Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Saham perbankan dan emiten berkapitalisasi besar dengan kepemilikan asing tinggi dinilai menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
"Karena itu, jika terjadi window dressing, kemungkinan hanya bersifat technical rebound dan tidak akan berkelanjutan," ujar Henry.
Ia menambahkan, arah IHSG selanjutnya akan lebih ditentukan oleh perkembangan yang mampu memulihkan kepercayaan investor, termasuk langkah reformasi yang kredibel dari regulator pasar modal.
Selama ketidakpastian belum mereda, tekanan jual asing berpotensi berlanjut.
Baca Juga: Kinerja NCKL Masih Prospektif di 2026, Cermati Rekomendasi Analis
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan, window dressing secara historis berkaitan dengan penyesuaian portofolio investor institusi menjelang akhir tahun.
Namun, tekanan fundamental yang dihadapi pasar saat ini membuat pola musiman tersebut belum tentu terulang.
Menurut Rully, sulit memperkirakan kapan tekanan jual akan berhenti karena keputusan investor juga dipengaruhi perkembangan global dan kebijakan domestik.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan menyarankan investor melakukan akumulasi saham secara bertahap, bukan langsung mengambil posisi penuh.
Baca Juga: Kinerja Operasional Elnusa (ELSA) Tumbuh Solid Kuartal I-2026, Cek Rekomendasi Analis
Investor juga perlu mempertimbangkan saham yang relatif lebih tahan terhadap tekanan jual asing, baik yang masuk maupun di luar indeks MSCI, dengan memperhatikan stabilitas partisipasi investor asing.
Fundamental yang solid, prospek pertumbuhan laba, valuasi menarik, dan likuiditas perdagangan tetap menjadi pertimbangan utama.
Imbal hasil dividen (dividend yield) yang tinggi dapat menjadi nilai tambah, tetapi tidak serta-merta melindungi investor dari risiko penurunan harga saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














