Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Indeks saham utama Wall Street bergerak melemah pada perdagangan Kamis (25/6/2026), setelah tekanan pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar mengimbangi sentimen positif dari proyeksi bisnis yang kuat dari perusahaan semikonduktor Micron Technology dan Qualcomm.
Saham-saham teknologi yang sempat menguat di awal sesi berbalik turun seiring kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi besar (hyperscaler) dan potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Baca Juga: Wall Street Dibuka Naik Kamis (25/6), Reli AI Kembali Berlanjut Berkat Micron
Saham Apple terkoreksi 4,8%, sementara Nvidia, Microsoft, dan Alphabet masing-masing turun antara 1,5% hingga 2,7%.
Di sisi lain, saham Micron melonjak sekitar 10% setelah perusahaan memproyeksikan permintaan chip memori AI tetap kuat.
Kenaikan tersebut membuat nilai kapitalisasi pasar Micron melampaui Meta Platforms dan Tesla. Saham Qualcomm juga naik sekitar 3%.
Penguatan juga terjadi pada sejumlah produsen chip memori lainnya. Saham Sandisk melesat 10%, sedangkan Western Digital dan Seagate Technology masing-masing naik lebih dari 2%.
Reli sektor semikonduktor mendapat dukungan setelah Micron dan Qualcomm mengindikasikan tingginya permintaan terhadap infrastruktur AI.
Namun, kekhawatiran mengenai keberlanjutan belanja besar-besaran untuk AI dan prospek suku bunga yang lebih tinggi masih membayangi pasar teknologi.
Baca Juga: Ekonom InFast: Pelemahan IHSG Tidak Mencerminkan Kondisi Ekonomi Riil
Sementara itu, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi favorit The Fed, naik 4,1% secara tahunan pada Mei, sesuai ekspektasi pasar.
Di saat yang sama, pembacaan final produk domestik bruto (PDB) AS kuartal I-2026 direvisi naik menjadi tumbuh 2,1%, dibanding estimasi sebelumnya sebesar 1,6%.
"Kami percaya inflasi masih berada pada level tinggi saat ini, meski berpotensi menurun secara bertahap ke depan," ujar Senior Equity Strategist Generali Investments, Michele Morganti.
Menurutnya, masih terdapat risiko bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini. Meski demikian, pasar saham AS dinilai masih mampu menyerap dampak dari kebijakan moneter yang lebih ketat.
Baca Juga: Sinergi Inti (INET) Garap Bisnis Kabel Laut Antarpulau & ASEAN, Gandeng FiberHome
Penurunan harga minyak dunia ke bawah level sebelum konflik Timur Tengah serta data ekonomi yang menunjukkan ketahanan ekonomi AS turut memberikan harapan bahwa tekanan inflasi dapat mereda tanpa memerlukan kenaikan suku bunga yang terlalu agresif.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, delapan sektor mencatat kenaikan. Sektor industri memimpin penguatan dengan naik sekitar 2%.
Sementara itu, indeks Philadelphia Semiconductor menguat 0,7%, sedangkan sektor teknologi secara keseluruhan turun sekitar 1%.
Melansir Reuters pada pukul 09.58 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 205,53 poin atau 0,40% ke level 52.054,43.
Sebaliknya, indeks S&P 500 turun 28,11 poin atau 0,38% menjadi 7.330,11, dan Nasdaq Composite melemah 305,50 poin atau 1,20% ke posisi 25.171,14.
Saham perangkat lunak juga mengalami tekanan. Saham Atlassian turun 4,1%, sementara Applovin merosot 9,3%.
Baca Juga: Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Konflik Iran, Pasokan Timur Tengah Melimpah
Meski pasar secara keseluruhan mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir, saham Micron dan Qualcomm masih menjadi bintang pada kuartal ini dengan kenaikan masing-masing lebih dari 200% dan 50%.
Menurut data LSEG, indeks Philadelphia Semiconductor berada di jalur untuk mencatat kinerja kuartalan terbaik sepanjang sejarah.
Namun, indeks Nasdaq masih berpotensi membukukan penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2025, sementara indeks semikonduktor menuju pekan terburuk sejak pecahnya konflik Timur Tengah awal tahun ini.
Pelaku pasar juga mencermati pernyataan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, yang menegaskan pentingnya pengendalian inflasi.
Komentar tersebut mendorong ekspektasi bahwa setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Baca Juga: Harga Emas Antam Anjlok dari Level Tertinggi, Saatnya Borong atau Tunggu Lagi?
Investor kini menunggu pidato Presiden Federal Reserve New York John Williams dan Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS.
Di luar sektor teknologi, saham Bio-Techne melonjak 19,3% setelah perusahaan farmasi Jerman, Merck KGaA, sepakat mengakuisisi perusahaan bioteknologi tersebut dengan nilai transaksi sekitar US$ 11,3 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














