kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Addendum EBA jadi pilihan amankan investor saat pandemi


Minggu, 25 Oktober 2020 / 20:15 WIB
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia (BEI)./pho KONTAN/Carolus Agus waluyo/16/10/2020.


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah addendum dokumen efek beragun aset (EBA) yang dilakukan beberapa perusahaan akibat pandemi akhir-akhir ini, diharapkan bisa menjadi sentimen positif, khususnya memberikan rasa aman kepada para investor.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, langkah addendum dokumen EBA cukup baik dilakukan demi menjaga hak investor agar tidak merugi. Di sisi lain, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 telah berpengaruh banyak terhadap perekonomian dan perusahaan.

"Addendum merupakah langkah untuk menjaga investor. Investor bisa lebih tenang karena cashflow lebih fix. Cuman, kalau ini berlanjut, (kinerja) perusahaan bisa ikut terpengaruh," kata Wawan kepada Kontan, Minggu (25/10).

Kabarnya, Sarana Multi Finance (SMF) berencana melakukan addendum dokumen transaksi terkait sejumlah EBA-SP yang mereka bentuk. Upaya tersebut dilakukan lantaran pandemi Covid-19 membuat rasio kredit macet (NPL) dari kumpulan tagihan sejumlah EBA mengalami peningkatan.

Baca Juga: Walau ada pandemi corona, banyak bank masih bisa naik kelas di tahun ini

Kondisi tersebut tentunya dapat mempengaruhi penerimaan hasil penagihan bunga pada rekening bunga dan penagihan pokok pada rekening pokok. Menangapi kondisi tersebut, SMF dikabarkan bersedia untuk menyetor sejumlah dana tambahan agar pembayaran ke investor lancar, dan itu memerlukan addendum.

Sebelumnya, ada juga EBA milik Garuda Indonesia (GIAA) yang kesulitan bayar dan kesulita menambah modalnya. Perusahaan transportasi plat merah tersebut akhirnya melakukan addendum untuk produk EBAnya.

Secara umum, EBA merupakan produk investasi bebasis surat utang dengan jaminan aset keuangan perusahaan kepada investor. Untuk EBA GIAA, yang jadi jaminan adalah hasil penjualan tiket umrah, dimana jika tanpa kehadiran Covid-19 cashflownya hampir bisa dikatakan aman. Begitu juga pada EBA SMF sendiri, yang menjadi jaminannya yakni tagihan komersialnya pada kredit perumahan.




TERBARU

[X]
×