kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.997.000   -24.000   -0,79%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Eskalasi Timur Tengah Pacu Permintaan Batubara, Simak Rekomendasi Saham Batubara


Minggu, 15 Maret 2026 / 14:37 WIB
Eskalasi Timur Tengah Pacu Permintaan Batubara, Simak Rekomendasi Saham Batubara
ILUSTRASI. Batu bara di Terminal Batubara Pelabuhan Guoyuan, China (CFOTO/Sipa USA via Reuters Conne/Costfoto)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Permintaan batubara diproyeksi meningkat setelah meningkatnya eskalasi di Timur Tengah. Eskalasi tersebut membuat harga minyak global meningkat dan berpotensi membuat perusahaan utilitas beralih ke batubara.

Erindra Krisnawan, Analis BRI Danareksa Sekuritas mencatat kondisi pasar batubara lesu pada tahun 2025. Hal ini didorong oleh permintaan yang lebih lemah dari China dan India. Meski begitu ia percaya permintaan batubara termal dapat meningkat secara dramatis dalam skenario gangguan pasokan minyak karena eskalasi di Timur Tengah. 

Menurutnya, gangguan dalam aliran minyak dan pasokan gas di Timur Tengah dapat mendorong harga minyak dan LNG lebih tinggi. Hal ini berpotensi mendorong perusahaan utilitas di India, Asia Tenggara, dan sebagian Eropa untuk meningkatkan penggunaan batubara. 

Baca Juga: Emiten Hotel dan Resor Bersiap Tuai Berkah Selama Libur Lebaran 2026

Analisis skenario BRI Danareksa Sekuritas melihat bahwa gangguan singkat dapat meningkatkan permintaan batubara termal global sebesar 40 juta – 55 juta ton (naik 0,5% dari permintaan global). Sementara peristiwa yang lebih berkelanjutan dapat mendorong peningkatan permintaan lebih dari 91 juta ton (naik lebih dari 1,1% dari permintaan global). Lalu, dalam skenario guncangan yang berkepanjangan, peningkatan permintaan dapat melebihi 180 juta ton (naik lebih dari 2,1% dari permintaan global).    

“Kami memperkirakan peningkatan permintaan batubara termal sebesar naik 40 juta – 268 juta ton dan potensi kenaikan harga batubara termal akibat guncangan energi yang mungkin terjadi,” jelas Erindra dalam risetnya pada 5 Maret 2026. 

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, prospek kinerja emiten batubara pada kuartal I-2026 cenderung relatif resilien meskipun harga komoditas masih berada di bawah puncak siklus sebelumnya. Stabilitas harga batubara global di kisaran US$ 135 – US$ 140/ton berdasarkan kontrak ICE Newcastle futures menunjukkan bahwa pasar mulai menemukan titik keseimbangan baru setelah periode koreksi yang cukup panjang pada 2025. 

Di sisi lain, potensi gangguan pasokan LNG dari Timur Tengah berpotensi memicu fenomena fuel switching di sektor pembangkit listrik, khususnya di Asia yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor LNG.  

“Kondisi ini membuka peluang peningkatan permintaan batubara sebagai sumber energi alternatif dalam jangka pendek,” ujar Imam.  

Muhammad Thoriq Fadilla, Research Analyst Bumiputera Sekuritas melihat tren transisi energi global juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Mengingat banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batubara dan mempercepat pengembangan energi bersih. 

Baca Juga: Pemerintah Pangkas Produksi Batubara, Begini Dampaknya ke Emiten Sektor Batubara

Sementara itu, dari sisi domestik, perubahan kebijakan seperti penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahunan dan pembatasan produksi batubara turut meningkatkan ketidakpastian operasional bagi perusahaan tambang, khususnya terkait volume produksi dan perencanaan ekspansi usaha. 

Beberapa sentimen penting diperkirakan akan mempengaruhi kinerja sektor batubara sepanjang 2026. Dari sisi eksternal, pergerakan harga energi global menjadi salah satu faktor utama. Lonjakan harga LNG akibat ketegangan geopolitik sempat mendorong fenomena fuel switching dari gas ke batubara di sejumlah negara Asia, yang pada akhirnya memberikan dukungan terhadap harga batubara, khususnya untuk kualitas yang lebih tinggi. 

Selain itu, dinamika permintaan dari China dan India juga menjadi faktor kunci, mengingat kedua negara tersebut masih menjadi konsumen batubara terbesar di dunia. “Dengan demikian, kebijakan energi serta aktivitas industri di kedua negara ini akan sangat menentukan arah permintaan dan harga batubara global,” ucap Thoriq. 

Kemudian, dari sisi domestik, kebijakan produksi juga menjadi sentimen yang perlu diperhatikan. Pemerintah Indonesia berencana memangkas produksi batubara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun dari sekitar 790 juta ton pada 2025, sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan stabilitas harga di pasar global. 

“Apabila kebijakan ini diimplementasikan secara konsisten, langkah tersebut berpotensi menahan tekanan penurunan harga Batubara,” jelas Thoriq. 

Terkait kinerja saham, Imam melihat aktivitas akumulasi investor asing pada sejumlah saham emiten batubara seperti Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengindikasikan bahwa investor institusi masih melihat valuasi sektor ini menarik, terutama dari sisi dividend yield dan ketahanan arus kas di tengah fase harga komoditas yang mulai stabil. 

Baca Juga: Pemerintah Pangkas Produksi Batubara, Begini Dampaknya ke Emiten Sektor Batubara

Imam merekomendasikan Buy saham PTBA dengan target harga Rp 3.000 per saham. Sedangkan Thoriq merekomendasikan buy saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga Rp 10.875 per saham dan buy on weakness saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 3.010 per saham. 

Sementara Erindra merekomendasikan buy saham Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan target harga Rp 2.630 per saham, buy saham Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target harga Rp 26.500 per saham. Serta Buy saham PTBA dengan target harga Rp 3.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×