Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) berhasil masuk dalam Global Junior Gold Miners Index.
Market Vectors Index Solutions, penyedia indeks yang menjadi benchmark bagi VanEck mengumumkan evaluasi berkala ini mulai efektif pada perdagangan 20 Maret 2026.
Perusahaan manajemen aset yang bermarkas di New York, Amerika Serikat ini menggunakan Global Junior Gold Miners Index sebagai acuan dalam meracik VanEck Junior Gold Miners ETF (GDJX).
Baca Juga: Valas Asia Masih Terbebani Sentimen Geopolitik Timur Tengah
Artinya, ketika ada rebalancing, VanEck dapat melakukan penyesuaian atas portofolionya dengan membeli saham yang masuk ke Global Junior Gold Miners Index maupun Global Gold Miners Index.
Head of Investment Information Team Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menjelaskan VanEck Junior Gold Miners ETF (GDJX) dan VanEck Gold Miners ETF (GDX) merupakan EFT paling besar untuk saham penambang emas.
“Kalau ada rebalancing terkait siapa yang masuk dan keluar, saham yang dikurangi maupun ditambah posisinya, itu akan mempengaruhi pergerakan harga sahamnya,” ucapnya, Selasa (17/3/2026).
Martha menjabarkan saham-saham yang masuk ke dalam Global Gold Miners Index merupa perusahaan yang mampu memproduksi emas hingga satu juta troi ons per tahunnya dan cenderung stabil.
Global Gold Miners Index berisi saham penambah emas skala kecil menengah, yang secara kinerjanya masih bertumbuh tinggi. Namun punya tingkat risiko yang tinggi dan volatilitasnya tinggi.
Per Februari 2026, dana kelolaan alias Asset Under Management (AUM) VanEck Gold Miners ETF mencapai US$ 36,5 miliar. Sementara, AUM untuk VanEck Junior Gold Miners ETF mencapai US$ 12,1 miliar.
“Dengan data kelolaan yang besar, ada emiten atau saham Indonesia yang masuk ke indeks ini maka pengaruhnya akan besar,” kata Martha.
Baca Juga: Strategi Kelola THR Agar Tetap Produktif, Ini Empat Caranya Versi IPOT
Dalam pengumuman yang sama, Market Vectors Index Solutions turut memangkas bobot saham emiten tambang emas Indonesia yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam indeks global ini.
Di Global Gold Miners Index, ada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang bobotnya dikurangi dari 0,77% menjadi 0,69%. Porsi PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga diturunkan dari 0,65% menjadi 0,52%.
Porsi BRMS di Global Junior Gold Miners Index juga ikut dipangkas dari 1,02% menjadi 0,91%. Sementara para pendatang baru, yakni EMAS punya bobot 0,73%, ARCI sekitar 0,11% dan PSAB sebesar 0,02%.
Pengurangan bobot pada AMMN dan BRMS berpotensi memicu outflow dan sebaliknya. Dalam hitungan Martha, ada potensi outflow sebesar US$ 26 juta atau sekitar Rp 440 miliar pada saham AMMN.
Lalu karena pengurangan porsi di Global Gold Miners Index, potensi otflow BRMS mencapai US$ 36 miliar atau Rp 778 miliar. Di indeks yang satunya, outflow BRMS berpotensi mencapai US$ 12 juta atau Rp 203 miliar.
Sementara itu, Martha menghitung EMAS berpotensi kebanjiran inflow sekitar US$ 86 juta atau sekitar Rp 1,43 triliun, ARCI sebesar US$ 12 juta atau Rp 204 miliar dan PSAB yang paling kecil sekitar US$ 2 juta atau Rp 34 miliar.
“Masuk atau keluarnya suatu saham ke indeks tidak akan memengaruhi kinerjanya, tetapi aliran dana investasi. Namun berkaitan dengan money flow sehingga berpengaruh pada harga saham,” ucap Martha.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menambahkan walaupun seharusnya mulai efektif pada 20 Maret 2026, tetapi rebalancing mulai terasa pada Selasa (17/3) karena pasar saham Indonesia akan libur panjang.
Baca Juga: Prospek Prodia (PRDA) Dinilai Tetap Tumbuh Moderat, Ini Rekomendasi Analis
Dia menyarankan bagi investor yang sudah punya posisi pada saham-saham yang masuk ke dalam indeks karena menunggangi momentum indeks global ini, maka bisa mengurangi porsi.
“Sebaliknya, bagi investor yang sudah keluar dan tidak masalah dengan fundamentalnya justru koreksi bisa menjadi kesempatan untuk menjadi entry point,” kata Fath.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













