kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 17.960   33,00   0,18%
  • IDX 5.842   -101,38   -1,71%
  • KOMPAS100 756   -14,36   -1,86%
  • LQ45 586   -8,68   -1,46%
  • ISSI 200   -4,86   -2,37%
  • IDX30 327   -4,20   -1,27%
  • IDXHIDIV20 421   -3,51   -0,83%
  • IDX80 87   -1,55   -1,76%
  • IDXV30 115   -1,26   -1,09%
  • IDXQ30 107   -1,14   -1,05%

Sentimen Global Pengaruhi Yield SUN, Ini Proyeksi dan Seri Pilihan Obligasi


Kamis, 15 Oktober 2026 / 09:33 WIB
Sentimen Global Pengaruhi Yield SUN, Ini Proyeksi dan Seri Pilihan Obligasi
ILUSTRASI. Pasar Modal (KOMPAS/Priyombodo)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi pemerintah Indonesia atau Surat Utang Negara (SUN) masih menghadapi tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan imbal hasil atau yield obligasi global maupun domestik.

Indeks Harga Konsumen (IHK) AS atau headline Consumer Price Index (CPI) pada September 2026 tercatat meningkat menjadi 3,7% secara tahunan atau year on year (YoY). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi sebesar 3,4% pada dua bulan sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%.

Kenaikan inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh penguatan harga energi. Sementara itu, inflasi inti AS juga meningkat menjadi 2,6% YoY dari sebelumnya 2,4%.

Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan kembali menekan pasar saham AS. Pada perdagangan terakhir, indeks Nasdaq turun 1,88%, sedangkan S&P 500 terkoreksi 1,10%.

Tekanan jual terutama terjadi pada saham teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Meningkatnya ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut membebani valuasi saham-saham tersebut.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,26% ke Rp 17.950 per Dolar AS pada Kamis (15/10) Pagi

Di pasar obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST), pergerakan imbal hasil ditutup bervariasi. Rilis data inflasi September memperkuat kekhawatiran terhadap kemungkinan suku bunga bertahan tinggi atau meningkat dalam jangka pendek.

Yield UST bertenor dua tahun naik 3 basis poin menjadi 4,82%. Sebaliknya, imbal hasil UST bertenor 10 tahun turun 2 basis poin ke level 5,19%.

Yield SUN Domestik Bergerak Selektif

Tekanan di pasar global turut memengaruhi pergerakan Surat Utang Negara (SUN) Indonesia. Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan mencatat, pasar SUN domestik masih mengalami tekanan secara selektif, terutama pada tenor menengah dan panjang.

Imbal hasil obligasi pada segmen tengah (belly) dan tenor panjang meningkat sekitar 1-5 basis poin. Sementara itu, yield obligasi bertenor 1-4 tahun turun sekitar 1-3 basis poin.

Adapun seri obligasi acuan relatif stabil. Yield SUN bertenor lima tahun tercatat sebesar 7,00%, sedangkan tenor 10 tahun berada di level 7,19%.

Dari sisi aktivitas perdagangan outright berdasarkan nilai transaksi, seri FR0110 memimpin dengan turnover sebesar Rp 3,12 triliun. Posisi berikutnya ditempati FR0109 dengan nilai transaksi Rp 2,91 triliun dan FR0103 sebesar Rp 2,21 triliun.

Pergerakan yield SUN selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi global, ekspektasi kebijakan moneter AS, serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Subsidi Upah Jadi Perhatian di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Dari dalam negeri, daya beli rumah tangga pada kuartal IV-2026 diharapkan mendapat dukungan dari rencana penyaluran program subsidi upah.

Pemerintah menyiapkan anggaran hampir Rp 12 triliun untuk menjangkau sekitar 13,3 juta pekerja. Penerima yang memenuhi persyaratan diproyeksikan memperoleh pembayaran sekaligus (lump-sum) sebesar Rp 900.000.

Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah pada Kamis (15/10/2026) Pagi, MAPI, GOTO, WIFI Top Losers LQ45

Nilai tersebut setara dengan Rp 300.000 per bulan selama tiga bulan, dengan periode penyaluran direncanakan berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026.

Program ini menjadi salah satu faktor domestik yang perlu dicermati dalam menilai prospek ekonomi dan pasar obligasi Indonesia. Meski demikian, pergerakan yield tetap akan bergantung pada kombinasi sentimen eksternal dan perkembangan ekonomi dalam negeri.

"Mengingat perkembangan terkini di pasar global dan domestik, kami memperkirakan imbal hasil Indo-GB bertenor 10 tahun akan diperdagangkan di kisaran 7,10%-7,25% untuk hari ini," ungkap Ridwan dalam risetnya, Kamis (15/10/2026).

Di tengah dinamika pasar tersebut, Ridwan merekomendasikan sejumlah seri obligasi pemerintah Indonesia atau Indonesian Government Bonds (Indo-GB) yang dinilai atraktif untuk diperdagangkan investor.

Seri yang menjadi rekomendasi MNC Sekuritas meliputi PBS030, FR0104, FR0082, FR0111, dan FR0098.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×