kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -35.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.196   -118,88   -1,88%
  • KOMPAS100 811   -18,90   -2,28%
  • LQ45 615   -12,33   -1,97%
  • ISSI 214   -4,08   -1,87%
  • IDX30 346   -6,54   -1,86%
  • IDXHIDIV20 428   -6,37   -1,47%
  • IDX80 93   -2,15   -2,27%
  • IDXV30 117   -1,73   -1,46%
  • IDXQ30 111   -1,86   -1,65%

Wall Street Ditutup Variatif, Nasdaq Tertekan Kekhawatiran Belanja AI


Sabtu, 25 Juli 2026 / 05:39 WIB
Wall Street Ditutup Variatif, Nasdaq Tertekan Kekhawatiran Belanja AI
ILUSTRASI. Bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (24/7/2026). (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (24/7/2026).

Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi terkoreksi setelah investor melepas saham-saham semikonduktor di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya belanja modal (capital expenditure/capex) untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Di sisi lain, penurunan harga minyak mentah memberikan sentimen positif bagi pasar, meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih terus berlangsung.

Indeks S&P 500 hanya mampu mencatat kenaikan tipis. Tekanan terbesar berasal dari sektor teknologi, di mana indeks teknologi S&P 500 turun 0,88%, seiring pelemahan saham-saham produsen chip.

Baca Juga: Asing Net Sell Jumbo Rp 1,36 Triliun, Cek Saham yang Banyak Dilepas di Akhir Pekan

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan keuangan raksasa teknologi yang akan dirilis pekan depan, termasuk Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple. Namun, optimisme investor mulai memudar setelah Alphabet mengumumkan lonjakan besar belanja modal pada Rabu lalu, meskipun perusahaan masih membakar arus kas untuk membiayai ekspansi AI.

Menurut CEO Andersen Capital Management, Peter Andersen, investor mulai mempertanyakan apakah investasi besar-besaran di sektor AI benar-benar akan menghasilkan keuntungan dalam waktu dekat.

"Investor mulai bertanya-tanya, bagaimana kita harus memahami semua pengeluaran ini, dan berapa lama lagi kita harus bersabar sebelum benar-benar melihat investasi tersebut menghasilkan keuntungan nyata?" ujar Andersen.

Ia menambahkan bahwa fenomena fear of missing out (FOMO) kini mulai berubah menjadi kekhawatiran akan terjadinya pembangunan infrastruktur AI yang berlebihan.

"Rasa takut ketinggalan peluang kini mulai berubah menjadi kekhawatiran terhadap pembangunan kapasitas yang terlalu besar," katanya.

Baca Juga: Gelar Rights Issue, Wahana Interfood (COCO) Raup Dana Segar Rp 1,2 Triliun

Saham Chip Tertekan

Intel memproyeksikan laba dan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi Wall Street serta mengumumkan rencana peningkatan belanja dalam dua tahun ke depan.

Meski demikian, saham Intel justru anjlok 7,9% pada perdagangan Jumat mengikuti pelemahan indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) yang merosot 4,5%.

Pada penutupan perdagangan:

  • Dow Jones Industrial Average naik 235,60 poin atau 0,46% menjadi 51.947,25.

  • S&P 500 menguat tipis 3,68 poin atau 0,05% ke 7.411,98.

  • Nasdaq Composite turun 161,87 poin atau 0,64% menjadi 24.975,82.

Secara mingguan, Dow Jones melemah 0,4% dan mencatat penurunan tiga pekan berturut-turut. Sementara itu, S&P 500 turun 0,6% dan Nasdaq terkoreksi 2%, menandai pelemahan dua pekan beruntun bagi kedua indeks tersebut.

Sektor Properti dan Material Menguat

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor properti menjadi yang berkinerja terbaik dengan kenaikan 2,4%.

Penguatan dipimpin oleh Digital Realty Trust yang melonjak 11% setelah menaikkan proyeksi dana operasional (funds from operations/FFO) untuk sepanjang tahun.

Sementara itu, sektor material naik 1,44% didorong meningkatnya minat investor terhadap saham perusahaan kertas dan kemasan.

International Paper menjadi bintang utama dengan kenaikan 11,2%, sekaligus menjadi saham dengan penguatan terbesar di S&P 500 pada hari tersebut. Disusul saham Smurfit Westrock yang diperdagangkan di AS dengan kenaikan 11,1%.

Baca Juga: Bitcoin Tembus US$ 65.500, Didorong Regulasi AS dan Arus Dana Investor Institusi

Harga Minyak Turun, Pasar Sedikit Bernapas

Sentimen positif juga datang dari turunnya harga minyak mentah sekitar 3% setelah reli tajam selama lima sesi sebelumnya.

Penurunan terjadi karena investor melakukan aksi ambil untung serta muncul laporan bahwa China mendorong dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya sempat terhenti.

Namun, konflik di Timur Tengah masih memanas. Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan rudal ke sejumlah target di Iran setelah Presiden Donald Trump berjanji akan memberikan "hukuman militer besar" kepada Teheran dan kelompok Houthi di Yaman.

Menurut Andersen, perkembangan konflik Timur Tengah akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dan pasar keuangan global.

"Apa pun perkembangan berita terkait konflik saat ini akan menggerakkan harga minyak, dan harga minyak kemudian akan memengaruhi pasar keuangan," katanya.

Ia menambahkan bahwa fluktuasi harga minyak dapat berdampak langsung terhadap belanja konsumen maupun pengeluaran korporasi.

Tarif Baru AS dan Data Ekonomi

Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menetapkan tarif baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap produk dari 60 mitra dagang dengan alasan lemahnya penegakan larangan penggunaan tenaga kerja paksa. Kebijakan tersebut diberlakukan setelah tarif global sementara sebesar 10% resmi berakhir.

Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan aktivitas sektor jasa Amerika Serikat meningkat pada Juli. Kenaikan tersebut sebagian didorong oleh belanja masyarakat selama penyelenggaraan Piala Dunia FIFA dan libur Hari Kemerdekaan AS.

Sebaliknya, aktivitas manufaktur melambat dan mencatat laju pertumbuhan paling rendah sejak Maret.

Baca Juga: Intip Saham yang Banyak Dikoleksi Asing Saat IHSG Melemah 1,88% di Akhir Pekan

Saham Energi Menguat

Di luar sektor teknologi, saham perusahaan jasa ladang minyak SLB melonjak 11% setelah membukukan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi analis.

Secara keseluruhan, saham yang menguat di Bursa Efek New York (NYSE) lebih banyak dibandingkan saham yang turun dengan rasio 1,32 banding 1.

Di Nasdaq, sebanyak 2.174 saham naik, sementara 2.718 saham melemah.

S&P 500 mencatat 18 saham yang mencetak rekor tertinggi baru dalam 52 pekan dan enam saham mencetak titik terendah baru. Sementara Nasdaq membukukan 78 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 205 saham mencatat level terendah baru.

Volume transaksi di seluruh bursa Amerika Serikat mencapai 15,03 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang mencapai 18,22 miliar saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×