Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pasar saham tengah lesu di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
Pada Kamis (27/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 120,73 poin atau 1,83% ke 6.485 ke 6.485,44.
IHSG juga sudah turun 8,40% sejak awal tahun 2025 alias year to date (YTD). Kinerja IHSG per Februari 2025 ini mencatatkan rekor terlemah sejak Pandemi Covid-19.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,83% ke 6.485 pada Kamis (27/2), Simak Proyeksinya untuk Jumat (28/2)
Pada Kamis (27/2), arus dana asing keluar dari pasar saham sebesar Rp 1,78 triliun. Aliran keluar dana asing pun tercatat sebesar Rp 15,42 triliun secara YTD.
Direktur Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus melihat, IHSG masih cenderung melemah hari ini dengan penurunan saham-saham big banks sebagai pendorong utamanya.
“Sentimen utama datang dari rebalancing MSCI yang akan dilaksanakan besok, sehingga mempengaruhi pergerakan saham-saham bigcaps,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (27/2).
IHSG pun diperkirakan masih akan tertekan pada perdagangan Jumat (28/2). Meskipun demikian ada harapan bagi IHSG untuk mengalami technical rebound, karena saham-saham penggerak indeks sudah banyak yang berada di posisi jenuh jual hari ini.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,83% ke 6.485 pada Kamis (27/2), MDKA, BRIS, BMRI Jadi Top Losers LQ45
Sementara, penurunan kinerja IHSG yang lebih jelek sejak pandemi disebabkan dari aliran keluar dana asing karena penurunan bobot yang dilakukan MSCI sejak akhir tahun 2024.
“Morgan Stanley juga melakukan pemangkasan proyeksi pertumbuhan akibat ketidakpastian global,” ungkapnya.
Daniel melihat, kemungkinan IHSG akan berada di sekitar level 6.400 - 6.500 di akhir kuartal I 2025, mirip seperti saat ini.
Untuk akhir tahun 2025, IHSG diperkirakan masih agak berat untuk balik ke atas 7.000 dengan kondisi seperti ini.
Penurunan kinerja pasar saham di tahun ini bisa berhenti apabila The Fed memangkas suku bunga secara agresif. Sehingga, investasi di emerging market, seperti Indonesia, menjadi menarik
“Sepertinya tidak ada sektor yang aman untuk dilirik investor saat ini, semua cenderung rentan untuk terkoreksi,” tuturnya.
Selanjutnya: Menilik Potensi Dividen sebagai Pelipur Lara Ketika Kinerja Pasar Saham Memburuk
Menarik Dibaca: Prakiraan Cuaca Jakarta Besok (28/7): Dari Cerah hingga Diguyur Hujan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News