Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluang window dressing di pasar saham Indonesia pada akhir 2026 menghadapi tantangan besar seiring derasnya arus keluar dana asing dan ketidakpastian status Indonesia di indeks MSCI.
Tekanan tersebut membuat reli akhir tahun berisiko hanya menjadi penguatan sementara, bukan awal pemulihan pasar yang berkelanjutan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah 1,99% ke level 5.266,13 pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026). Dengan demikian, IHSG telah terkoreksi 39,1% sejak awal tahun (ytd).
Tekanan pasar juga tercermin dari aksi jual investor asing. Pada perdagangan Selasa, investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell Rp 651,26 miliar.
Secara kumulatif, dana asing yang keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak awal tahun mencapai Rp 97,37 triliun.
Baca Juga: VKTR Incar Pertumbuhan Pendapatan Dobel Digit pada 2026, Cek Rekomendasi Analis
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai, peluang window dressing pada akhir tahun ini lebih terbatas dibandingkan pola historis.
Tekanan jual asing, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian terkait MSCI menjadi faktor yang membatasi potensi penguatan
IHSG.Menurut Andrey, peluang kenaikan pasar kemungkinan lebih selektif, terutama pada saham blue chip dengan fundamental kuat dan valuasi menarik, termasuk saham perbankan.
Sebaliknya, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dan porsi saham beredar publik (free float) rendah berpotensi tetap tertekan.
Ia bahkan memperkirakan IHSG dapat memasuki skenario bearish dengan level 6.150 pada akhir 2026.
Co-Founder Alphagate Capital sekaligus mantan Chief Indonesia Strategist JP Morgan, Henry Wibowo, juga melihat peluang window dressing tahun ini tidak akan sekuat tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Mitratel (MTEL) Tebar Dividen 98% dari Laba 2025, Cek Rekomendasi Analis
Menurut dia, tekanan pasar saat ini bukan sekadar persoalan sentimen jangka pendek, melainkan berkaitan dengan kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia.
Risiko tersebut semakin besar jika MSCI menurunkan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Perubahan status itu berpotensi mendorong arus keluar dana lebih besar, terutama dari investor institusi global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.














