kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.736   51,00   0,29%
  • IDX 6.371   -228,56   -3,46%
  • KOMPAS100 843   -31,00   -3,55%
  • LQ45 635   -16,26   -2,50%
  • ISSI 228   -10,12   -4,25%
  • IDX30 361   -7,63   -2,07%
  • IDXHIDIV20 447   -8,36   -1,83%
  • IDX80 97   -3,13   -3,13%
  • IDXV30 125   -3,42   -2,67%
  • IDXQ30 117   -1,94   -1,63%

Hati-Hati, Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Berpotensi Menekan Pasar Saham


Selasa, 19 Mei 2026 / 19:49 WIB
Hati-Hati, Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Berpotensi Menekan Pasar Saham
ILUSTRASI. Kenaikan suku bunga pada dasarnya akan membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lebih sulit, sehingga berpotensi berdampak negatif ke pasar saham. ? (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku pasar saat ini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada 19–20 Mei 2026, terutama terkait keputusan suku bunga acuan atau BI rate. 

Berbeda dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, kali ini konsensus pasar memproyeksikan BI rate akan naik 25 basis poin ke level 5,00% dari sebelumnya 4,75%.

Managing Director Research and Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan apabila kenaikan suku bunga pada dasarnya akan membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lebih sulit, sehingga berpotensi berdampak negatif terhadap pasar saham. 

Meski demikian, Harry melihat pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah cukup dalam belakangan ini kemungkinan telah mencerminkan ekspektasi perlambatan ekonomi tersebut.

Baca Juga: GOTO Siapkan Empat Strategi Hadapi Aturan Komisi Tarif, Simak Rekomendasi Sahamnya

"Kalau suku bunga naik, akan lebih sulit untuk ekonomi kita tumbuh, sehingga seharusnya jelek untuk bursa. Akan tetapi, bursa sudah turun cukup dalam, sehingga mudah-mudahan telah mencerminkan perlambatan pertumbuhan tersebut," kata Harry.

Harry berpendapat emiten-emiten yang bersifat siklikal berpotensi paling terdampak oleh kenaikan suku bunga, seperti sektor perbankan dan properti. 

Selain itu, sektor discretionary seperti otomotif dan ritel juga dinilai rentan terkena tekanan. Perusahaan yang memiliki porsi pinjaman bank besar pun diperkirakan akan menghadapi kenaikan beban bunga.

Di tengah kondisi tersebut, investor dinilai dapat mulai melirik sektor-sektor defensif yang memiliki fundamental neraca keuangan kuat, terutama emiten dengan utang bank rendah serta posisi kas yang besar.

Baca Juga: Menakar Efek Pelemahan Rupiah Terhadap Kinerja Grup Indofood (ICBP) dan (INDF)

Di samping itu, apabila BI memutuskan menahan suku bunga di level saat ini, Harry menilai rupiah berpotensi mengalami depresiasi lebih lanjut. Kondisi tersebut juga dinilai kurang positif bagi sentimen pasar saham domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×