdapat beberapa katalis positif yang mendukung sektor ini, di antaranya perpanjangan insentif PPN DTP. 

Di segmen komersial, data dari SMRA juga menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan masih mencatatkan tingkat okupansi yang tangguh, yakni di atas level 80%. 

“Namun di sisi lain, beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai meliputi era suku bunga tinggi, ketidakpastian geopolitik global, serta tren pelemahan daya beli masyarakat,” paparnya.

Adrian pun merekomendasikan trading buy untuk PWON dengan target harga terdekat di Rp 284 per saham.

Kevin bilang, prospek kinerja emiten properti masih tertekan oleh suku bunga yang tinggi dan demand perumahan yang masih  lemah. 

Beberapa emiten seperti PWON yang memiliki recurring revenue sebesar 80% dari revenues dapat tertolong dengan segmen tersebut.

 

“Namun emiten seperti CTRA dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang memiliki porsi revenue recurring yang tergolong kecil, performanya masih akan didorong oleh penjualan rumah,” tuturnya.

Kevin merekomendasikan beli untuk BSDE, CTRA, PWON, dan SMRA dengan target harga masing-masing Rp 1.050 per saham, Rp 850 per saham, Rp 430 per saham, dan Rp 470 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×