Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor Indonesia terhadap saham-saham bertema kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) melalui layanan tokenisasi aset mulai meningkat.
Data awal salah satu Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin OJK, Bittime, menunjukkan sekitar 96% dana baru pada layanan Tokenized US Stocks mengalir ke saham-saham AI, seperti Nvidia, Meta, dan Microsoft.
Sejalan dengan komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat inovasi teknologi sektor keuangan, Bittime, menunjukkan mayoritas dana investor Indonesia pada layanan Tokenized US Stocks mengalir ke saham-saham AI.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya menegaskan pengembangan tokenisasi aset menjadi salah satu fokus dalam Roadmap Inovasi Aset Keuangan Digital (IAKD) 2026–2031, bersama pengembangan stablecoin, keamanan siber, transaksi OTC, dan Single Investor Identifier (SID).
Baca Juga: Efek Domino Lonjakan Harga Minyak Dunia Mulai Menekan Laju Bitcoin
Menanggapi hal tersebut, Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan penguatan regulasi akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri aset keuangan digital di Indonesia.
"Komitmen OJK dalam penguatan IAKD, memberikan kepastian bagi pelaku industri untuk terus berinovasi. Kami melihat langkah ini akan mempercepat adopsi aset digital sekaligus memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap peluang investasi global melalui platform yang teregulasi," ujar Ryan dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).
Di tengah pergerakan pasar kripto yang masih cenderung stagnan, investor justru mulai mencari diversifikasi ke tokenisasi saham global.
Hal ini terlihat dari kondisi pasar aset kripto global masih bergerak cenderung stagnan.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Rabu (8/7) pukul 18.10 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$ 62.024, turun 1,69% dalam 24 jam terakhir, namun masih mencatat kenaikan 4,75% dalam sepekan.
Sementara itu, indeks Fear and Greed CoinMarketCap berada di level 27 atau fear, membaik dibandingkan pekan sebelumnya yang masih berada pada kategori extreme fear. Kondisi ini menunjukkan sebagian investor mulai mencari alternatif diversifikasi investasi yang memiliki eksposur terhadap tema pertumbuhan global, termasuk melalui tokenisasi saham.
Dalam 48 jam setelah peluncuran flexible staking Tokenized US Stocks, kepemilikan tokenized saham AS di Bittime melonjak 106%. Dari tambahan dana tersebut, sekitar 96% mengalir ke tokenized NVIDIA, Meta, dan Microsoft. Sementara minat terhadap Apple, Google, Tesla, dan Amazon relatif lebih datar.
Hampir 50% kepemilikan Tokenized US Stocks di Bittime juga langsung ditempatkan ke dalam fitur Earn untuk memperoleh reward hingga 7%, menunjukkan investor tidak hanya mencari eksposur ke saham global, tetapi juga peluang memperoleh imbal hasil dari aset digital.
Melihat antusiasme tersebut, Bittime kembali menghadirkan kampanye Tokenized US Stocks pada pekan ini. Berdasarkan perilaku pengguna pada kampanye sebelumnya, SpaceX Token (SPCXX) dipilih sebagai insentif utama, sementara pengguna tetap dapat menikmati fitur Earn dengan reward hingga 7%.
Baca Juga: Indosat (ISAT) Masuk di Tiga Indeks ESG KEHATI
Ryan mengatakan, tren tersebut menunjukkan investor Indonesia mulai lebih selektif dalam memilih sektor yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
"Minat yang tinggi terhadap saham-saham bertema AI menunjukkan investor Indonesia mulai berinvestasi berdasarkan tema pertumbuhan global. Tokenisasi aset membuat akses terhadap peluang investasi global menjadi lebih mudah, efisien, dan inklusif," ujar Ryan.
Sebagai salah satu PAKD, Bittime terus memperluas akses masyarakat terhadap investasi global melalui Tokenized US Stocks.
Sejalan dengan data OJK yang mencatat jumlah konsumen aset keuangan digital dan aset kripto telah mencapai 22,4 juta, data awal Bittime menunjukkan inovasi tokenisasi aset mulai mendapat respons positif dari investor Indonesia, khususnya untuk memperoleh eksposur pada perusahaan-perusahaan yang menjadi pemimpin perkembangan teknologi AI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














