kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.488.000   -16.000   -0,64%
  • USD/IDR 16.740   33,00   0,20%
  • IDX 8.748   101,19   1,17%
  • KOMPAS100 1.205   11,60   0,97%
  • LQ45 852   5,43   0,64%
  • ISSI 315   6,02   1,95%
  • IDX30 439   1,60   0,37%
  • IDXHIDIV20 511   1,24   0,24%
  • IDX80 134   1,29   0,97%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,22   0,15%

TPIA Resmi Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Cermati Rekomendasi Analis


Sabtu, 03 Januari 2026 / 10:20 WIB
TPIA Resmi Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Cermati Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. ExxonMobil menyediakan bahan bakar Mobil Diesel berkualitas tinggi (DOK/PT ExxonMobil Lubricants Indonesia.). PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) resmi menuntaskan akuisisi jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) resmi menuntaskan akuisisi jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura. 

Langkah ekspansi ini dinilai akan memperkuat prospek kinerja emiten Grup Barito tersebut, khususnya pada segmen bisnis hilir energi.

Penyelesaian transaksi dilakukan setelah seluruh persetujuan regulasi dan ketentuan penutupan transaksi terpenuhi. Akuisisi ini menjadi bagian dari strategi TPIA dalam membangun platform infrastruktur energi yang terintegrasi dan tangguh di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Chandra Asri Pacific (TPIA) Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Begini Pandangan Analis

Sebelumnya, pada 24 Oktober 2025, TPIA telah mengumumkan penandatanganan perjanjian jual beli untuk mengakuisisi jaringan SPBU ritel Esso di Singapura.

Aksi korporasi ini dilakukan melalui special purpose vehicle (SPV) di bawah anak usaha yang sepenuhnya dimiliki oleh Chandra Asri Group.

Akuisisi tersebut sejalan dengan strategi pertumbuhan jangka panjang TPIA yang berfokus pada pengembangan infrastruktur energi terintegrasi, khususnya untuk solusi energi dan mobilitas di Singapura dan kawasan regional.

 

Dalam operasionalnya, TPIA akan tetap menggunakan merek Esso serta membeli bahan bakar bermerek dari ExxonMobil. Seluruh program loyalitas pelanggan, termasuk poin dan kartu keanggotaan, tetap berlaku tanpa perubahan.

Selain itu, seluruh karyawan ExxonMobil yang selama ini menjalankan operasional bisnis SPBU tersebut akan tetap dipertahankan.

Baca Juga: Biayai Akuisisi SPBU Esso, Chandra Asri (TPIA) Dikabarkan Cari Pendanaan US$ 1 Miliar

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai akuisisi jaringan SPBU Esso akan mendukung pengembangan bisnis hilir TPIA dengan skema business to consumer (B2C) serta menghasilkan pendapatan berulang (recurring income).

Meski demikian, ia menilai kontribusi pendapatan dari bisnis SPBU belum akan menyamai lini utama TPIA seperti petrokimia. “Fungsi SPBU Esso pada tahun ini lebih untuk menyeimbangkan margin di tengah volatilitas harga petrokimia,” ujar Wafi, Jumat (2/1/2026).

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai akuisisi SPBU Esso belum tentu langsung mendorong pertumbuhan signifikan pada kinerja pendapatan maupun laba TPIA. 

Menurutnya, peningkatan kinerja tetap bergantung pada kemampuan perusahaan dalam meningkatkan volume penjualan secara keseluruhan.

“Bisnis SPBU Esso memiliki margin yang relatif tipis, namun ditopang oleh tingkat perputaran yang tinggi serta sifat pendapatan yang berulang,” jelas Nafan.

Dari sisi operasional, akuisisi ini diproyeksikan mengoptimalkan rantai pasok sekaligus memperkuat segmen hilir energi TPIA di Singapura yang dijalankan melalui Aster, perusahaan patungan TPIA dengan Glencore.

Ke depan, Wafi memperkirakan 2026 akan menjadi tahun yang positif bagi TPIA seiring konsolidasi berbagai aset yang diakuisisi sejak tahun lalu. Segmen refinery diperkirakan tetap menjadi kontributor pendapatan terbesar, sejalan dengan peningkatan kapasitas produksi.

Baca Juga: Chandra Asri Pacific (TPIA) Resmi Akuisisi SPBU Esso di Singapura

Namun, optimalisasi laba masih akan bergantung pada pemulihan spread margin bisnis kimia regional yang diperkirakan membaik seiring pulihnya permintaan dari China dan Asia Tenggara.

TPIA juga diperkirakan tetap agresif melakukan ekspansi, baik secara organik maupun anorganik, pada 2026.

Perusahaan masih membidik aset infrastruktur pendukung maupun energi terbarukan untuk melengkapi ekosistem bisnisnya. Tantangan utama yang perlu diantisipasi adalah risiko integrasi aset serta pengelolaan utang.

Atas dasar tersebut, Wafi tetap merekomendasikan beli saham TPIA dengan target harga Rp9.500 per saham. Meski valuasinya dinilai sudah relatif tinggi, saham TPIA masih menarik untuk strategi perdagangan jangka pendek. 

Selanjutnya: Rencana Karier 2026: Kunci Sukses Profesional Masa Depan

Menarik Dibaca: 6 Makanan yang Bikin Risiko Kanker Meningkat jika Dikonsumsi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×