kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -1.000   -0,04%
  • USD/IDR 17.876   21,00   0,12%
  • IDX 6.277   -107,68   -1,69%
  • KOMPAS100 821   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,68   -1,37%
  • ISSI 216   -5,69   -2,56%
  • IDX30 347   -5,77   -1,63%
  • IDXHIDIV20 433   -6,98   -1,59%
  • IDX80 94   -1,46   -1,53%
  • IDXV30 119   -2,04   -1,69%
  • IDXQ30 112   -1,71   -1,50%

Yield US Treasury Naik, Bagaimana Efeknya ke Pasar SBN?


Selasa, 22 September 2026 / 15:03 WIB
Yield US Treasury Naik, Bagaimana Efeknya ke Pasar SBN?
ILUSTRASI. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) cukup tangguh menghadapi lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury yang sempat tembus  hingga level 5%.? (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) cukup tangguh menghadapi lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury yang sempat tembus  hingga level 5%.

Ditopang arus modal asing yang mencetak net buy enam minggu beruntun serta kedisiplinan fiskal domestik, pergerakan yield SBN diproyeksikan cenderung melandai hingga akhir 2026.

Kenaikan yield US Treasury (UST) 10 tahun ke level 5% sempat mempersempit jarak imbal hasil (yield spread) dan meningkatkan opportunity cost bagi investor global.

Meski demikian, pergerakan yield SBN relatif resilien. Setelah sempat menyentuh level 7,29% pada akhir Juli, yield SBN tenor 10 tahun justru melandai cukup signifikan sepanjang Agustus 2026.

Baca Juga: Investor Terus Bertambah, SBN Ritel Masih Diminati

Kekuatan pasar obligasi pemerintah didukung oleh derasnya aliran dana investor luar negeri yang masuk ke pasar sekunder.

Investor asing tercatat membukukan net buy selama enam minggu berturut-turut dengan total akumulasi mencapai sekitar Rp 34 triliun di tengah gejolak pasar global.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, daya tarik SBN tetap ditopang fundamental ekonomi dalam negeri yang solid, mulai dari stabilitas rupiah, inflasi yang terjaga di kisaran sasaran Bank Indonesia 2,5% ±1%, hingga permintaan investor domestik yang tebal.

Dari sisi pasokan, risiko emisi SBN di sisa tahun ini tergolong terkendali berkat strategi front-loading pemerintah di awal tahun serta pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL).

"Realisasi defisit APBN hingga Agustus yang masih relatif rendah memberikan keyakinan bahwa defisit 2026 dapat tetap dijaga di bawah 3% PDB," kata Handy kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).

Melihat dinamika geopolitik dan harga minyak yang masih bergejolak, pergerakan yield diperkirakan cenderung sideways dengan bias menurun apabila ketegangan global mereda.

Momen koreksi harga akibat sentimen luar negeri dapat dimanfaatkan investor untuk mulai menambah durasi portofolio secara bertahap.

"Kami masih cukup konstruktif terhadap SBN, tetapi menyarankan investor lebih selektif dan melakukan gradual accumulation saat terjadi koreksi," ujar Handy.

Baca Juga: SBN Indonesia Menarik di Asia, Tapi Yield Berpotensi Naik Lagi

Hingga akhir tahun 2026, Handy memproyeksikan yield SBN tenor 5 tahun berada di kisaran 6,5%–6,7%, sedangkan yield SBN tenor 10 tahun diperkirakan berada di rentang 6,8%–7,0%.

Namun, pencapaian level tersebut sangat bergantung pada dinamika pasar global.

Jika UST 10 tahun terus bertahan di atau di atas level 5%, ruang penguatan (rally) SBN bakal terbatas.

Sebaliknya, apabila tekanan global mereda, rupiah stabil, dan foreign inflows berlanjut, yield SBN berpeluang besar melandai menuju kisaran target tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×