kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Tren Suku Bunga Tinggi, Penerbitan Obligasi Diproyeksi Tetap Terbuka Tapi Selektif


Selasa, 02 Juni 2026 / 18:25 WIB
Tren Suku Bunga Tinggi, Penerbitan Obligasi Diproyeksi Tetap Terbuka Tapi Selektif
ILUSTRASI. Obligasi Negara/SUN (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan obligasi korporasi akan lebih selektif setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan, di pasar obligasi, kenaikan suku bunga kebijakan biasanya menekan harga obligasi lama dan mendorong yield naik. Bagi emiten, kondisi ini berarti biaya penerbitan baru menjadi lebih mahal. Emiten yang tidak memiliki kebutuhan pendanaan mendesak dapat menunda penerbitan, memperpendek tenor, atau mencari sumber pendanaan alternatif. Namun, emiten dengan kebutuhan dan jatuh tempo besar tetap perlu masuk pasar untuk menjaga profil likuiditas. 

“Prospek penerbitan obligasi korporasi setelah kenaikan suku bunga Bank Indonesia akan tetap terbuka, tetapi lebih selektif. Kenaikan BI-Rate menjadi 5,25% meningkatkan acuan biaya dana di pasar. Dampaknya tidak selalu langsung sama besar pada semua emiten, tetapi arah umumnya membuat investor meminta kompensasi imbal hasil lebih tinggi,” jelas Ahmad kepada Kontan, Selasa (2/6/2026). 

Baca Juga: Dividen Turun, Kalbe Farma (KLBF) Pilih Perkuat Ekspansi di Tengah Tekanan Biaya

Ahmad mencatat kebutuhan refinancing pada semester II cukup besar. Jatuh tempo surat utang korporasi mencapai Rp 63,95 triliun pada kuartal III dan Rp 43,56 triliun pada kuartal IV. Dengan total jatuh tempo semester II sebesar Rp107,51 triliun, penerbitan obligasi masih berpotensi berada pada prospek yang baik meskipun biaya dana meningkat. 

“Puncak jatuh tempo kuartal III akan menjadi salah satu faktor penting yang menjaga pasokan penerbitan,” terang Ahmad. 

Dari sisi sektor, kebutuhan jatuh tempo terbesar pada 2026 berasal dari industri multifinance sebesar Rp 33,93 triliun, pulp dan kertas sebesar Rp 23,18 triliun, dan perbankan sebesar Rp 19,08 triliun. Sektor-sektor dengan kebutuhan jatuh tempo besar akan tetap menjadi sumber penerbitan potensial sepanjang tahun ini. 

Ahmad menilai, sentimen utama yang memengaruhi obligasi korporasi ke depan adalah kenaikan suku bunga acuan dan repricing yield. Kenaikan BI-Rate ke level 5,25% memperkuat sinyal bahwa stabilitas nilai tukar dan inflasi menjadi prioritas kebijakan. Bagi pasar obligasi korporasi, sinyal tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam menilai tenor, kupon, dan risiko kredit emiten. 

Sentimen kedua adalah kebutuhan refinancing yang masih besar. Jatuh tempo surat utang korporasi pada kuartal II mencapai Rp 28,33 triliun, lalu meningkat tajam menjadi Rp 63,95 triliun pada kuartal III. Karena itu, pelaku pasar kemungkinan mulai memperhitungkan pasokan penerbitan baru sebelum memasuki puncak jatuh tempo. Jika pasokan meningkat pada saat yield acuan masih tinggi, investor dapat meminta kupon lebih besar. Oleh karenanya, emiten akan mencermati momentum penerbitan yang terbaik bagi mereka. 

Sentimen ketiga adalah kondisi likuiditas dan preferensi investor terhadap kualitas kredit. Ketika suku bunga dan yield meningkat, investor biasanya lebih selektif. Obligasi dari emiten berperingkat tinggi berpotensi tetap diminati karena risiko kreditnya lebih rendah. Sebaliknya, emiten dengan peringkat lebih rendah dapat menghadapi premi risiko yang lebih tinggi, terutama jika kondisi pasar bergerak volatil. 

Sentimen keempat adalah faktor eksternal, terutama volatilitas pasar keuangan global, nilai tukar rupiah, dan ekspektasi inflasi. Kenaikan suku bunga BI dilakukan untuk memperkuat stabilisasi rupiah dan menjaga inflasi dalam sasaran. 

“Selama faktor eksternal masih menekan pasar domestik, obligasi korporasi akan tetap sensitif terhadap perubahan yield surat utang pemerintah, arus dana investor, dan persepsi risiko makro,” terang Ahmad. 

Fikri C Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas menilai pada kondisi saat ini akan lebih menarik masuk ke instrumen money market atau obligasi pemerintah. Hal ini agar imbal hasil terjaga dan di saat yang sama likuiditas tetap ada. Investor dapat menerapkan strategi investasi barbel sesuai profil risiko dan tujuan masing – masing investor. 

Namun, jika tetap ingin mencoba masuk ke obligasi korporasi, Fikri menyarankan investor untuk masuk ke obligasi dengan tenor pendek antara satu tahun sampai tiga tahun dengan mempertimbangkan fundamental penerbit obligasi yang baik. 

“Bisa lihat emiten dengan fundamental yang baik, yang mungkin imbal hasilnya lebih kecil. Tapi di saat yang sama tidak ada salahnya untuk melihat beberapa emiten korporasi yang mungkin tenornya agak panjang atau yieldnya lebih tinggi. Tapi lebih baik balance antara dua faktor tersebut,” jelas Fikri. 

Fikri memproyeksikan spread antara surat berharga negara (SBN) dengan obligasi korporasi peringkat AAA ke depan berkisar 40 sampai 80 basis poin (bps). 

“Dengan kondisi sekarang, kondisi global yang volatile, Indonesia juga risiko defisit fiskal nya tinggi, saya pikir kecenderungan secara keseluruhan akan ada sedikit peningkatan yield spread antar tenor atau antar rating,” ucap Fikri.

Baca Juga: PT SMI Terbitkan Obligasi Ritel Rp 150 Miliar, DBS Jadi Penjamin Emisi Utama

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×