kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Berpotensi Melejit ke Level US$ 118 per Barel


Minggu, 25 Oktober 2026 / 14:51 WIB
Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Berpotensi Melejit ke Level US$ 118 per Barel
ILUSTRASI. OIL-MAJORS/INVENTORIES (REUTERS/Richard Carson)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar minyak dunia. Kekhawatiran terhadap potensi serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran serta gangguan pasokan dari sejumlah negara produsen berpeluang menjaga harga minyak tetap tinggi.

Mengutip Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup di level US$ 103,27 per barel pada perdagangan Jumat (23/10/2026), naik 3,82% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak Brent menguat 3,14% menjadi US$ 116,72 per barel. 

Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan AS tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran dan menyebut sesuatu akan terjadi dalam waktu dekat. Laporan mengenai rencana serangan baru AS dan Israel terhadap Iransetelah pemilihan paruh waktu AS turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap prospek pasokan energi.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Tertekan hingga di Bawah US$ 4.000, Ini Proyeksi Akhir 2026

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut, perkembangan geopolitik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia.

"Ya salah satu penyebabnya adalah secara geopolitik. Geopolitik pertama ini tentang masalah perang di Eropa Timur yang semakin menjadi-jadi," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026)

Selain konflik di Timur Tengah, penghentian produksi minyak di Libya akibat sabotase juga menambah risiko gangguan pasokan. Kondisi ini menjadi perhatian karena Libya merupakan salah satu negara penghasil minyak mentah yang memasok pasar global.

"Libya saat ini menghentikan produksi karena adanya sabotase. Kami lihat bahwa Libya salah satu negara penghasil minyak mentah kualitas tinggi yaitu brent oil ya sehingga pada saat pergantian minyak di produksi minyak di Libya ini akan membuat kemungkinan besar brent oil yaitu akan di US$ 118 melebihi WTI crude oil yang kemungkinan besar hanya di US$ 108,30," kata Ibrahim.

Di Timur Tengah, risiko gangguan pasokan juga meningkat seiring berlanjutnya ketegangan yang melibatkan Iran dan AS. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran turut melancarkan serangan terhadap Arab Saudi.

Situasi tersebut bahkan mendorong Departemen Luar Negeri AS memerintahkan personel yang tidak esensial untuk meninggalkan negara itu. Sementara itu, Saudi Aramco dilaporkan meminta staf di kantor pusatnya di Dhahranbekerja dari jarak jauh setelah serangkaian serangan.

Baca Juga: Yield US Treasury Terjun Imbas Risk Off, Derasnya Inflow SBN Masih Tertahan CDS

Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi global melalui peningkatan biaya transportasi dan logistik. Kondisi ini juga dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve, terutama apabila harga energi bertahan tinggi.

Untuk perdagangan pekan terakhir Oktober 2026, Ibrahim memproyeksikan harga minyak WTI bergerak pada rentang US$ 96,90 hingga US$ 108,30 per barel. Adapun harga minyak Brent berpotensi menembus US$ 118 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×