kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Telkom (TLKM) Ekspansi Pusat Data AI, BRI Danareksa Targetkan Harga Saham Rp 3.500


Minggu, 25 Oktober 2026 / 06:05 WIB
Telkom (TLKM) Ekspansi Pusat Data AI, BRI Danareksa Targetkan Harga Saham Rp 3.500
ILUSTRASI. Telkom - kontan kilas online (TELKOM/KILAS)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memperbesar ambisinya di bisnis pusat data berbasis kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) dan konektivitas global. Ekspansi pusat data NeutraDC di Batam hingga berkapasitas 118 megawatt (MW) serta target peningkatan nilai perusahaan Telin menjadi Rp 40 triliun – Rp45 triliun pada 2030 menjadi pendorong prospek pertumbuhan jangka panjang Telkom.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, dalam riset tertanggal 22 Oktober 2026, menilai ekspansi tersebut membuka peluang bagi Telkom untuk mengalihkan fokus belanja modal dari pengendalian intensitas investasi pada 2026 menuju pengembangan aset digital berpotensi pertumbuhan tinggi pada 2027.

Menurut Kafi, rencana pengembangan NeutraDC Batam telah diperbesar dari tiga kawasan pusat data kolokasi berkapasitas masing-masing 18 MW menjadi lokasi berkapasitas total 118 MW yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur AI.

Baca Juga: BEI Akan Keluarkan 82 Saham HSC dari IHSG, Volatilitas Berpotensi Menurun?

Dari total kapasitas tersebut, proyek BTM-1 memiliki kapasitas 18 MW dan seluruhnya telah terikat kontrak. Sebanyak 6 MW pertama ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV-2026. Sementara itu, proyek BTM-2 dengan kapasitas 100 MW ditargetkan siap melayani pelanggan pada 2028.

Meski peluang pasar pusat data di Batam masih menarik, pengembangan industri ini menghadapi tantangan besar, terutama terkait ketersediaan listrik dan air. Kafi mencatat, total proyek pusat data yang direncanakan di Batam mencapai 1,5 gigawatt (GW), sementara kebutuhan listriknya diperkirakan mencapai 2 GW. Angka tersebut jauh melampaui kapasitas pembangkit listrik terpasang yang baru sekitar 1 GW.

Keterbatasan juga muncul pada pasokan air. Waduk di Batam yang mengandalkan curah hujan dinilai memiliki ruang kapasitas tambahan yang terbatas untuk menopang kebutuhan industri pusat data yang terus berkembang.

Kondisi tersebut mendorong BP Batam mewajibkan operator pusat data membangun pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air secara mandiri. Kebijakan ini menambah kebutuhan investasi bagi pelaku industri.

Kafi memperkirakan persyaratan tambahan tersebut meningkatkan belanja modal proyek BTM-2 sebesar US$1,1 juta per MW. Tambahan biaya ini setara sekitar 14% di atas panduan biaya pembangunan pusat data sebesar US$ 7 juta – US$ 9 juta per MW.

Meski demikian, NeutraDC Batam dinilai memiliki posisi yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah pesaing karena telah mengamankan pasokan listrik sebesar 90 MW dan didukung Medco sebagai mitra usaha patungan alias joint venture (JV).

Selain pusat data, bisnis konektivitas internasional Telkom melalui PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) juga dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi grup.

Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) Siapkan Dividen Interim Rp 300 Miliar, Cek Jadwalnya

Kafi mengungkapkan, kapasitas kabel laut milik Telin telah terjual lebih dari 85%. Bahkan, kabel laut Bifrost yang baru diluncurkan diperkirakan mencapai kapasitas terjual penuh pada kuartal I-2027. Permintaan yang kuat terutama didorong oleh pertumbuhan kebutuhan AI dan komputasi awan (cloud).

Telin saat ini berada di tengah transformasi bisnis, dari layanan suara internasional konvensional menuju konektivitas. Perubahan tersebut diharapkan meningkatkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perusahaan menjadi Rp2 triliun pada 2026, sesuai panduan manajemen.

Dalam jangka panjang, Telkom menargetkan bisnis konektivitas menyumbang 80% pendapatan Telin dan mendorong nilai perusahaan tersebut mencapai Rp 40 triliun – Rp 45 triliun pada 2030. Untuk mendukung ambisi tersebut, Telin merencanakan belanja modal sebesar Rp32 triliun hingga 2031.

Kafi memandang Telin sebagai aset bernilai yang belum mendapat perhatian memadai di dalam grup Telkom. Bisnis ini juga dinilai menjadi salah satu cara bagi investor untuk memperoleh eksposur langsung terhadap pertumbuhan industri pusat data, seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas untuk mendukung layanan AI dan cloud.

Besarnya rencana ekspansi NeutraDC dan Telin berpotensi mengubah arah belanja modal Telkom pada 2027. Jika sebelumnya fokus perusahaan pada 2026 lebih menekankan pengendalian intensitas belanja modal, Kafi melihat ruang bagi Telkom untuk kembali meningkatkan investasi guna memperbesar kapasitas bisnis digitalnya.

Rencana belanja modal Telin sebesar Rp 32 triliun hingga 2031 setara dengan rata-rata sekitar Rp 6,4 triliun per tahun. Dengan asumsi tersebut, belanja modal konsolidasi Telkom pada 2027 berpotensi meningkat menjadi sekitar Rp 35 triliun, dari estimasi awal BRI Danareksa Sekuritas sebesar Rp 29 triliun.

Angka tersebut belum memperhitungkan kebutuhan belanja modal proyek NeutraDC Batam BTM-2 yang diperkirakan mencapai Rp 13 triliun – Rp 17 triliun. Namun, realisasi investasi BTM-2 masih bergantung pada proses divestasi NeutraDC. Manajemen disebut telah mulai menjajaki sumber pendanaan pinjaman untuk mendukung proyek tersebut.

Baca Juga: Asing Net Sell Rp 8,72 Triliun Sepekan, Cermati Saham yang Banyak Dijual

Kemampuan Telkom memperoleh pendanaan juga ditopang oleh tingkat leverage yang relatif rendah. BRI Danareksa Sekuritas mencatat rasio utang bersih terhadap EBITDA (net debt/EBITDA) Telkom sebesar 0,6 kali, yang memberikan ruang bagi perusahaan untuk mendanai ekspansi.

Meski peningkatan investasi berpotensi menekan arus kas bebas (free cash flow/FCF) dalam jangka pendek, Kafi menilai pergeseran portofolio menuju aset pusat data dan kabel laut yang bernilai tinggi dapat memperkuat visibilitas pertumbuhan jangka panjang Telkom.

Atas dasar itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.500 per saham. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko kurangnya investasi pada jaringan 5G yang dapat memengaruhi daya saing bisnis telekomunikasi Telkom ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×