Reporter: Dimas Andi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali aktif pada awal 2026. Kali ini, emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu tersebut berhasil menuntaskan akuisisi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) merek Esso yang dimiliki ExxonMobil di Singapura.
Transaksi ini telah diselesaikan setelah dipenuhinya seluruh persetujuan regulasi yang berlaku serta ketentuan penutupan transaksi ini. Penyelesaian transaksi ini merupakah langkah lanjutan dalam strategi TPIA untuk membangun platform infrastruktur energi yang terintegrasi dan tangguh.
"Perusahaan akan terus mengejar peluang pertumbuhan yang sejalan dengan tujuan bisnis jangka panjang serta penciptaan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan," tulis Manajemen TPIA dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (1/1).
Sebelumnya, pada 24 Oktober 2025 lalu, TPIA mengumumkan telah menandatangani Perjanjian Jual Beli (Sale and Purchase Agreement) untuk mengakuisisi jaringan stasiun pengisian bahan bakar ritel bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura.
Baca Juga: Bursa Asia Bervariasi di Awal Tahun 2026, Cek Reviewnya
Aksi korporasi ini dilakukan melalui sebuah special purpose vehicle di bawah anak usaha yang dimiliki sepenuhnya oleh Chandra Asri Grup.
Akuisisi jaringan ritel Esso oleh TPIA sejalan dengan strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan, yang berfokus pada pengembangan infrastruktur energi terintegrasi untuk pasar solusi energi dan mobilitas di Singapura dan Asia Tenggara.
Selain itu, TPIA akan tetap menggunakan merek Esso dan membeli bahan bakar bermerek dari ExxonMobil. Seluruh poin dan kartu loyalitas pelanggan akan tetap berlaku tanpa perubahan. TPIA juga akan mempertahankan seluruh karyawan ExxonMobil yang terlibat dan saat ini menjalankan operasional bisnis tersebut.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, akuisisi SPBU Esso merupakan langkah strategis dari TPIA lantaran akan mendukung bisnis hilir perusahaan dengan skema business to consument (B2C) sekaligus menghasilkan pendapatan berulang (recurring income).
Kendati demikian, Wafi menilai SPBU Esso belum akan menghasilkan kontribusi pendapatan yang menyamai lini bisnis utama TPIA seperti petrokimia. "Fungsi SPBU Esso pada tahun ini lebih untuk menyeimbangkan margin dari volatilitas harga petrokimia," ujar dia, Jumat (2/1).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, akuisisi SPBU Esso belum tentu secara langsung mendorong pertumbuhan signifikan pada kinerja top line maupun bottom line TPIA. Peningkatan kinerja tetap bergantung pada kemampuan TPIA dalam mendongkrak volume penjualan secara keseluruhan.
"Bisnis SPBU Esso memiliki karakter margin yang relatif tipis, namun diimbangi oleh turnover yang tinggi dan sifat pendapatan yang berulang," terang Nafan, Jumat (2/1).
Lagi pula, SPBU Esso tak hanya menjual bahan bakar saja, melainkan memiliki bisnis pendukung seperti toko serba ada (convenience store) dan layanan cuci kendaraan yang turut membantu menjaga stabilitas pendapatan harian.
Secara operasional, akuisisi SPBU Esso akan berdampak pada optimalisasi rantai pasok sekaligus memperkuat segmen hilir energi TPIA di Singapura yang dijalani oleh Aster, perusahaan patungan TPIA dengan Glencore.
Sementara itu, Wafi memperkirakan 2026 akan menjadi tahun yang positif bagi TPIA berkat konsolidasi seluruh aset yang diakuisisi sejak tahun lalu. Segmen bisnis refinery diyakini masih menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi TPIA seiring kenaikan kapasitas produksi.
"Namun, optimalisasi laba akan tergantung pada pemulihan spread margin bisnis kimia regional yang terlihat dapat membaik seiring pulihnya permintaan dari China dan Asia Tenggara," jelas dia.
TPIA juga kemungkinan masih akan agresif untuk ekspansi, baik secara organik maupun anorganik pada 2026. Dalam hal ini, TPIA masih akan mencari aset berupa infrastruktur pendukung atau energi terbarukan untuk melengkapi ekosistem bisnisnya. Dari situ, tantangan utama yang bakal dihadapi TPIA adalah risiko integrasi aset dan manajemen utang.
Wafi pun merekomendasikan beli saham TPIA dengan target harga di level Rp 9.500 per saham. Valuasi saham TPIA dinilai sudah cukup tinggi, sehingga saham emiten ini lebih cocok untuk trading.
Di lain pihak, Nafan menyarankan investor untuk wait and see saham TPIA.
Baca Juga: Menilik Potensi January Effect pada Awal Tahun 2026
Selanjutnya: Tarif Rp1 MRT Jakarta: Sukses Tarik 326 Ribu Penumpang Tahun Baru
Menarik Dibaca: Melanggar Aturan Dekorasi Rumah Justru Bikin Hunian Lebih Nyaman, Ini Alasannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













