Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Merosotnya imbal hasil (yield) US Treasury akibat gejolak pasar global tidak serta-merta memicu masuknya dana ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Meski selisih imbal hasil (spread) makin melebar, derasnya aliran modal asing (inflow) ke instrumen domestik masih tertahan oleh tingginya premi risiko Indonesia.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menekankan bahwa pergerakan modal asing ke pasar domestik tidak semata-mata merespons lebarnya selisih imbal hasil, terlebih jika pemicu utamanya adalah sentimen penghindaran risiko di pasar global.
Yield US Treasury 10 tahun sempat merosot 19,8 basis poin hingga ditutup pada level 4,951%. Penurunan drastis ini murni didorong oleh aksi flight to quality, di mana investor global memburu aset aman (safe haven) menyusul krisis fiskal dan politik di Prancis yang kian memburuk, serta kekhawatiran pasar atas lonjakan utang emiten teknologi raksasa demi mendanai infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Kondisi kepanikan eksternal tersebut membuat spread antara UST dan yield SBN 10 tahun, yang bertengger di sekitar 7,42%, melebar secara signifikan hingga kisaran 247 basis poin.
Baca Juga: Yield US Treasury Anjlok, Asing Berpotensi Serbu SBN Mencapai Rp 15 Triliun
Namun, lantaran pemicunya adalah penghindaran risiko, ketersediaan likuiditas global cenderung parkir di aset dolar AS ketimbang beralih ke pasar negara berkembang (emerging market).
"Jika risk off bertahan, pelebaran spread lebih berfungsi sebagai kompensasi risiko daripada magnet modal otomatis," terang Syafruddin kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).
Sejalan dengan analisis tersebut, Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia Tbk, Fudji Rahardjo menilai daya tarik obligasi pemerintah secara perbandingan yield memang membesar.
Walau begitu, prospek masuknya dana segar dari luar negeri tetap bergantung pada seberapa cepat meredanya faktor tensi geopolitik dan indikator risiko domestik.
Baca Juga: Dolar AS Dipengaruhi Imbal Hasil US Treasury dan Harga Minyak, Ini Proyeksinya
"Kepemilikan asing atas SBN meningkat Rp 9,21 triliun pada 12–15 Oktober 2026, namun level CDS Indonesia di atas 100 dapat berpotensi menghambat inflow," ungkap Fudji.
Kini, fokus pelaku pasar mulai tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Dengan ekspektasi kuat bahwa The Fed akan menahan suku bunga di level 3,75%–4,00% pada 28 Oktober mendatang, pasar keuangan domestik berpeluang mendapat sentimen positif jika kebijakan tersebut diiringi nada dovish.
Bila premi risiko menyusut dan rupiah stabil, yield SBN 10 tahun diyakini bisa terkoreksi ke rentang 7,10%–7,30%, sekaligus memberi ruang penguatan rupiah menuju level ekuilibrium Rp 17.700–Rp 18.000 per dolar AS.
Menyikapi tingginya ketidakpastian global tersebut, strategi pengelolaan durasi portofolio investasi menjadi instrumen kunci.
Pendekatan barbell pada SBN bertenor menengah 5 hingga 10 tahun dinilai sangat rasional untuk menyeimbangkan imbal hasil (carry trade) dan mendulang potensi capital gain.
Sebaliknya, bagi pelaku pasar konservatif yang lebih memprioritaskan perlindungan nilai portofolio dari risiko durasi dan volatilitas, obligasi berjangka pendek patut dijadikan bantalan investasi yang solid.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah Jumat (9/10), Yield US Treasury dan Geopolitik Jadi Tekanan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














