Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Di awal November ini, PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) mulai banyak diperbincangkan pelaku pasar. Hal itu terkait dengan aksi korporasi perusahaan yang dilakukan belum lama ini. Teranyar, BORN berekspansi dengan mengapit 23,8% saham di Bumi Plc.
Penandatangan perjanjian jual beli (sales and purchase agreement) antara BORN dengan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan Long Houl Holding sudah dilakukan pada 31 Oktober lalu.
Dalam aksi ini, BORN harus merogoh kocek dalam-dalam. Bahkan, perusahaan milik taipan Samin Tan tersebut rela meminjam dana dari Standard Chartered Bank senilai US$ 1 miliar. Padahal sebelum melakukan pinjaman itu, posisi utang BORN pun terbilang sangat kecil.
Untuk mendapatkan dana segar tersebut, BORN pun harus menggadaikan beberapa asetnya yaitu saham anak usaha PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT) yang 99,9% dimiliki BORN, cash flow perusahaan dan juga jatah saham BORN di Bumi Plc. Sebaliknya, dengan masuknya BORN, perusahaan grup Bakrie mendapatkan dana segar untuk pembayaran utang-utangnya.
Namun setelah aksi korporasi tersebut, saham BORN malah terpangkas hingga kini bergerak di kisaran Rp 890 - Rp 850 per saham. Padahal sebelum aksi ini, BORN berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih hingga 406,94% dari Rp 261,98 miliar pada sembilan bulan pertama 2010 menjadi Rp 1,32 triliun pada sembilan bulan pertama 2011
Kenaikan laba bersih seiring kenaikan pendapatan sebesar 115,13% dari Rp 2,06 triliun pada sembilan bulan pertama 2010 menjadi Rp 4,44 triliun pada sembilan bulan pertama 2011. Laba kotor perseroan juga naik menjadi Rp 2,59 triliun pada sembilan bulan pertama 2011 dari periode sama sebelumnya Rp 1,12 triliun.
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang pun mengaku bingung dengan aksi yang dilakukan BORN ini. "Pinjaman senilai US$ 1 miliar tersebut saja sudah aneh terlebih mereka mau membeli dengan harga premium. Apalagi, BORN juga tidak mengharapkan dividen dari sana. Ini saja sudah tidak menguntungkan," katanya.
Walaupun dengan pinjaman tersebut DER BORN masih 1,2 kali tapi Edwin tetap menghawatirkan kondisi perusahaan penghasil coking coal tersebut. "Bunga yang harus mereka bayarkan itu dapat mengganggu cash flow mereka ke depannya," lanjutnya. Terlebih ia memprediksi harga coking coal tahun depan diprediksi turun. Tak heran jika akhirnya Edwin merekomendasikan jual untuk saham BORN.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













