Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada hari ini, Jumat (6/11/2026).
Salah satu agenda utamanya adalah untuk meminta persetujuan pemegang saham dalam melakukan aksi korporasi rights issue.
Untuk ULTJ, akan melakukan rights issue maksimal Rp 16,94 triliun. Melalui aksi korporasi itu, ULTJ akan melepas 7,88 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 2.150 per saham.
Dana hasil rights issue sekitar 86,01% akan digunakan untuk pengambilalihan 100% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh PT Frisian Flag Indonesia (FFI) atau sejumlah 24.440 lembar saham senilai Rp 14,57 triliun melalui skema inbreng.
Baca Juga: Penerbitan Obligasi ESG Masih Menantang hingga 2027, Ini Pemicunya
Sementara, GIAA akan menerima penyertaan modal non-tunai atau inbreng berupa 82,1 miliar saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) dari PT Danantara Asset Management (DAM).
Saham GMFI yang akan diinbrengkan tersebut setara dengan 65,77% dari modal ditempatkan dan disetor GMFI. Nilai penyertaan saham itu mencapai Rp 5,66 triliun.
Untuk melaksanakan rights issue III, Garuda berencana menerbitkan maksimal 248,71 miliar saham Seri E dengan nilai nominal Rp 25 per saham. Harga pelaksanaan diperkirakan berada di kisaran Rp 58 hingga Rp 68 per saham. Harga final akan ditetapkan dalam prospektus setelah perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dalam skema transaksi ini, DAM akan melaksanakan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dengan menyetorkan saham GMFI sebagai modal non-tunai. Sementara itu, pemegang saham lainnya, termasuk publik, dapat melaksanakan haknya melalui setoran tunai.
Pengalihan saham GMFI kepada DAM telah rampung pada 2 November 2026. Sebelumnya, saham tersebut dialihkan dari PT Angkasa Pura Indonesia kepada PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), kemudian diteruskan kepada DAM.
Rights issue III ini merupakan bagian dari restrukturisasi dan penyehatan keuangan Garuda Indonesia Group periode 2025-2029 yang telah memperoleh persetujuan Menteri BUMN pada Juni 2025.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, aksi rights issue yang dilakukan ULTJ berpotensi memberikan dampak positif terhadap fundamental perseroan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Yield SUN Lebih Tinggi dari ST017, Masih Menarik Dibeli Investor?
Hal ini terutama karena dana hasil rights issue akan mendukung rencana pengambilalihan 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI).
Akuisisi tersebut berpotensi memperkuat posisi kompetitif ULTJ di industri susu dan produk olahan berbasis susu, memperluas portofolio produk, meningkatkan skala ekonomi, serta memperkuat jaringan distribusi dan penetrasi pasar.
“Sinergi antara Ultrajaya dan Frisian Flag juga berpotensi meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat daya tawar terhadap pemasok, serta membuka peluang pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih berkelanjutan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
Namun, investor tetap perlu mencermati potensi dilusi kepemilikan saham akibat penerbitan saham baru. Keberhasilan aksi korporasi ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan ULTJ mengintegrasikan bisnis FFI dan merealisasikan sinergi yang diharapkan.
Dengan demikian, pertumbuhan laba dan peningkatan nilai intrinsik perusahaan pascaakuisisi harus mampu mengimbangi penambahan jumlah saham beredar.
“Katalis utama ULTJ ke depan adalah keberhasilan penyelesaian akuisisi, integrasi operasional, efisiensi biaya, serta peningkatan kontribusi FFI terhadap kinerja keuangan konsolidasi,” ungkapnya.
Sementara itu, rights issue GIAA lebih berorientasi pada penguatan struktur permodalan dan mendukung restrukturisasi keuangan perusahaan.
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 0,40% ke 5.050 pada Jumat (6/11), AKRA, UNVR, AMRT Top Gainers LQ45
Aksi korporasi tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap fundamental perseroan karena dapat meningkatkan ekuitas, memperkuat pengendalian terhadap GMFI, serta menciptakan sinergi antara bisnis penerbangan dan layanan perawatan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul (MRO).
Selain itu, tambahan pendanaan diharapkan dapat mendukung kebutuhan modal kerja, stabilisasi operasional, peremajaan kabin, peningkatan konektivitas penerbangan, dan transformasi bisnis.
Meskipun demikian, tantangan fundamental GIAA masih cukup besar, terutama terkait beban keuangan, tingginya liabilitas, kebutuhan belanja modal, serta upaya mencapai profitabilitas secara berkelanjutan.
Rights issue memang berpotensi memperbaiki struktur permodalan, tetapi tidak secara otomatis menyelesaikan persoalan operasional dan arus kas.
“Oleh karena itu, investor perlu mencermati efektivitas penggunaan dana, keberhasilan restrukturisasi, efisiensi biaya operasional, optimalisasi rute penerbangan, serta peningkatan utilisasi pesawat sebagai indikator pemulihan fundamental perusahaan,” tuturnya.
Ke depan, saham ULTJ masih prospektif dan terdapat peluang pertumbuhan yang cukup positif dalam jangka menengah hingga panjang.
Industri makanan dan minuman, khususnya produk susu, memiliki prospek yang relatif baik karena ditopang oleh kebutuhan konsumsi domestik.
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 0,40% ke 5.050 pada Jumat (6/11), AKRA, UNVR, AMRT Top Gainers LQ45
Kombinasi kekuatan merek, jaringan distribusi, dan kapasitas produksi ULTJ serta FFI berpotensi memperkuat posisi perseroan di pasar.
“Meskipun demikian, investor tetap perlu memperhatikan valuasi saham, potensi dilusi, serta kemampuan perusahaan menghasilkan pertumbuhan laba setelah akuisisi,” katanya.
Sementara itu, prospek GIAA masih sangat bergantung pada keberhasilan restrukturisasi dan transformasi bisnis. Penguatan permodalan melalui rights issue dapat menjadi momentum untuk memperbaiki struktur ekuitas dan mendukung keberlanjutan operasional perusahaan.
Namun, risiko investasinya relatif lebih tinggi karena GIAA masih menghadapi tantangan berupa beban keuangan, liabilitas yang besar, serta persaingan industri penerbangan yang ketat.
“Investor sebaiknya menunggu bukti perbaikan kinerja yang lebih konkret, terutama dari sisi profitabilitas, arus kas operasional, efisiensi biaya, dan penurunan beban keuangan,” katanya.
Melansir RTI, saham ULTJ parkir di level Rp 2.050 per saham di akhir perdagangan hari ini, Jumat (6/11). Ini turun 1,91% dari penutupan perdagangan Kamis (5/11) kemarin.
Sedangkan saham GIAA tak bergerak hari ini dan ditutup di level Rp 39 per saham di akhir perdagangan.
Baca Juga: Emiten Pizza Hut (PZZA) Catat Penjualan Rp 765 Miliar di Kuartal III-2026, Tumbuh 6%
Sejak awal tahun, ULTJ naik 42,36% year to date (YTD). Sementara, GIAA turun 60,20% YTD.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
