kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Wow, bursa Asia melonjak 3% dalam sepekan


Minggu, 12 Agustus 2012 / 09:32 WIB
ILUSTRASI. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.


Reporter: Barratut Taqiyyah, Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

SINGAPURA. Mayoritas bursa Asia mencatatkan kenaikan pada pekan lalu. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, indeks MSCI Asia Pacific naik 3% menjadi 120,50. Ini merupakan kenaikan terbesar sejak periode mingguan yang berakhir 20 Januari lalu.

Indeks Nikkei 225 Stock Average Jepang, misalnya, naik 3,9% pada pekan ini. Sedangkan, indeks Hang Seng Hong Kong naik 2,4%, Shanghai Composite Index China naik 1,7%, indeks Taeix Taiwan naik 3,1%, dan indeks Kospi Korea Selatan naik 5,3%. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia juga mencatatkan kenaikan 1.3%.

Pergerakan sejumlah saham turut mempengaruhi bursa Asia. Salah satunya adalah Toyota Motor Corp yang naik 3,4% pekan ini di Tokyo. Selain itu, ada pula saham Rio Tinto Group yang melompat 8,5% di Sydney setelah membukukan kinerja yang melampaui estimasi. Ada pula saham DeNa Co yang meroket 27% setelah membukukan laba operasional yang melampaui analis.

Salah satu sentimen yang mempengaruhi pergerakan bursa regional adalah data positif ekonomi AS yang mendongkrak tingkat kepercayaan pelaku pasar. Selain itu, investor juga berspekulasi China akan melakukan penggelontoran stimulus untuk menggairahkan kembali ekonomi mereka.

"Bagi AS,ada penurunan ekspektasi secara signifikan. Sehingga, meskipun data yang ada lemah namun tetap dipandang bagus. Jika Anda melihat isu kebijakan di China, semuanya mengarah kepada sokongan pertumbuhan ekonomi. Pasar sudah terbilang murah saat ini," urai Binay Chandgothia, portfolio manager Principal Global Investors.

Catatan saja, jika dihitung, indeks acuan di kawasan regional sudah terpangkas 8,5% dari posisi tertingginya tahun ini yang tercipta pada 29 Februari lalu. Penyebabnya, krisis Eropa semakin memburuk dan terjadi perlambatan ekonomi AS dan China yang menekan outlook permintaan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×