Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar Surat Utang Negara (SUN) terpantau masih belum memiliki arah yang jelas seiring sikap investor yang cenderung wait and see menanti momentum lelang, di tengah kewaspadaan terhadap tekanan inflasi global.
Di pasar global, bursa Wall Street ditutup bervariasi pada awal pekan ini, dengan indeks Dow Jones naik tipis 0,38%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 0,06% dan 0,44%.
Kenaikan harga minyak di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran inflasi, sehingga membuat pelaku pasar bersikap ekstra hati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta dimulainya musim rilis laporan keuangan kuartal III.
Baca Juga: Penjualan SBR015 Terpusat di Tenor 2 Tahun, Investor Prioritaskan Fleksibilitas
Sektor energi tercatat berkinerja unggul (outperformed), berbanding terbalik dengan saham-saham sektor teknologi yang justru berada di bawah tekanan.
Sementara itu, pasar US Treasury ditutup karena libur memperingati Columbus Day, sehingga yield obligasi AS tidak mencatatkan perubahan dari penutupan sebelumnya.
Imbal hasil obligasi global lainnya juga minim pergerakan; yield Gilt Inggris tenor 10 tahun turun tipis 0,3 bps menjadi 5,44% dan yield Bund Jerman 10 tahun susut 0,4 bps ke 3,47%. Adapun yield JGB Jepang 10 tahun tertahan di level 3,02% seiring ditutupnya pasar domestik untuk libur Hari Olahraga.
Dari dalam negeri, pergerakan harga di pasar SUN cukup terbatas karena investor lebih memilih menepi (sidelines) jelang penawaran lelang.
Kendati demikian, adanya aksi beli selektif berhasil menekan imbal hasil (yield) SUN tenor 5 tahun turun 0,2 bps menjadi 7,01% dan tenor 10 tahun ke level 7,18%. Volume transaksi mayoritas terkonsentrasi pada seri benchmark likuid dan off-the-run, dengan perputaran transaksi tertinggi dipimpin oleh seri FR0110, PBS030, dan PBS040 yang masing-masing membukukan nilai Rp 2,33 triliun, Rp 1,55 triliun, dan Rp 0,84 triliun.
Baca Juga: IHSG Ambruk 2,59% ke 5.936, Saham Konglomerasi Rontok di Tengah Rumor Sanksi
Menyikapi agenda lelang SUN hari ini, diproyeksikan jumlah penawaran masuk (incoming bids) dapat mencapai kisaran Rp 45 triliun hingga Rp 50 triliun. Angka ini setara dengan 1,5 hingga 1,7 kali lipat dari target indikatif yang dipatok pemerintah sebesar Rp 30 triliun.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan menilai lelang kali ini akan memberikan gambaran apakah kenaikan yield yang terjadi baru-baru ini telah sukses memulihkan selera investasi pasar.
"Permintaan mungkin akan tetap tidak merata di seluruh tenor karena investor menyeimbangkan tingkat yield awal yang membaik dengan risiko eksternal yang masih membayangi," ungkap Ridwan dalam risetnya, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan perkembangan di pasar global dan domestik tersebut, pergerakan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun pada perdagangan hari ini diperkirakan akan berada di rentang 7,10% hingga 7,25%.
Bagi investor yang berencana melakukan trading, sejumlah seri Obligasi Negara yang dinilai menarik untuk dicermati meliputi seri FR0064, PBS030, FR0104, FR0109, dan FR0080.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














