Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 1% pada perdagangan sesi I, Rabu (8/7/2026).
Tekanan terhadap pasar saham domestik dipicu sentimen negatif setelah penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantau (watchlist) untuk potensi penurunan status pasar dari emerging market menjadi frontier market.
Baca Juga: Resmi Melantai di Bursa Hari Ini (8/7), BACH dan EMMI Catat Oversubscribe
Mengutip data RTI Business hingga pukul 12.00 WIB, IHSG terkoreksi 1,11% atau 66,35 poin ke level 5.920,15. Sebanyak 447 saham melemah, 197 saham menguat, dan 142 saham bergerak stagnan.
Volume perdagangan mencapai 12,2 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 5,2 triliun.
Mayoritas indeks sektoral berada di zona merah. Tiga sektor dengan pelemahan terdalam adalah IDX Basic (-2,15%), IDX Property (-2,05%), dan IDX Cyclicals (-1,72%).
Di jajaran saham LQ45, pelemahan terbesar dialami PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang turun 3,62% ke Rp 1.465, disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melemah 3,16% ke Rp 1.530, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang turun 3,15% ke Rp 615.
Di sisi lain, saham-saham yang mencatat penguatan di indeks LQ45 dipimpin oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang naik 3,31% ke Rp 935. Selanjutnya, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 2,70% ke Rp 1.330 dan PT United Tractors Tbk (UNTR) naik 1,67% ke Rp 24.400.
Baca Juga: Praktisi: Indonesia Masih Penuhi Kriteria MSCI untuk Status Emerging Markets
Sentimen negatif datang dari pernyataan S&P DJI yang dirilis pada Selasa (7/7) malam waktu setempat. Dalam keterangannya, S&P DJI memasukkan Indonesia dan Turki ke dalam watchlist untuk kemungkinan ditinjau dalam proses klasifikasi pasar pada 2027.
Sementara itu, Nigeria masuk dalam daftar pantau untuk kemungkinan naik status dari standalone market menjadi frontier market.
S&P DJI menyebut risiko penurunan status Indonesia berkaitan dengan isu transparansi pasar, sejalan dengan perhatian yang sebelumnya juga disampaikan oleh MSCI.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik mengatakan, BEI akan melakukan diskusi konstruktif dengan S&P Dow Jones Indices guna memahami berbagai aspek yang menjadi perhatian dalam proses evaluasi tersebut.
Baca Juga: Bach Multi (BACH) Targetkan Pendapatan Rp 3 Triliun pada Tahun 2030
"Kami akan berdiskusi secara konstruktif dengan S&P Dow Jones Indices untuk memahami isu-isu yang menjadi perhatian dalam proses evaluasi. Bersama OJK dan seluruh pemangku kepentingan, BEI akan terus melakukan berbagai upaya untuk menjawab berbagai perhatian yang ada," ujar Jeffrey.
Sebelumnya, MSCI pada bulan lalu menyebut reformasi yang dilakukan Indonesia merupakan "langkah ke arah yang benar".
Namun, MSCI menilai implementasi yang konsisten serta dampak jangka panjang dari reformasi tersebut masih perlu dibuktikan.
Spesialis ASEAN dari Aletheia Capital Angus Mackintosh menilai, hasil evaluasi MSCI pada November mendatang akan menjadi faktor yang jauh lebih penting.
Menurutnya, apabila Indonesia berhasil memenuhi persyaratan MSCI, kecil kemungkinan penyedia indeks global lainnya akan menurunkan status pasar Indonesia.
Baca Juga: NAB Reksadana Susut, HPAM Tetap Optimistis Prospek Investasi Jangka Panjang
"BEI dan OJK perlu menyelesaikan berbagai isu yang masih menjadi perhatian agar persoalan ini benar-benar tuntas. Penegakan hukum terhadap pelaku manipulasi saham juga akan menjadi langkah yang positif," ujarnya dilansir dari Reuters.
Selain isu klasifikasi pasar, sentimen terhadap aset Indonesia tahun ini juga dibayangi oleh penurunan outlook peringkat utang Indonesia oleh Moody's dan Fitch menjadi negatif akibat kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, kekhawatiran investor terhadap rencana belanja besar Presiden Prabowo Subianto turut menekan prospek investasi di Indonesia.
Sepanjang tahun berjalan, investor asing tercatat telah membukukan aksi jual bersih (net sell) lebih dari US$4 miliar di pasar saham domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














