kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45934,34   5,98   0.64%
  • EMAS1.335.000 1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Volume Produksi & Penjualan Naik Pesat, Simak Rekomendasi Saham Adaro Minerals (ADMR)


Rabu, 09 Agustus 2023 / 05:15 WIB
Volume Produksi & Penjualan Naik Pesat, Simak Rekomendasi Saham Adaro Minerals (ADMR)


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatatkan peningkatan produksi batubara hingga 66% pada semester I 2023 menjadi 2,54 juta ton, dari 1,53 juta ton pada periode sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, volume penjualan ADMR naik 42% menjadi 1,82 juta ton, dari 1,28 juta ton.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, peningkatan produksi dan volume penjualan batubara ADMR di paruh pertama menunjukkan bahwa operasional ADMR tetap positif di tengah tren penurunan harga batubara. Nafan memprediksi, permintaan terhadap batubara akan tetap meningkat di semester 2 2023 meski tidak terlalu signifikan seperti tahun lalu.

Kenaikan permintaan ditopang oleh pemulihan ekonomi global, terutama dari negara-negara maju. Salah satunya adalah AS yang mencatatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2,4% pada kuartal II-2023, di atas proyeksi analis sebesar 1,8%.

Namun, harga batubara sudah tidak akan setinggi tahun lalu, sebab Indonesia sudah tidak mendapat keuntungan dari commodity boom prices. Hal ini sejalan dengan berakhirnya pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina yang sudah mereda.

Baca Juga: Kinerja Membaik, Adaro Energy (ADRO) Terus Dorong Diversifikasi

Nafan juga memandang positif pengembangan smelter aluminium ADMR. "Segmen aluminium akan memberikan multiplier effect bagi kinerja ADMR dalam rangka mengakselerasi hilirisasi sehingga akan mampu menggenjot top line dan bottom line serta menciptakan added value," tutur Nafan saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (8/8).

Namun, Research Analyst PT Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai, meski kinerja operasionalnya positif, saham ADMR saat ini tidak menarik dikoleksi. Pasalnya, prospek komoditas yang menjadi underlying ADMR, yakni batubara masih kurang kondusif. Hal ini akan tertranslasi ke pelemahan kinerja harga saham ADMR.

Arjun menyampaikan, tren harga saham ADMR sangat mirip dengan tren pergerakan harga Newcastle Coal Futures. Mengingat, selain pertambangan mineral, pertambangan batubara juga menjadi salah satu lini bisnis utama untuk ADMR.

Baca Juga: Kinerja Moncer, Adaro Minerals (ADMR) Pertahankan Target Operasional Tahun Ini

Hal ini terlihat dari Beta saham ADMR terhadap Newcastle Coal Futures. AMDR listing di Bursa Efek Indonesia tanggal 3 Januari 2022. Jangka waktu ini cukup panjang untuk melihat tren suatu saham memiliki korelasi yang tinggi atau tidak terhadap indeks acuannya. Adjusted Beta untuk ADMR terhadap Newcastle Coal Futures sebesar 0,92 (atau 92%).

"Jadi, katalis yang akan memicu kenaikan batubara atau kelanjutan penurunan harga batubara yang tercermin oleh acuan Newcastle Coal Futures ini akan memicu kenaikan atau kelanjutan penurunan harga ADMR," ucap Arjun.

Secara year to date hingga 8 Agustus 2023, harga ADMR merosot sebesar 41,30%, sejalan dengan harga batubara Newcastle Coal Futures yang juga anjlok tahun ini.

Lebih lanjut, Arjun menilai, pembangunan smelter aluminium merupakan langkah yang bagus bagi ADMR. Diversifikasi ini akan memberikan manfaat lanjutan bagi kinerja ADMR secara keseluruhan.

Baca Juga: Volume Produksi dan Penjualan Batubara Adaro Minerals (ADMR) Naik Double Digit

Dalam riset tanggal 8 Agustus 2023, Analis Sinarmas Sekuritas Axel Leonardo menyukai ADMR karena emiten ini punya eksposur yang luas terhadap pasar batubara metalurgi dalam jangka panjang. Di samping itu, sebagai anak usahanya, ADMR menjadi bagian sentral dalam pergeseran Adaro Energy Indonesia ke energi hijau.

Axel menjelaskan, batubara metalurgi utamanya digunakan sebagai komponen kunci dalam produksi baja. Dalam jangka panjang, permintaan baja global diperkirakan akan terus tumbuh, didorong oleh India yang telah menunjukkan pertumbuhan produksi bajanya
secara berkelanjutan sejak 2010.

ADMR berada di posisi yang baik untuk mendapatkan keuntungan dari peluang pertumbuhan jangka panjang ini, mengingat potensi produksi jangka panjang sebesar 6,0 juta ton per tahun untuk 25-30 tahun. Sumber dayanya yang melimpah sebesar 975 juta ton menambah daya ungkit lebih jauh bagi ADMR.

Selanjutnya, ADMR memegang peran penting dalam perjalanan transformasi ADRO menuju ekonomi hijau. Perusahaan saat ini sedang mengerjakan proyek peleburan aluminium di kawasan industri yang berlokasi di Kalimantan Utara melalui anak perusahaannya, Kalimantan Aluminium Industry (KAI).

Baca Juga: Energi Baru Terbarukan (EBT) Menjanjikan, Emiten Berlomba-lomba Garap Segmen Ini

Dalam beberapa tahun terakhir, aluminium telah mendapatkan popularitas yang signifikan karena era kendaraan listrik (EV). EV
membutuhkan aluminium 30% lebih banyak dibandingkan dengan kendaraan mesin pembakaran internal.

Di Indonesia, permintaan aluminium berjumlah 1,0 juta ton per tahun, sementara produksinya jauh lebih rendah hanya 250 ribu ton per tahun. "Dengan potensi produksi jangka panjang sebesar 1,5 juta ton per tahun, kami percaya ADMR berada di posisi yang tepat untuk memanfaatkan peluang ini," tutur Axel.

Axel merekomendasikan buy ADMR dengan target harga 12 bulan di Rp 1.400 per saham. Arjun merekomendasikan sell ADMR dengan target harga Rp 2.500 per saham.

Sementara secara teknikal, Nafan merekomendasikan untuk mengakumulasi ADMR dengan target jangka panjang di Rp 1.305 per saham. Per Selasa (8/8), harga ADMR merosot 1,49% menjadi Rp 995 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×