kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45916,59   -3,72   -0.40%
  • EMAS1.343.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Yield US Treasury Naik, Rupiah Berpotensi Tertekan


Minggu, 01 Oktober 2023 / 20:08 WIB
Yield US Treasury Naik, Rupiah Berpotensi Tertekan
ILUSTRASI. Seiring suku bunga Amerika Serikat (AS) yang tinggi, yield US Treasury 10 Tahun (UST) terus mendaki.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring suku bunga Amerika Serikat (AS) yang tinggi, yield US Treasury 10 Tahun (UST) terus mendaki. Berdasarkan data Bloomberg, per Jumat (29/9) yield UST tenor 10 tahun berada di level 4,59%. Angka ini naik dari bulan sebelumnya di 4,12% dan telah melesat dari posisi 3,79% di awal tahun.

Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto mengatakan, kenaikan yield UST 10 Tahun akan memberikan dampak terhadap pasar obligasi dalam negeri. Salah satunya, yield surat utang negara (SUN) di dalam negeri juga akan meningkat.

Yield di AS terdorong naik setelah pada awal Agustus lalu Fitch Ratings menjadi Lembaga Pemeringkat kedua yang menurunkan peringkat sovereign credit AS, setelah yang dilakukan oleh S&P di tahun 2011. Penurunan peringkat pada kedua periode yang berbeda tersebut kurang lebih disebabkan oleh satu hal yang sama, yaitu krisis pagu utang akibat sulitnya tercapai kesepakatan antara Pemerintah dan DPR AS.

"Hal ini kemudian dipandang oleh pasar sebagai risiko tersendiri, sehingga mendorong yield di AS meningkat," ujar dia, Jumat (29/9).

Baca Juga: Pergerakan Rupiah Senin (2/10) Masih Disetir Faktor Eksternal

Menurut Suhindarto, dengan yield UST yang juga semakin meningkat, bukan tidak mungkin hal ini juga akan memicu arus modal untuk keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia untuk kembali ke AS. Mengingat saat ini posisi real yield AS sudah kembali ke zona positif seiring dengan inflasi yang terus menurun.

Dalam kasus Indonesia, kenaikan yield UST juga patut diwaspadai. Sebab, beberapa waktu terakhir surplus neraca perdagangan Indonesia semakin menipis seiring dengan siklus harga komoditas yang mulai ternormalisasi.

"Oleh karenanya, perlu mewaspadai tekanan terhadap nilai tukar yang akan terjadi selama beberapa waktu ini akibat adanya arus keluar modal," pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP) Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet

[X]
×