Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Menurutnya, peningkatan kinerja tetap bergantung pada kemampuan perusahaan dalam meningkatkan volume penjualan secara keseluruhan.
“Bisnis SPBU Esso memiliki margin yang relatif tipis, namun ditopang oleh tingkat perputaran yang tinggi serta sifat pendapatan yang berulang,” jelas Nafan.
Dari sisi operasional, akuisisi ini diproyeksikan mengoptimalkan rantai pasok sekaligus memperkuat segmen hilir energi TPIA di Singapura yang dijalankan melalui Aster, perusahaan patungan TPIA dengan Glencore.
Ke depan, Wafi memperkirakan 2026 akan menjadi tahun yang positif bagi TPIA seiring konsolidasi berbagai aset yang diakuisisi sejak tahun lalu. Segmen refinery diperkirakan tetap menjadi kontributor pendapatan terbesar, sejalan dengan peningkatan kapasitas produksi.
Baca Juga: Chandra Asri Pacific (TPIA) Resmi Akuisisi SPBU Esso di Singapura
Namun, optimalisasi laba masih akan bergantung pada pemulihan spread margin bisnis kimia regional yang diperkirakan membaik seiring pulihnya permintaan dari China dan Asia Tenggara.
TPIA juga diperkirakan tetap agresif melakukan ekspansi, baik secara organik maupun anorganik, pada 2026.
Perusahaan masih membidik aset infrastruktur pendukung maupun energi terbarukan untuk melengkapi ekosistem bisnisnya. Tantangan utama yang perlu diantisipasi adalah risiko integrasi aset serta pengelolaan utang.
Atas dasar tersebut, Wafi tetap merekomendasikan beli saham TPIA dengan target harga Rp9.500 per saham. Meski valuasinya dinilai sudah relatif tinggi, saham TPIA masih menarik untuk strategi perdagangan jangka pendek.
Selanjutnya: Rencana Karier 2026: Kunci Sukses Profesional Masa Depan
Menarik Dibaca: 6 Makanan yang Bikin Risiko Kanker Meningkat jika Dikonsumsi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













