kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

Rupiah Berpeluang Fluktuatif pada Senin (12/10), Investor Cermati Inflasi AS


Minggu, 11 Oktober 2026 / 14:06 WIB
Rupiah Berpeluang Fluktuatif pada Senin (12/10), Investor Cermati Inflasi AS
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada Senin (12/10/2026). P?elaku pasar akan mencermati dinamika harga minyak mentah.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (12/10/2026). Pelaku pasar akan mencermati dinamika harga minyak mentah dunia dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), serta menantikan rilis data inflasi AS yang dapat mempengaruhi pergerakan dolar AS.

Melansir Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,09% ke level Rp 17.899 per dolar AS pada Jumat (9/10/2026), dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup di level Rp 17.884 per dolar AS pada Jumat (9/10/2026), menguat 0,03% dibandingkan posisi Kamis (8/10/2026) di Rp 17.890 per dolar AS.

Baca Juga: Diversifikasi Elnusa (ELSA) Bidik Pasar Irak, Bisnis Non-Pertamina Berkontribusi 22%

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, sentimen eksternal memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat pada akhir pekan. Selain koreksi harga minyak mentah dan pelemahan dolar AS, respons positif investor terhadap lelang obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun turut menekan imbal hasil surat utang tersebut.

“Rupiah ditutup menguat ke level Rp 17.899 per dolar AS, didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia, pelemahan dolar AS sendiri dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah lelang obligasi tenor 30 tahun mencatat permintaan yang kuat,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Dari dalam negeri, pertumbuhan penjualan ritel Indonesia yang mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir turut memberikan sentimen positif bagi rupiah.

Memasuki pekan depan, arah pergerakan rupiah akan bergantung pada dinamika pasar keuangan global, terutama perubahan harga minyak dan tren kenaikan imbal hasil obligasi.

“Investor masih akan terus mencermati harga minyak dunia dan tingkat imbal hasil obligasi dunia yang meningkat tinggi belakangan ini,” pungkas Lukman.

Baca Juga: Rupiah Rawan ke 18.000 per Dolar AS, Intervensi BI Harus Dibarengi Dorongan Ekspor

Selain itu, pelaku pasar akan menantikan data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) dan inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) AS. Kedua data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Sementara itu, tidak ada rilis data ekonomi utama dari Indonesia yang menjadi perhatian pasar pada pekan depan. Dengan minimnya katalis domestik, pergerakan rupiah berpotensi lebih sensitif terhadap perkembangan eksternal.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.850-Rp 17.950 per dolar AS pada perdagangan besok Senin (12/9/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×