Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026), didorong pemulihan saham-saham semikonduktor setelah aksi jual tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Investor kini menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar yang dinilai akan memberikan petunjuk mengenai prospek investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Baca Juga: Saham-Saham Danantara Tetap Prospektif di Semester II-2026, Ini Pilihan dari Analis
Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 77,5 poin atau 0,15% ke level 51.916,79.
Sementara itu, S&P 500 menguat 46,7 poin atau 0,63% menjadi 7.489,95, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 264,5 poin atau 1,04% ke level 25.772,55.
Sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan konflik antara AS dan Iran.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Senin (20/7) bahwa Teheran telah menerima usulan dari para mediator mengenai gencatan senjata selama 10 hari.
Namun, di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Langkah tersebut dinilai berpotensi membuka front baru dalam konflik dan meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global serta perdagangan internasional.
Baca Juga: Laba Bersih PT PP (PTPP) Melonjak 196,5% per Juni 2026, Ini Rekomendasi Sahamnya
Harga minyak mentah Brent pun kembali bergerak naik mendekati US$ 90 per barel setelah sebelumnya sempat melemah.
Saham-saham semikonduktor menjadi pendorong utama penguatan pasar. ETF iShares Semiconductor melonjak 4,1% pada perdagangan pre-market, melanjutkan kenaikan untuk hari kedua berturut-turut.
"Investor harus menyeimbangkan laporan keuangan perusahaan yang kuat dengan perang yang masih berlangsung antara AS dan Iran," ujar Chief Market Strategist B. Riley Wealth, Art Hogan.
Menurut Hogan, pasar membutuhkan kepastian dari perusahaan teknologi berskala besar seperti Alphabet terkait komitmen belanja modal (capital expenditure/Capex).
"Jika perusahaan-perusahaan hyperscaler kembali menegaskan rencana belanja modal mereka, hal itu kemungkinan akan menjadi penopang bagi penurunan saham-saham semikonduktor," katanya.
Baca Juga: Asing Mulai Borong Saham RI, Analis Ungkap Peluang dan Risikonya
Belakangan ini, saham-saham produsen chip berada di bawah tekanan karena investor mulai mempertanyakan apakah reli sektor tersebut sepanjang tahun ini sudah terlalu tinggi.
Pasar juga mencermati belum terlihatnya hasil nyata dari investasi besar-besaran perusahaan teknologi pada pengembangan AI.
Indeks Philadelphia SE Semiconductor pada Jumat lalu ditutup lebih dari 20% di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada akhir Juni, sehingga secara teknikal memasuki wilayah bear market. Meski demikian, indeks tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 66% sejak awal tahun.
Volatilitas saham chip yang menjalar ke pasar secara keseluruhan membuat tiga indeks utama Wall Street mencatat penurunan selama tiga sesi berturut-turut.
Kondisi tersebut terjadi meski musim laporan keuangan kuartal II dimulai dengan hasil yang cukup positif dan inflasi AS menunjukkan perlambatan pada pekan lalu.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham AMMN, CTRA dan HRTA untuk Rabu (22/7)
Fokus investor pekan ini tertuju pada laporan keuangan Alphabet dan Intel, yang diperkirakan menjadi penentu apakah reli saham AI masih memiliki ruang untuk berlanjut di tengah ekspektasi laba yang sudah tinggi.
Di sisi lain, pasar juga mencermati kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump yang pada Senin mengumumkan tarif impor sebesar 50% terhadap berbagai produk asal Kanada.
Pemerintah AS menyebut kebijakan tersebut sebagai respons atas perlakuan Kanada terhadap mobil, minuman beralkohol, dan produk susu buatan Amerika.
Laporan Financial Times juga menyebut Trump diperkirakan akan mengumumkan tarif baru terhadap puluhan negara dalam pekan ini, menjelang berakhirnya tarif global sebesar 10% pada Jumat mendatang.
Baca Juga: Bitcoin Masih Berpeluang Menguat hingga Tembus US$ 110.000, Simak Katalisnya
Di antara saham individual, 3M melonjak 6,3% setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba sepanjang tahun.
Sebaliknya, saham Halliburton turun 3,7% meski perusahaan jasa ladang minyak tersebut membukukan laba kuartal II yang sedikit melampaui ekspektasi analis.
Saham-saham perangkat lunak juga tertekan setelah Morgan Stanley menurunkan rekomendasi dan target harga untuk sejumlah emiten di sektor tersebut.
Saham Adobe, Intuit, Workday, dan Salesforce masing-masing terkoreksi lebih dari 4% pada perdagangan awal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
