kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Rupiah Menguat Jadi Rp 18.058 per Dolar AS Selasa (9/6), Ini Faktor Pendorongnya


Selasa, 09 Juni 2026 / 21:13 WIB
Rupiah Menguat Jadi Rp 18.058 per Dolar AS Selasa (9/6), Ini Faktor Pendorongnya
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026), (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026),

Penguatan mata uang Garuda ini dipicu oleh respons positif pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 18.058 per dolar AS atau menguat 0,72% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp 18.188 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga membaik menjadi Rp 18.141 per dolar AS dari sebelumnya Rp 18.171 per dolar AS.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai keputusan BI menaikkan suku bunga menjadi katalis utama yang mendorong apresiasi rupiah.

Baca Juga: Buyback Saham BUMN Jadi Sentimen Positif, Analis: Efeknya Terbatas

"Kenaikan suku bunga tersebut meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik dan memberikan sinyal kuat bahwa otoritas moneter berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya gejolak global," ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, kenaikan BI Rate membuat instrumen keuangan domestik menjadi lebih menarik bagi investor sekaligus mempertegas komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selain didukung kebijakan suku bunga, penguatan rupiah juga ditopang oleh langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing dan pasar obligasi. Di sisi lain, membaiknya sentimen risiko global turut mendorong aliran dana asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik sehingga memberikan dukungan tambahan bagi pergerakan rupiah.

Meski demikian, Rizal menilai penguatan rupiah saat ini lebih mencerminkan respons jangka pendek pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dibandingkan adanya perbaikan fundamental ekonomi yang bersifat permanen.

Ia menilai volatilitas rupiah masih berpotensi tinggi selama tekanan eksternal terus berlangsung dan berbagai tantangan domestik belum sepenuhnya mereda. Beberapa faktor yang masih menjadi perhatian antara lain persepsi risiko fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, hingga ketidakpastian terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham CPIN, ESSA, PTBA untuk Rabu (10/6)

"Keberlanjutan penguatan rupiah sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah dan Bank Indonesia dalam memperkuat fundamental ekonomi, menjaga kredibilitas kebijakan, dan memulihkan kepercayaan investor secara berkelanjutan, bukan hanya melalui kenaikan suku bunga," kata Rizal.

Untuk perdagangan Rabu (10/6/2026), Rizal memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp 17.980 hingga Rp 18.120 per dolar AS.

Menurutnya, pelaku pasar masih akan mencermati dampak lanjutan kenaikan BI Rate terhadap stabilitas pasar keuangan dan arus modal asing. Selain itu, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan bank sentral utama dunia, pergerakan indeks dolar AS, serta imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga diperkirakan tetap menjadi faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Dari sisi domestik, investor juga akan memantau konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter, kondisi likuiditas valuta asing, serta kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×