Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar kripto dinilai masih positif hingga akhir 2026 di tengah kondisi melonjaknya harga minyak mentah global akibat ketegangan geopolitik. Arus dana ke ETF spot Bitcoin dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) menjadi katalis utama yang menopang pergerakan aset kripto tersebut.
Melansir Coin Market Cap pada Selasa (21/7) pukul 17.32 WIB, harga Botcoin (BTC) berada di level US$ 66.347 atau meningkat 6,08% sepekan dan 3,28% dalam sebulan terakhir.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, berpandangan faktor utama yang menopang Bitcoin saat ini adalah kombinasi arus dana ke ETF spot Bitcoin dan ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih longgar. Artinya, pasar kripto saat ini lebih banyak merespons kondisi likuiditas global daripada kenaikan harga minyak semata.
Maka, selama investor masih melihat peluang penurunan suku bunga atau setidaknya tidak ada pengetatan tambahan, minat terhadap aset berisiko seperti Bitcoin tetap terjaga. Selain itu, kenaikan harga minyak saat ini lebih banyak dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dan tensi geopolitik, bukan karena ekonomi global sedang terlalu panas.
Baca Juga: Pasar Kripto Diprediksi Bangkit, Cek Prospek Bitcoin dan Altcoin Potensial
“Perbedaan ini penting karena pasar cenderung menilai shock pasokan sebagai faktor yang bisa bersifat sementara. Selama kenaikan minyak belum mendorong inflasi, yield obligasi, dan dolar AS naik secara signifikan, tekanan risk-off terhadap Bitcoin masih relatif terbatas,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Selasa (21/7/2026).
Namun, ia menekankan risikonya tetap ada. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama dan memicu inflasi baru, pasar bisa kembali memperkirakan suku bunga tinggi lebih lama. Dalam skenario tersebut, dolar dan yield obligasi berpotensi menguat, sehingga tekanan terhadap Bitcoin dan aset berisiko lainnya bisa kembali meningkat.
Kendati demikian, Bitcoin masih prospektif hingga akhir 2026, tetapi volatilitasnya kemungkinan tetap tinggi apabila harga minyak bertahan mahal dan ketidakpastian geopolitik berlanjut.
Saat ini Bitcoin berada di sekitar US$ 66.000, dengan dukungan dari kembalinya arus dana ke ETF spot dan permintaan investor yang mulai pulih. Namun, kenaikan minyak yang berkepanjangan dapat meningkatkan biaya energi dan inflasi, sehingga memperbesar risiko kebijakan suku bunga AS tetap ketat.
Dalam skenario dasar, Fyqieh memperkirakan Bitcoin bergerak di kisaran US$ 60.000 – US$ 90.000 hingga akhir 2026. Selama arus ETF tetap positif dan kenaikan minyak tidak memicu lonjakan inflasi yang ekstrem, Bitcoin masih berpeluang menguat secara bertahap.
Baca Juga: Bitcoin Tetap Tangguh Saat Harga Minyak Melonjak, Ini Sebabnya
Tetapi, dalam skenario bullish, apabila konflik geopolitik mereda, inflasi menurun dan likuiditas kembali longgar, Bitcoin dapat menembus US$ 90.000 – US$ 110.000.
Sebaliknya, jika Brent bertahan di atas US$ 100, inflasi kembali naik dan The Fed menaikkan atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, Bitcoin berisiko terkoreksi ke area US$ 45.000 – US$ 55.000. The Fed sendiri masih menilai inflasi berada pada level tinggi dan prospeknya penuh ketidakpastian, sehingga kebijakan moneter akan menjadi faktor penentu utama.
“Jadi, prospek Bitcoin masih positif, tetapi tidak berarti pergerakannya akan naik secara lurus. Investor perlu memperhatikan tiga indikator utama, yakni arah harga minyak, kebijakan The Fed, dan konsistensi arus dana ETF,” imbuhnya.
Di luar Bitcoin, altcoin yang relatif menarik saat ini adalah Ethereum, Solana, dan Chainlink, terutama karena ketiganya memiliki kapitalisasi besar, likuiditas memadai, serta penggunaan jaringan yang lebih jelas dibandingkan token spekulatif.
Baca Juga: Harga Bitcoin Masih Dibayangi Tekanan, Begini Saran Terhadap Investor
Untuk investor ritel, strategi yang lebih tepat dalam kondisi pasar saat ini adalah tetap menjadikan Bitcoin sebagai porsi inti, sedangkan altcoin hanya sebagai pelengkap. Investor dapat menggunakan pendekatan pembelian bertahap atau dollar-cost averaging daripada masuk sekaligus, karena ketidakpastian harga minyak, suku bunga, dan geopolitik masih dapat memicu koreksi tajam.
Pemilihan altcoin juga sebaiknya berfokus pada fundamental, likuiditas, aktivitas pengembang, sumber pendapatan jaringan, serta distribusi token, bukan semata-mata karena tren media sosial.
Investor juga perlu menghindari leverage berlebihan dan memastikan dana yang ditempatkan di kripto bukan dana untuk kebutuhan jangka pendek. Dalam situasi volatil, menjaga sebagian portofolio dalam kas atau aset likuid dapat memberikan ruang untuk melakukan pembelian ketika terjadi koreksi.
“Jadi, altcoin tetap prospektif, tetapi risikonya jauh lebih tinggi daripada Bitcoin. strategi yang lebih sehat adalah melakukan diversifikasi secara terbatas, masuk secara bertahap, dan menetapkan batas risiko sejak awal,” pungkasnya.
Baca Juga: Rekomendasi Aset Kripto Kuartal III-2026 dan Proyeksi Teknikal Support Bitcoin
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
