kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Turun 29% Secara YTD, BRI Danareksa Pangkas Target IHSG Jadi 7.200 dari 9.440


Rabu, 03 Juni 2026 / 05:35 WIB
Turun 29% Secara YTD, BRI Danareksa Pangkas Target IHSG Jadi 7.200 dari 9.440
ILUSTRASI. IHSG Menguat-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia tertekan sepanjang 2026. Tekanan ini bukan sekadar dampak aksi jual di pasar negara berkembang (emerging markets), melainkan mencerminkan kenaikan premi risiko Indonesia di mata investor global.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, dalam riset 2 Juni 2026, menyebut penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 29,1% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD) di level 6.195,43 pada 2 Juni 2026 menunjukkan pasar sedang melakukan penilaian ulang terhadap risiko Indonesia.

"Aksi jual yang terjadi mencerminkan peningkatan premi risiko Indonesia, bukan hanya bagian dari gelombang pelemahan pasar negara berkembang," tulis Erindra dalam riset.

Baca Juga: Asing Net Sell Rp 1,39 Triliun di Awal Juni 2026, Cek Saham yang Banyak Dilepas

Menurut dia, terdapat empat faktor utama yang saling berkaitan dan mendorong kenaikan premi risiko tersebut.

Pertama, meningkatnya risiko fiskal akibat lonjakan harga minyak yang dipicu konflik Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz. Sepanjang tahun berjalan, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) tercatat mencapai US$ 88 per barel.

Kedua, melemahnya prediktabilitas kebijakan pemerintah, yang tercermin dari perubahan kebijakan royalti pertambangan yang berulang serta munculnya rencana ekspor tunggal melalui BUMN.

Ketiga, prospek negatif terhadap peringkat utang Indonesia yang diberikan oleh Moody's dan Fitch.

Keempat, proses peninjauan MSCI yang berujung pada penghapusan enam saham berkapitalisasi besar Indonesia dari indeks global mereka.

Kombinasi faktor tersebut memicu arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia sebesar US$ 3,1 miliar atau Rp 55,37 triliun di sepanjang tahun 2026. Hal ini menurut Erindra mencerminkan langkah investor global untuk mengurangi eksposur risiko.

Tiga Katalis Rebound dalam Dua Bulan ke Depan

Meski sentimen masih menantang, BRI Danareksa melihat peluang pemulihan pasar dalam enam hingga delapan minggu ke depan.

Baca Juga: IHSG Naik 1,11% ke 6.195, Cek Saham yang Banyak Diborong Asing di Awal Juni 2026

Katalis pertama berasal dari berakhirnya tekanan teknikal akibat rebalancing MSCI pada 29 Mei lalu. Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya empat bank terbesar nasional, dinilai telah menyerap sebagian besar tekanan jual.

Sebagai contoh, arus keluar dana asing di saham BBCA telah mencapai US$ 162,6 juta atau hampir menyamai estimasi agresif BRI Danareksa sebesar US$ 176 juta untuk keseluruhan proses rebalancing.

Kedua, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan mereda memasuki kuartal III-2026. Selama kuartal II, rupiah biasanya menghadapi tekanan musiman akibat repatriasi dividen dan meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk musim haji.

Ketiga, narasi perang dan lonjakan harga minyak dinilai mendekati puncaknya. Meskipun harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi, premi risiko terhadap negara pengimpor minyak seperti Indonesia diperkirakan mulai berkurang.

"Faktor-faktor tersebut memang belum menyelesaikan risiko terkait peringkat utang maupun ketidakpastian kebijakan, namun cukup untuk mendorong rebound pasar dalam jangka pendek," kata Erindra.

Valuasi Dinilai Sudah Mencerminkan Risiko

BRI Danareksa menilai valuasi pasar saat ini telah memperhitungkan sebagian besar risiko jangka pendek.

Selisih antara earnings yield IHSG dan imbal hasil obligasi pemerintah saat ini mencapai 242 basis poin, jauh di atas rata-rata 11 tahun yang berada di level negatif 31 basis poin. Artinya, investor kini menuntut kompensasi risiko yang jauh lebih besar untuk berinvestasi di saham Indonesia.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Turun Selasa (2/6) Setelah Cetak Rekor, HPE Naik Berkat Ledakan AI

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan laba emiten tahun 2026 dari konsensus pasar sebesar 14% masih relatif sejalan dengan estimasi BRI Danareksa sebesar 13,4%.

Meski demikian, risiko tetap ada. Salah satunya adalah kemungkinan revisi outlook oleh S&P pada Juli 2026. Namun Erindra menilai potensi tersebut sebagian besar telah tercermin dalam harga saham saat ini.

Adapun skenario yang lebih buruk berupa penurunan peringkat utang dinilai belum menjadi ancaman jangka pendek karena biasanya membutuhkan periode evaluasi selama 12 hingga 18 bulan. Bahkan jika terjadi penurunan satu tingkat, peringkat Indonesia masih berada dalam kategori investment grade BBB.

Selain itu, tinjauan MSCI terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada Juni 2026 juga masih menjadi faktor risiko yang bersifat biner bagi pasar.

Target IHSG Dipangkas, Namun Potensi Kenaikan Tetap Menarik

Sejalan dengan meningkatnya premi risiko, BRI Danareksa memangkas target IHSG akhir 2026 menjadi 7.200 dari sebelumnya 9.440.

Penurunan target tersebut terutama disebabkan oleh dihapuskannya premi valuasi sebesar 40% yang sebelumnya diberikan kepada kelompok saham konglomerasi. Menurut Erindra, setelah MSCI melakukan peninjauan pasar Indonesia, dasar pemberian premi tersebut tidak lagi relevan.

Target baru tersebut didasarkan pada proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) 2026-2027 sebesar 13%-14%, dengan asumsi pertumbuhan sektor perbankan yang lebih konservatif di kisaran 4%-5%.

Baca Juga: Ada Peluang Rupiah Bergerak Menguat Terbatas, Cek Sentimennya

Meski target diturunkan, level tersebut masih menawarkan potensi kenaikan sekitar 17% dibanding posisi IHSG saat ini. Dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang mencapai 8.600, sedangkan skenario pesimistis berada di level 6.550.

"Kami menilai profil risiko dan imbal hasil dari level saat ini masih cukup menarik dan bersifat asimetris ke arah positif," tulis Erindra.

Saham Pilihan

Rekomendasi saham BRI Danareksa dibagi menjadi dua kelompok overweight. 

Kelompok pertama adalah saham dengan bantalan valuasi kuat, yaitu sektor perbankan dan kesehatan, terdiri dari BBCA dengan target harga Rp 10.900 serta MIKA dengan target harga Rp 3.300.

Kelompok kedua adalah saham yang mengandalkan pertumbuhan kinerja, meliputi ISAT dengan target harga Rp 3.000, ANTM Rp 4.900, dan TINS Rp 4.500.

Sementara itu, saham konsumsi seperti ICBP (target Rp 10.500), INDF (Rp 9.400), serta sektor perunggasan CPIN (Rp 5.900) dinilai masih berada pada valuasi yang wajar karena premi risiko ekuitasnya relatif sejalan dengan IHSG secara keseluruhan.

Baca Juga: Tekanan Rebalancing MSCI Mereda, IHSG Berpeluang Pulih Dalam Jangka Pendek

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×